Hidung yang Sering Mampet Saat Bangun Tidur

Hidung yang Sering Mampet Saat Bangun Tidur

detikHealth
Senin, 01 Des 2014 15:15 WIB
Ditulis oleh:
Hidung yang Sering Mampet Saat Bangun Tidur
Ilustrasi: Thinkstock
Jakarta - Dokter, saya sudah hampir 1 tahun daya penciuman saya sudah baal. Selain itu salah satu hidung sering mampet, terutama kalau bangun tidur. Apakah hal tersebut mempengaruhi kondisi kesehatan saya? Karena saya gampang lelah. Mohon solusi dan terimakasih.

Aga Tisman (Pria menikah, 47 tahun)
agatismanXXXXX@yahoo.com
Tinggi 160 cm, berat badan 51 kg

Jawaban

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Gangguan penciuman ada dua macam, yaitu anosmia dan hiposmia. Anosmia adalah hilangnya kepekaan atau rasa (sense) untuk membau, sedangkan hiposmia (hyposmia) adalah terganggunya/gangguan kepekaan atau rasa (sense) untuk membau. Baik anosmia maupun hiposmia bisa dikarenakan:
1. Ketidakmampuan aroma atau bebauan untuk mencapai reseptor-reseptor olfaktori (hipertrofi atau oedema mukosa nasal),
2. Destruksi sel-sel reseptor dan koneksi sentral mereka,
3. Lesi sentral termasuk neurodegenerasi.

Anosmia dan hiposmia dapat berlangsung temporer (sementara, sesaat) atau permanen (menetap). Penciuman (penghidu) cenderung memburuk secara alamiah seiring bertambahnya usia.

Bau atau aroma memasuki sinus-sinus hidung dimana mereka menstimulasi (merangsang) reseptor-reseptor pada sel-sel mukosa nasal. Sel-sel ini adalah neuron-neuron bipolar yang memiliki beragam proses-proses perifer dan sentral. Proses-proses perifer mengandung banyak silia, yang membawa reseptor-reseptor olfaktori. Proses-proses sentral unmyelinated memasuki ruang atau rongga kranial (kepala/tengkorak) melalui cribriform plate dari tulang ethmoid menuju sinaps dengan dendrit-dendrit dari sel-sel mitral di bulbus olfaktori. Akson-akson dari sel-sel mitral, di bulbus olfaktori, membentuk traktus olfaktori, dan berjalan di alur atau lekuk olfaktori dari cribriform plate di bawah lobus frontal dan di atas nervus optik dan kiasma. Beberapa dari sinaps akson-akson ini berada di dalam substansi 'anterior perforated' namun sebagian besar berlanjut menuju otak dan akhirnya berakhir di korteks olfaktori primer (di aspek anterior dari girus parahippocampal dan uncus lobus temporal) dan nuklei dari kompleks amygdaloid.

Beragam penyebab anosmia dan hiposmia berikut ini patut dipertimbangkan:
1. infeksi saluran pernapasan atas, seperti: rhinitis kronis, sinusitis (alergi, vasomotor, atau infektif)
2. kebiasaan merokok menyebabkan perubahan metaplastik di epitelium nasal
3. infeksi virus, misalnya: influenza, herpes simpleks (dapat menyebabkan destruksi permanen dari sel-sel reseptor)
4. obat-obatan (drug-induced olfactory dysfunction), contohnya: antibiotik, antihistamin, penisilamin. Disfungsi olfaktori juga terkait dengan penggunaan obat-obat beraksi sentral, seperti: amfetamin, antagonis dopamin, imipramin, meprobamate, morfin, fenotiazin)
5. trauma lokal menuju epitelium olfaktori
6. cedera kepala: serabut-serabut tak bermielin dari sel-sel reseptor rusak di sepanjang perjalanan (vulnerable course) melalui cribriform plate, terutama bila ada fraktur yang terkait. Jika dura robek ada cairan serebrospinal rinorea; ini dapat dibedakan dari sekresi mukosa oleh konsentrasi glukosanya yang lebih tinggi. Hal ini merupakan penyebab neurologis paling umum dari anosmia
7. tumor-tumor: meningioma dari dura di lekuk olfaktori dapat meluas ke posterior melibatkan nervus optik. Tumor yang jarang adalah glioma lobus frontal dan tumor-tumor pituitari. Tumor-tumor di meatus superior (karsinoma kistik adenoid, adenokarsinoma) menarik lapangan olfaktori sebelum menjadi tampak secara eksternal oleh perluasan akar nasal. Hiposmia atau anosmia dapat merupakan tanda awal pertumbuhan tumor. Diagnosis banding dapat membedakan suatu tumor dari hematoma septal postraumatik dan dari jaringan parut (scar tissue) yang terjadi setelah bedah septal korektif
8. aneurisma serebral anterior atau arteri 'anterior communicating'
9. peningkatan tekanan intrakranial: penghidu/penciuman dapat terganggu tanpa bukti adanya kerusakan di struktur olfaktori
10. abses (nanah) di lobus frontal
11. gangguan degeneratif seperti penyakit Alzheimer dan Parkinson sering terkait erat dengan anosmia
12. gangguan endokrin. Hiposmia atau anosmia terobservasi pada sindrom Cushing, hipotiroidisme, dan diabetes mellitus (kencing manis). Anosmia dijumpai secara kongenital pada sindrom Kallman (hipoplasi sistem olfaktori, disertai hypogonadotropic eunuchoidism) dan di anomali kromosom sindrom Turner (hipogonadisme primer)
13. operasi/pembedahan (laringektomi dan trakeostomi). Prosedur ini secara konsisten memicu terjadinya anosmia dengan mengalihkan udara pernapasan (respiratory air) menjauhi nasal passages
14. perubahan mukosa disebabkan oleh pemaparan agen eksogen. Sejumlah agen kimiawi dan farmakologis dapat merusak mukosa olfaktori, termasuk semua pernis dan solvent (benzene, trichloroethylene, dsb) dan semua substansi kaustik (asam asetat, asam nitrat, dsb). Beberapa dari substansi ini, terutama logam berat, dapat menyebabkan kerusakan reseptor-reseptor secara langsung. Cedera toksik dikenal sebagai efek asam kromat, cadmium, osmium tetroxide, dan zinc. Dengen beberapa agen (butylene glycol, benzoic acid, putrescent gases, senjata kimiawi), suatu kontak tunggal cukup. Inhalasi tunggal hidrogen selenide cukup untuk menyebabkan anosmia. Penggunaan lokal kokain, prokain, tetrakain, dan neomisin juga diketahui merusak mukosa olfaktori atau reseptor-reseptor
15. nasal polyposis. Polip nasal berdasarkan rhinitis kronis seringkali berlokasi di meatus tengah. Dijumpai hiposmia objektif.

Selain berbagai penyebab di atas, rhinosinusitis kronis juga bisa diwaspadai. Rhinosinusitis kronis dicirikan oleh inflamasi (peradangan) mukosa yang memengaruhi baik rongga hidung (nasal cavity) maupun sinus-sinus paranasal. Penegakan diagnosis rhinosinusitis kronis berdasarkan riwayat gejala (kongesti dan/atau hidung terasa penuh/mampat, obstruksi nasal, hambatan ( blockage), discharge, dan/atau purulence; discolored postnasal discharge; hyposmia/anosmia; nyeri wajah dan/atau tekanan) serta durasi lebih dari tiga bulan.

Hiposmia (serta obstruksi nasal dan nasal discharge) dapat dinilai dokter menggunakan University of Pennsylvania smell identification test (UPSIT) dan visual analogue scales (VAS).

Betamethasone sodium phosphate drops dapat direkomendasikan dokter untuk mengatasi rhinogenic hyposmia.

Demikian penjelasan ini, semoga memberikan solusi.

Salam sehat dan sukses selalu.

Dokter Dito Anurogo
Medical doctor at Indonesian Young Health Professionals' Society (IYHPS).

(hrn/vit)

Berita Terkait