Kedinginan di Ruangan AC Padahal Orang Lain Kepanasan, Normalkah?

Kedinginan di Ruangan AC Padahal Orang Lain Kepanasan, Normalkah?

Suherni Sulaeman - detikHealth
Selasa, 29 Apr 2014 11:18 WIB
Kedinginan di Ruangan AC Padahal Orang Lain Kepanasan, Normalkah?
Ilustrasi (Foto: Thinkstock)
Jakarta - Kondisi tubuh sering merasa kedinginan. Di ruangan AC, meski orang lain merasa panas, tapi saya merasa kedinginan. Apakah ini normal? Kalau tidak, bagaimana solusinya?

Ardian Gunawan (Laki-laki menikah, 61 tahun)
gunawan.XXXXX@yahoo.com
Tinggi badan 165 cm, berat badan 55 kg

Jawaban

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dear Bapak Ardian Gunawan, terimakasih atas kepercayaannya kepada kami. Langsung saja kita menuju ke pokok permasalahan.

Sering merasa kedinginan di ruangan ber-AC, sementara orang lain merasa panas, tidak selalu berarti sedang menderita penyakit tertentu. Di dalam produksi demam, tubuh memiliki termoregulator yang amat kompleks. Mari kita bahas secara singkat.

Perlu diketahui bahwa ada beberapa mediator kimiawi yang terlibat di dalam produksi panas, seperti: monoamin, acetyl choline, atau perubahan konsentrasi sodium dan kalsium.

Bukti-bukti riset terbaru menunjukkan bahwa tidaklah mungkin bagi prostaglandin untuk berperan secara langsung di dalam mekanisme ini, meskipun keterlibatan metabolites lainnya seperti asam arakidonat belum dapat dipungkiri keterlibatannya. Mungkin juga bahwa sintesis protein berperan di sebagian aksi sentral dari leukocyte pyrogen.

Demam sebenarnya merupakan mekanisme adaptif untuk mengendalikan infeksi. Fenomena ini diproduksi oleh rngsangan eksogen tertentu (sebagian besar mikroba) yang mengaktivasi bone-marrow-derived phagocytes untuk membebaskan suatu hormon fever-inducing (endogenous pyrogen). Endogenous pyrogen bersirkulasi menuju ke pusat termoregulator otak (preoptic area of the anterior hypothalamus) dimana hal ini menyebabkan peningkatan 'set-point' untuk temperatur tubuh yang normal.

Suhu tubuh relatif konstan. Temperatur inti diatur oleh beragam respon termoregulator seperti berkeringat, vasokonstriksi, menggigil, yang sebagian besar dikendalikan oleh hypothalamus. Di dalam hirarki struktur saraf yang mengatur berbagai respons termoregulator otonom, area preoptik dari hipotalamus anterior memegang peranan dominan.

Sebaliknya, hipotalamus posterior memediasi pertahanan perilaku (behavioral defenses). Neuron-neuron di kedua daerah mengendalikan suhu inti (sense core temperature) dan menyatukan informasi suhu di bagian tepi dan pusat (integrate central and peripheral thermal information).

Suhu setpoint ditetapkan oleh relative synaptic inputs to warm-sensitive, cold-sensitive, dan temperature-insensitive neurons. Demam adalah suatu peningkatan suhu setpoint di otak bagian preoptik. Pirogen endogen dan mediator demam lainnya menghambat preoptic warm-sensitive neurons yang secara normal memfasilitasi kehilangan panas dan menekan produksi panas.

Hal ini meningkatkan setpoint temperature untuk semua respon termoregulator dan mengaktivasi cold-defenses seperti vasokonstriksi (yang menurunkan kehilangan panas) dan menggigil (yang meningkatkan produksi panas metabolik).

Saat konsentrasi pirogen menurun, maka setpoint temperature kembali menuju normal, memicu vasodilatasi aktif dan berkeringat, yang meningkatkan kehilangan panas dari permukaan kulit.

Fase peningkatan demam seringkali dihubungkan dengan menggigil, yang dapat secara nyata meningkatkan denyut jantung (heart rate) dan cardiac output. Defervescence (dan hipertermia pasif) juga seringkali disertai oleh meningkatnya irama jantung (tachycardia) yang dihasilkan dari vasodilatasi prekapiler yang aktif. Dengan demikian, komplikasi kardiovaskuler umum dijumpai melalui mekanisme demam (febrile course) dan merupakan konsekuensi klinis utama dari demam.

Satu hal yang pasti adalah bahwa meningkatnya suhu tubuh (hipertermia) belum selalu berupa demam. Hal ini dikarenakan banyak sekali sindrom (kumpulan gejala) yang memicu peningkatan suhu tubuh. Oleh karena itu, memahami patofisiologi (proses perjalanan) demam dan pengaturan suhu tubuh amat penting di dalam memastikan diagnosis.

Demikian penjelasan ini, semoga memberikan pencerahan serta solusi.

Salam sehat dan sukses selalu!

Dokter Dito Anurogo
Penulis 14 buku. Berkarya di Neuroscience department, Brain and Circulation Institute of Indonesia (BCII) Surya University, Indonesia.

(hrn/vit)

Berita Terkait