Sudah Sebulan, Tapi Bercak di Tenggorokan Tak Juga Hilang

Sudah Sebulan, Tapi Bercak di Tenggorokan Tak Juga Hilang

Suherni Sulaeman - detikHealth
Kamis, 05 Jun 2014 15:15 WIB
Sudah Sebulan, Tapi Bercak di Tenggorokan Tak Juga Hilang
Ilustrasi (Foto: Thinkstock)
Jakarta - Dok, sudah sebulan lebih bercak di tenggorokan kok belum menghilang. Awalnya sudah periksa ke dokter THT di salah satu rumah sakit, diagnosanya radang tenggorokan atau faringitis, terus diberi obat amoxiclav 650 mg dan tremenza, tapi setelah 2 minggu dari obat habis sampai sekarang bercaknya belum hilang, cuma rasa tidak nyaman di tenggorokan berkurang, dan sekarang masih terasa ada terasa kurang enak di kanan kiri tenggorokan.

Emadcholil (Laki-laki menikah, 31 tahun)
patmo_rayXXXXX@yahoo.com
Tinggi badan 165 cm, berat badan 85 kg

Jawaban

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dear Bapak Emadcholil yang baik hati, terimakasih atas kepercayaannya kepada kami. Langsung saja, ya, kita membahas pokok problematika.

Studi epidemiologi menunjukkan bahwa lebih dari 50 persen kasus faringitis (pharyngitis) terdiagnosis di usia 5-24 tahun.

Penyebab
Penyebab faringitis dapat dibedakan menjadi penyebab infeksius (virus dan bakteri) serta penyebab non-infeksius.

Untuk virus, sekitar 25-45% kasus faringitis disebabkan oleh virus saluran pernafasan (respiratory viruses), misalnya: rhinovirus (12%-23%), coronavirus, adenovirus, respiratory syncytial virus, parainfluenza dan influenza A, influenza B. Virus lainnya yang juga dapat menyebabkan faringitis: coxsackievirus, enterovirus, herpes simplex virus, Epstein-Barr virus (EBV), cytomegalovirus, dan HIV.

Untuk bakteri penyebab faringitis, dibedakan menjadi tipikal dan atipikal. Bakteri tipikal, misalnya: Streptococcus group A (15-30%), Streptococcus groups C dan G, Haemophilus influenzae, Moraxella catarrhalis, Haemophilus (nontypeable), Arcanobacterium haemolyticum, Fusobacterium necrophorum, Neisseria gonorrhoeae, Corynebacterium diphtheriae. Bakteri atipikal, misalnya: Mycoplasma pneumoniae dan Chlamydia.

Adapun penyebab non-infeksius antara lain: iritasi terhadap zat/bahan kimia, paparan asap rokok, alergi, rinitis alergi, gastroesophageal reflux disease dan laryngopharyngeal reflux, postnasal drainage, keganasan (tumor, kanker, neoplasma) di kepala dan leher.

Strategi Terapi

Untuk strategi terapi faringitis (terutama faringitis akut), haruslah dilakukan berdasarkan etiologi (penyebab) pasti, faktor-faktor epidemiologi, tanda dan gejala, serta hasil tes/pemeriksaan laboratorium.

Secara umum, beristirahat, asupan cairan oral haruslah dilakukan penderita sebelum konsumsi obat. Obatgolongen analgesik dan antipiretik dapat digunakan untuk pereda nyeri (relief of pain) atau demam (pyrexia). Acetaminophen adalah obat pilihan utama (the drug of choice).

Anesthetic gargles dan lozenges, seperti: benzocaine, dapat diberikan dokter sebagai terapi simtomatis. Mondok di rumah sakit (hospitalization) untuk diinfus (intravenous hydration) adalah langkah terbaik bila ada keluhan hebat nyeri untuk menelan makanan/minuman (odynophagia).

Bila faringitis disebabkan karena virus, maka tidak perlu diberi antibiotik. Terapi simtomatis boleh diberi ibuprofen atau asetaminofen oral. Produk seperti antiseptik atau antibakterial lozenges (tablet hisap), sprays (obat semprot), obat kumur antibakteri (antibacterial mouthwashes/gargles) tidak direkomendasikan karena memicu resistensi (kebal obat).

Riset membuktikan bahwa lima hari terapi dengan celecoxib 200 mg sekali sehari sama efektifnya dengan pemberian diclofenac 75 mg dua kali sehari sebagai terapi simtomatis faringitis karena virus (viral pharyngitis). Tentu saja pemberian obat hanya boleh dilakukan oleh dokter. Hindari mengobati sendiri atau membeli obat tanpa resep dokter, mengingat efek sampingnya yang sangat membahayakan tubuh.

Bila faringitis disebabkan oleh bakteri Streptococcus grup A, maka dokter dapat meresepkan penicillin. Bila penderita faringitis alergi terhadap penicillin, maka dokter dapat merekomendasikan pemberian erythromycin atau clindamycin secara oral. Bila berulang atau kambuh lagi, maka dilakukan kultur pada penderita. Jika hasil kulturnya positif Streptococcus grup A, maka dokter akan meresepkan obat golongan beta-lactam atau beta-lactamase agent, amoxicillin-clavulanate, atau antibiotik non-beta−laktam seperti atau erythromycin (jika belum diberikan sebagai terapi lini pertama).

Jika penderita faringitis masih saja menunjukkan tanda dan gejala setelah 72 jam, padahal telah diberi terapi, maka dokter akan mempertimbangkan kemungkinan berikut ini:
1. terjadi komplikasi akut berupa abses peritonsil,
2. dibarengi infeksi virus,
3. terjadi compliance,
4. resisten (kebal) terhadap obat.

Faringitis ini mudah sekali dicegah, yaitu dengan kebiasaan mencuci tangan, tidak berbagi (botol minum, sikat gigi, sendok/garpu), tidak makan sepiring berdua meskipun dengan pasangan resmi.

Demikian penjelasan ini, semoga memberikan solusi.

Salam sehat dan sukses selalu!

Dokter Dito Anurogo
Penulis 15 buku, berkarya di Comprehensive Herbal Medicine Institute (CHMI), Center for Robotic and Intelligent Machines (CRIM), serta Brain and Circulation Institute of Indonesia (BCII), Surya University, Indonesia.

(hrn/up)

Berita Terkait