Keluar Lendir dari Hidung dan Tenggorokan, Gejala Apa?

Keluar Lendir dari Hidung dan Tenggorokan, Gejala Apa?

Suherni Sulaeman - detikHealth
Rabu, 04 Jun 2014 11:15 WIB
Keluar Lendir dari Hidung dan Tenggorokan, Gejala Apa?
Ilustrasi (Foto: Thinkstock)
Jakarta - Assalamualaikum Dr. Dito, nama saya Moch Faisal. Saya ingin menanyakan tentang gejala lendir yang sering keluar dari hidung dan juga tenggorokan yang sudah berlangsung kira-kira 6 bulanan. Lendir tersebut berwarna bening, yang di hidung cair namun yang di tenggorokan berwujud agak kental.

Saya sudah berusaha mengobatinya dengan membeli obat pilek namun dalam selang waktu beberapa hari kambuh lagi. Saya sangat peduli dengan kesehatan saya, saya juga sangat rajin olahraga dan menjaga tubuh saya se-ideal dan sesehat mungkin. Karena keluar lendir yang tidak sembuh-sembuh tersebut mental saya turun ketika menjelang tes kesehatan sekolah kedinasan bulan depan. Mohon sarannya Dok. Terimakasih.

Faisal (Pria lajang, 19 tahun)
faisaldbt6XXXX@gmail.com
Tinggi badan 163 cm, berat badan 54 kg

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Jawaban

Dear saudara Faisal yang dimuliakan di dalam kasih Allah, terimakasih atas kepercayaannya kepada kami. Langsung saja kita menuju ke pokok permasalahan.

Lendir bening cair yang keluar dari hidung adalah salah satu potret klinis dari rhinitis. Rhinitis adalah peradangan (inflammation) selaput lendir atau mukosa hidung, ditandai dengan nasal congestion, lendir bening cair yang keluar dari hidung (rhinorrhea), bersin, rasa gatal di hidung dan/atau adanya lendir di tenggorokan (postnasal drainage).

Sebelum menuju ke terapi, maka dokter akan memastikan atau menegakkan diagnosisnya terlebih dahulu, melalui anamnesis (wawancara terstruktur dan komprehensif), pemeriksaan fisik, pemeriksaan penunjang, diagnosis banding.

Adapun beberapa diagnosis banding rhinitis antara lain:
I. Rinitis alergi
A. musiman (seasonal)
B. tahunan/menetap (perennial)
C. episodik
D. pekerjaan (occupational)

II. Rhinitis non-alergi
A. Infeksius (akut dan kronis atau menahun)
B. sindrom NARES (nonallergic rhinitis dengan eosinophilia syndrome)
C. Rhinitis vasomotor (perennial nonallergic rhinitis)
D. Sindrom rhinitis lainnya
1. Sindrom ciliary dyskinesia
2. Rhinitis atrofik
3. Diinduksi hormonal (hipotiroidisme, kehamilan, kontrasepsi oral, siklus haid)
4. Olahraga
5. Diinduksi obat (medikamentosa rhinitis, kontrasepsi oral, terapi antihipertensi, aspirin, obat anti-inflamasi non-steroid)
6. Diinduksi refleks (gustatory rhinitis, diinduksi iritan atau zat kimiawi, refleks posture, siklus nasal, faktor-faktor emosional)
7. Pekerjaan (occupational)

III. Beragam kondisi yang menyerupai gejala rhinitis
A. Faktor-faktor struktural/mekanikal
1. Septum deviasi/anomali dinding septum hidung
2. Hypertrophic turbinates
3. Hipertrofi adenoid
4. Benda asing
5. Tumor hidung (jinak/benigna, ganas/maligna)
6. Choanal atresia
B. Imunologis/peradangan
1. Wegener’s granulomatosis
2. Sarcoidosis
3. Midline granuloma
4. Systemic lupus erythematosus
5. Sjogren’s syndrome
6. Nasal polyposis
C. Cerebrospinal fluid rhinorrhea

Solusi
Tatalaksana rhinitis direkomendasikan dokter berdasarkan diagnosis penderita. Secara umum, dilakukan pengendalian faktor-faktor lingkungan penyebab rhinitis, terapi farmakologis (antihistamin, dekongestan oral-nasal, kortikosteroid nasal, kortikosteroid oral-parenteral , intranasal cromolyn, antikolinergik intranasal, agen anti-leukotriene oral), imunoterapi alergen, pembedahan, edukasi.

Demikian penjelasan ini, semoga memberikan solusi.

Salam sehat dan sukses selalu!

Dokter Dito Anurogo
Penulis 15 buku, berkarya di Comprehensive Herbal Medicine Institute (CHMI), Center for Robotic and Intelligent Machines (CRIM), serta Brain and Circulation Institute of Indonesia (BCII), Surya University, Indonesia.

(hrn/up)

Berita Terkait