Intensitas Batuk Makin Parah Saat Posisi Telentang, Apa Solusinya?

Intensitas Batuk Makin Parah Saat Posisi Telentang, Apa Solusinya?

detikHealth
Kamis, 21 Agu 2014 13:19 WIB
Ditulis oleh:
Intensitas Batuk Makin Parah Saat Posisi Telentang, Apa Solusinya?
Ilustrasi (Foto: Thinkstock)
Jakarta - Selamat siang Dok, saya ingin berkonsultasi masalah batuk yang sedang saya alami akhir-akhir ini. Kenapa ya intensitas batuk saya lebih sering terjadi saat posisi tubuh saya tiduran atau rebahan, jadi seringnya batuk itu datang menjelang saya mau istirahat, mengganggu sekali Dok, selain itu dahak juga tidak mau keluar, padahal dulu-dulu tidak pernah seperti ini, apakah ini gejala paru-paru basah Dok? Lalu apa obatnya dan bagaimana solusi yang seharusnya saya lakukan? Terimakasih Dokter.

Mujianto (Pria lajang, 28 tahun)
mujianto2287XXXXX@gmail.com
Tinggi badan 165 cm, berat badan 53 kg

Jawaban

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dear saudara Mujianto yang dirahmati Allah SWT, terimakasih atas kepercayaannya kepada kami. Langsung saja menuju ke pokok persoalan, ya.

Di dalam kedokteran, paru-paru basah terkait erat dengan kondisi yang disebut pneumonia dan efusi pleura. Keluhan sistemik pneumonia termasuk: (mudah) lesu/letih dan demam tinggi. Gejala pneumonia antara lain: sesak napas, nyeri dada atau rasa tidak nyaman di dada, nyeri pleura, batuk berdahak, denyut jantung cepat, napas pendek atau napas cepat (terengah-engah). Pada kasus pneumonia lanjut, dapat dijumpai kebiruan (cyanosis) dan bingung. Penyebab pneumonia antara lain: virus, bakteri, jamur, parasit, dan idiopatik. Adapun efusi pleura diketahui dokter dari: penurunan suara napas, egophony, pleural friction rub, perkusi dullness.

Untuk pencegahan, pneumonia dapat dicegah dengan pemberian vaksin (terhadap Haemophilus influenzae dan Streptococcus pneumoniae), berhenti/stop merokok (baik pasif maupun pasif), higiene dan sanitasi lingkungan, mengurangi polusi udara, membiasakan cuci tangan, memakai masker bila bepergian, pemberian ASI eksklusif untuk anak kurang dari enam bulan, ibu hamil diperiksa kemungkinan infeksi Group B Streptococcus dan Chlamydia trachomatis.

Untuk terapi, pneumonia diatasi sesuai penyebabnya. Bila penyebabnya bakteri, maka dokter akan merekomendasikan antibiotik yang sesuai, misalnya: amoxicillin, doxycycline, atau golongan macrolides (azithromycin, erythromycin). Bila penyebabnya virus, maka dokter akan meresepkan obat dari golongan neuraminidase inhibitors atau antivirus yang sesuai. Misalnya: influenza A diterapi dengan rimantadine atau amantadine.

Pada kasus batuk, perlu diketahui berapa lama menderita batuk. Hal ini untuk memudahkan klinisi (dokter) di dalam menegakkan diagnosis dan memberikan terapi. Secara umum, batuk dibagi menjadi akut, subakut, dan kronis. Disebut akut bila batuk berlangsung selama kurang dari tiga minggu. Disebut subakut bila batuk berlangsung selama 3-8 minggu. Disebut kronis bila batuk berlangsung selama lebih dari delapan minggu.

Sebagai contoh, untuk kasus batuk akut yang disebabkan oleh infeksi saluran pernapasan bagian atas, dokter akan memberikan obat golongan antihistamin generasi pertama dan dekongestan oral.

Pada kasus batuk kronis yang disebabkan oleh bronkitis kronis, maka dokter akan merekomendasikan berhenti merokok, menghindari terpapar iritan (debu, asap, serbuk sari, dsb), memberikan obat golongan kortikosteroid dan bronkodilator.

Hal lain yang penting diperhatikan adalah pada kasus batuk ineffective, klinisi (dokter) haruslah mewaspadai dan memonitor untuk kemungkinan komplikasi, seperti: pneumonia, atelektasis, dan/atau kegagalan pernapasan.

Demikian penjelasan ini, semoga memberikan solusi.

Salam sehat dan sukses selalu!

Dito Anurogo
Penulis 15 buku, berkarya di Comprehensive Herbal Medicine Institute (CHMI), Center for Robotic and Intelligent Machines (CRIM), serta Brain and Circulation Institute of Indonesia (BCII), Surya University, Indonesia.

(hrn/up)

Berita Terkait