Andry Syarif (Pria lajang, 17 tahun)
andrymaulanaXXXXX@gmail.com
Tinggi 163 cm, berat 58 kg
Jawaban
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Solusi efektif mengatasi RA adalah pengendalian lingkungan (environmental control measures). Maksudnya adalah menghindari beragam faktor pemicu RA, misalnya: alergen, iritan, medikasi. Pemicu RA haruslah diidentifikasi sejak dini sebelum dilakukan intervensi medikamentosa. Riset membuktikan ada lima kategori mayor pemicu RA yang bersifat IgE dependent: tepung/serbuk sari (pollens), jamur (molds), tungau debu rumah (house dust mites), beragam alergen hewan, dan serangga.
Untuk kasus RA, dokter dapat merekomendasikan beragam terapi farmakologis, seperti: antihistamin (intranasal), dekongestan (oral, nasal), kortikosteroid (nasal, oral, atau parenteral), kromolin intranasal, antikolinergik intranasal, agen anti-leukotrien oral, imunoterapi alergen.
Saat ini, kortikosteroid intranasal (Beclomethasone, Budesonide, Ciclesonide, Flunisolide, Fluticasone furoate, Fluticasone propionate, Mometasone, Triamcinolone) adalah terapi yang paling efektif dan menjadi lini pertama di dalam mengatasi RA ringan hingga sedang.
Pada kasus RA sedang hingga berat yang tidak berespon terhadap kortikosteroid intranasal harus diberi terapi lini kedua, seperti: antihistamin, dekongestan, kromolin, antagonis reseptor leukotriene, dan terapi nonfarmakologis (misalnya irigasi nasal).
Penanganan RA yang tepat merupakan komponen penting di dalam manajemen kondisi pernapasan yang sering menyertai RA atau merupakan komplikasi dari RA, seperti: asma, sinusitis, atau otitis media kronis.
Adapun untuk keluhan sering mengantuk di siang hari, ada kemungkinan mengarah ke excessive daytime sleepiness (EDS). Penyebab EDS cukup banyak, antara lain: kurangnya waktu tidur, kelainan tidur primer, kelainan/gangguan medis dan neurologis (persarafan) yang mengganggu tidur atau menyebabkan tidur patologis. Terapi diberikan dokter sesuai penyakit yang mendasarinya. Bila rasa mengantuk tetap ada setelah penyakit yang mendasari diatasi, maka dokter akan memberikan obat stimulan.
Nah, salah satu klasifikasi EDS ini adalah sleep disordered breathing (SDB), dimana salah satu subtipe mayor dari SDB adalah OSA (obstructive sleep apnea). Standar baku diagnosis OSA menggunakan polisomnografi semalaman. Bila benar terbukti OSA, maka terapi konservatif OSA adalah penurunan berat badan dan menghindari obat-obat sedatif.
Demikian penjelasan ini, semoga memberikan solusi.
Salam sehat dan suskes selalu.
Dokter Dito Anurogo
Penulis 15 buku, bersertifikasi ANLS, ATLS, ACLS, Hiperkes, Batra.
Foto Balita, Nama : Reza Pandi Tatwa, Telp : 085723524242, Alamat : Kompleks DKI Blok B7/20 Pondok Kelapa Duren Sawit , Kota : Jakarta Timur, Email : rezatattwa@yahoo.com (hrn/vit)











































