Boo (Wanita lajang, 19 tahun)
yayayaXXXXX@yahoo.com
Tinggi badan 165 cm, berat badan 48 kg
Jawaban
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Terimakasih atas kepercayaannya kepada kami. Dari kondisimu di atas, sepertinya mengarah ke diagnosis hipotensi, lebih tepat atau spesifiknya adalah hipotensi postural (postural hypotension) atau hipotensi ortostatik (orthostatic hypotension).
Hipotensi postural atau hipotensi ortostatik adalah menurunnya tekanan darah karena perubahan posisi. Misalnya dari posisi duduk lalu berdiri, atau dari posisi berbaring lalu berdiri.
Pada kondisi normal, gravitasi menyebabkan darah mengalir ke kaki saat seseorang berdiri. Tubuh akan mengkompensasi dengan meningkatkan denyut jantung dan menyempitkan pembuluh-pembuluh darah. Dengan (cara) demikian, memastikan bahwa tersedia cukup darah yang kembali ke otak.
Namun pada penderita hipotensi (postural/ortostatik), mekanisme kompensasi ini tidak terjadi, sehingga tekanan darah menurun, memicu terjadinya beragam gejala seperti: pusing, sensasi jatuh, berputar, penglihatan kabur, dan bahkan pingsan (pada beberapa kasus).
Sumber
Secara umum, hipotensi dapat bersumberkan:
1. Jantung (cardiac), karena output yang rendah. Dapat dijumpai pada keadaan:
a. aritmia (ketidakteraturan ritme jantung), berupa: bradikardi (denyut jantung melambat), takikardi (denyut jantung bertambah cepat), fibrilasi.
b. penyakit struktural, misalnya: penyakit katub jantung, penyakit jantung iskemik, penyakit perikardial, tamponade jantung, penyakit kongenital, kardiomiopati obstruktif, kardiomiopati dilatasi, hipertensi paru-paru primer.
c. hipovolemia (penurunan volume darah), kondisinya berupa: perdarahan (hemorrhage), diare (mencret), dehidrasi (kekurangan cairan tubuh), orthostatic volume shifts, obat golongan diuretik.
2. Pembuluh darah (vascular). Dibagi lagi menjadi dua, yaitu:
a. vasodilatasi sistemik, dijumpai pada kondisi: sepsis, anafilaksis, neurogenik, disfungsi otonomik, obat-obatan.
b. obstruktif, dijumpai pada: emboli paru-paru.
Penyebab
Beberapa kondisi berikut ini dapat menjadi penyebab hipotensi:
1. problematika jantung, seperti: bradikardi, gangguan katub jantung, serangan jantung, dan gagal jantung.
2. problematika endokrin, seperti: hipotiroidisme, hipertiroidisme, insufisiensi adrenal (penyakit Addison), hipoglikemia (penurunan gula darah), beberapa kasus diabetes.
3. kehilangan darah, seperti: kecelakaan, perdarahan organ dalam.
4. infeksi berat (septikemia).
5. reaksi alergi berat (anaphylaxis) yang dapat dipicu oleh: makanan, obat-obat tertentu, bisa/racun serangga, latex.
6. kehamilan; terutama dalam 24 minggu pertama, tekanan sistolik menurun antara 5-10 mmHg dan tekanan diastolik menurun antara 10-15 mmHg. Hal ini normal saja. Tekanan darah akan kembali normal setelah melahirkan.
7. kekurangan nutrisi, seperti: vitamin B12, folat.
8. beberapa kondisi seperti: dehidrasi, demam, muntah, diare berat (dan berulang), olahraga berat.
Hipotensi dapat disebabkan oleh medikamentosa (obat) tertentu, misalnya:
1. golongan alfa bloker,
2. beta bloker,
3. diuretik,
4. antidepresan golongan trisiklik,
5. obat untuk penyakit Parkinson,
6. sildenafil (terutama bila dikombinasikan dengan nitroglycerine),
7. calcium channel blockers
8. angiotensin-converting enzyme (ACE) inhibitors
Solusi
Ada dua pendekatan yang dapat dan biasa dilakukan oleh tim medis, yaitu pendekatan farmakologis (pemberian obat) dan nonfarmakologis (perubahan perilaku atau gaya hidup).
Untuk pendekatan farmakologis, akan diberikan oleh dokter sesuai dengan kondisi penderita, apakah termasuk hipotensi ortostatik tipe hipoadrenergik (neurogenik) atau tipe hiperadrenergik.
Tujuan utama pemberian terapi adalah untuk meningkatkan kualitas kehidupan, mencegah terjadinya cedera lanjutan, menurunkan episode hipotensi ortostatik, mengurangi kerusakan organ target yang disebabkan oleh episode sinkop kronis dan dari hipertensi yang tak terkendali.
Terapi pilihan untuk penderita hipotensi ortostatik adalah golongan atau agen vasopressor untuk meningkatkan tekanan darah. Obat-obat yang boleh diberikan oleh dokter antara lain: fludrocortisone, midodrine, atau pyridostigmine.
Untuk pendekatan nonfarmakologis, ada beberapa cara untuk mengurangi episode hipotensi ortostatik. Misalnya:
1. mencegah terpapar lingkungan panas,
2. menghindari konsumsi makanan atau cairan (minuman) panas,
3. menghindari mandi dengan air panas/hangat di siang hari,
4. sering makan makanan kecil (mengemil) yang rendah karbohidrat dengan minuman berkafein (low in carbohydrates with caffeinated beverages),
5. meningkatkan intake (asupan) garam sekitar 10-20 g per hari,
6. membatasi aktivitas dini hari dan setelah makan,
7. memakai stockings ketat dan/atau “abdominal binder” sepanjang hari (saat aktivitas),
8. hindari mengejan saat berkemih,
9. meninggikan posisi kepala saat tidur,
10. minum air dengan cepat sebelum berdiri,
11. aktif bergerak atau beraktivitas saat berdiri,
12. hindari diam saja atau melamun saat berdiri,
13. memakai pakaian lembab atau basah saat cuaca panas,
14. meminum (minimal satu gelas) anggur sebelum tidur untuk efek vasodilator.
Demikian penjelasan ini, semoga memberikan solusi.
Salam sehat dan sukses selalu!
Dokter Dito Anurogo
Penulis 14 buku. Berkarya di Neuroscience department, Brain and Circulation Institute of Indonesia (BCII) Surya University, Indonesia.
(hrn/vit)











































