Sakit Otot yang Selalu Kambuh Setelah Obat Rematik Habis

Sakit Otot yang Selalu Kambuh Setelah Obat Rematik Habis

Suherni Sulaeman - detikHealth
Selasa, 25 Mar 2014 17:15 WIB
Sakit Otot yang Selalu Kambuh Setelah Obat Rematik Habis
Ilustrasi (Foto: Thinkstock)
Jakarta - Dok saya ingin tanya. Akhir-akhir ini saya merasa sakit pada otot dekat dengkul kaki saya untuk 2 kaki. Sudah pernah ke dokter dan mengikuti terapi dan dibilang hanya rematik biasa. Tapi masih nyeri sampai sekarang, sudah dikasih obat minum tapi setelah habis nyeri kembali. Kalau saya mau jongkok rasa sakit sekali. Mohon info ya. Terimakasih.

Vecky (Laki-laki menikah, 40 tahun)
wveckyXXXXX@yahoo.com
Tinggi badan 176 cm, berat badan 81 kg

Jawaban

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dear Vecky yang dimuliakan dalam kasih Allah,

Terimakasih atas kepercayaannya kepada kami. Dari informasi singkat di atas, kami mendapatkan petunjuk kunci, yakni nyeri lutut di kedua kaki.

Untuk menentukan dan memastikan diagnosis nyeri lutut, dokter tentunya akan menanyakan secara detail karakteristik nyeri itu. Misalnya: onsetnya (perlahan atau cepat), lokasi (di bagian anterior, medial, lateral, atau posterior lutut), durasi, tingkat keparahan, kuantitas, kualitas (sakitnya seperti ditusuk, disayat, dipukul, tertusuk jarum/duri, dsb). Beragam faktor yang memperberat dan meringankan nyeri lutut juga perlu diidentifikasi. “Kegiatan” ini di dalam dunia kedokteran disebut anamnesis.

Setelah itu, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik, diikuti pemeriksaan penunjang, bila diperlukan, sesuai indikasi.

Pada pemeriksaan fisik, dokter akan melakukan inspeksi dan palpasi. Yaitu kegiatan menilai, mengamati, dan mengobservasi secara teliti dan mendetail, tentang berbagai hal. Misalnya: keberadaan eritema, pembengkakan, perubahan warna, memar, lebam, dsb di kedua (lutut) kaki, melakukan penilaian patellofemoral, Quadriceps angle (Q angle), melaksanakan tes McMurray, Varus and valgus stress test, tes Lachman, dsb.

Pemeriksaan penunjang yang dapat direkomendasikan dokter, sesuai indikasi, antara lain: hitung darah lengkap, rata-rata sedimentasi eritrosit, arthrosentesis, pemeriksaan cairan sendi disertai hitung sel dengan pengukuran protein, glukosa, kultur bakteri, sensitivitas, dan mikroskop 'polarized light' untuk mengetahui keberadaan kristal. Bila diagnosis mengarah ke artritis rematoid, maka dokter akan menyarankan pemeriksaan serum ESR (erythrocyte sedimentation rate) dan faktor rematoid. Pemeriksaan pencitraan (imaging) dengan radiografi dapat dilakukan bila memang diperlukan, perlu memertimbangkan aturan Ottawa, dan sesuai indikasi adanya trauma lutut.

Setelah selesai dan mengetahui hasil dari pemeriksaan penunjang, maka dokter akan membuat diagnosis banding. Berikut ini beberapa diagnosis banding nyeri lutut:
1. sindrom nyeri patellofemoral (chondromalacia patellae) atau patellofemoral joint injuries
2. sindrom medial plica
3. bursitis (berupa: pes anserine bursitis, prepatellar bursitis, atau bursa berdekatan dengan ligament medial collateral)
4. trauma (cedera): ligamentous sprains (anterior cruciate, posterior cruciate, medial collateral, lateral collateral), meniscal tear, fraktur terbuka, cedera otot (muscle strains)
5. radang artropati (inflammatory arthropathy): rheumatoid arthritis, sindrom Reiter, pigmented villanodular synovitis
6. tendonitis (quadriceps, patellar tendon, dsb)
7. artritis septik
8. patah tulang akibat tekanan (stress fracture/stress reaction)
9. sindrom nyeri alih: bisa berupa neurogenik, kelainan dari pinggul, kaki, dsb.
10. efusi lutut (berupa synovial effusion, hemarthrosis)
11. meniscal tear
12. iliotibial band syndrome

Beberapa kemungkinan yang jarang (namun masih berpotensi terjadi):
13. faktur patella
14. fraktur femoral condyle
15. fraktur tibial plateau
16. dislokasi
17. infeksi

Pada penderita dewasa yang lebih tua, dapat juga kemungkinan terjadi:
18. osteoarthritis (OA)
19. crystal-induced inflammatory arthropathy: gout, pseudogout
20. kista popliteal (kista Baker)
21. penyebaran kanker (metastatic cancer)

Dari berbagai diagnosis banding di atas, jelaslah bahwa nyeri lutut belum tentu rematik.

Solusi secara klinis, dokter akan melakukan tindakan atau tatalaksana berdasarkan tipe atau jenis nyeri lututnya. Apakah traumatis atau nontraumatis, ekstrinsik atau intrinsik, periarticular atau articular, struktural atau peradangan.

Demikian penjelasan ini, semoga memberikan solusi.

Salam sehat dan sukses selalu!

Dokter Dito Anurogo
Penulis 14 buku. Berkarya di Neuroscience department, Brain and Circulation Institute of Indonesia (BCII) Surya University, Indonesia.

(hrn/vit)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads