Belakang dada terkadang juga sakit. Dua dokter menyebut saya kena GERD tapi saya ragu karena rasanya tidak separah GERD yang memiliki heartburn. Dok, saat ini saya sangat bingung dan cemas. Apa ada penyakit dalam yang saya alami? Kenapa tidak sembuh juga sudah 2 minggu berlalu? Mohon pencerahannya. Terimakasih.
Rosita Tan (Wanita 20 tahun)
rtan163XXXXX@gmail.com
Tinggi 165 cm, berat 50 kg
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ada beragam kemungkinan penyakit yang bercirikan nyeri dada, terlebih lagi disebutkan bahwa ada rasa sakit atau tidak nyaman baik di kanan maupun di kiri. Beragam kemungkinan diagnosis nyeri dada tersebut antara lain:
1. Gangguan jantung iskemik: stable angina, sindrom koroner akut, vasospasme koroner (Prinzmetal's angina), kardiomiopati hipertrofik, aortic stenosis.
2. Gangguan jantung non-iskemik: aritmia, diseksi aorta, penyakit katub mitral jantung, perikarditis, mitral valve prolapse.
3. Gangguan sistem pernapasan atau respirasi: pneumotoraks, pleuritis, efusi pleura, emboli paru-paru, pleurisy, hipertensi pulmoner, asma dan COPD. Kelainan di parenkim paru-paru: pneumonia, sarkoidosis, kanker.
4. Gangguan otot dan rangka (musculoskeletal): kostokondritis, sindrom Tietze, cedera, nyeri iga/tulang rusuk (termasuk patah tulang, penyebaran ke tulang, osteoporosis), nyeri radikuler, nyeri muskuloskeletal nonspesifik (misalnya: fibromialgia).
4. Penyakit payudara
5. Kelainan/gangguan lambung dan sistem pencernaan (gastrointestinal): GORD/GERD, ruptur esofagus, spasme esofagus, hipersensitivitas esofagus, adanya benda asing di esofagus, esofagitis, penyakit tukak lambung, kolesistitis, pankreatitis, gastritis.
6. Penyakit kulit: infeksi herpes zoster.
7. Gangguan psikologis/psikogenik/psikosomatis: cemas, depresi, gangguan panik.
8. Kondisi hiperadrenergik: kardiomiopati yang diinduksi stres, intoksikasi kokain, intoksikasi metamfetamin, pheochromocytoma.
9. Lainnya: krisis sel sabit, mononeuritis diabetik, tabes dorsalis.
Di antara beragam diagnosis banding nyeri dada di atas, yang umum dialami seseorang antara lain: sindrom koroner akut, stable angina, emboli pulmoner, pneumonia, pleuritis viral, GERD, kostokondritis, cemas, atau gangguan panik.
Gastroesophageal reflux disease (GERD) merupakan penyakit saluran pencernaan menahun yang terjadi jika asam lambung atau empedu naik atau membalik (refluks) ke kerongkongan. Sebenarnya, GERD dapat juga merupakan fenomena fisiologis normal yang dialami sebagian besar orang terutama setelah makan. Bila hal ini terjadi lebih dari 2x seminggu, atau mengganggu aktivitas harian Anda, maka dokter akan mendiagnosis GERD.
Beberapa orang sembuh sendiri, namun lebih banyak yang perlu obat, bahkan operasi (sesuai indikasi) untuk mengurangi gejala.Gejala klasik GERD termasuk nyeri dada seperti rasa terbakar (a burning retrosternal pain), membaliknya asam lambung (acid regurgitation), dan rasa asam atau pahit di mulut.
Lebih lengkapnya, berikut ini tanda dan gejala (manifestasi klinis) GERD. Bila ada salah satu saja, maka segeralah memeriksakan diri ke dokter.
Sensasi atau rasa terbakar/amat nyeri di dada (heartburn), terkadang menyebar ke kerongkongan, diiringi rasa asam atau kecut di mulut.Sekitar 7% populasi mengalami heartburn setiap hari.
Nyeri dada atau epigastrium yang menjalar ke atas, ke belakang, lalu ke leher. Membaliknya (regurgitation) cairan asam lambung atau makanan. Produksi ludah atau air liur berlebihan. Radang tenggorokan (laringitis). Rasa sakit di tenggorokan. Tenggorokan serasa tersumbat atau terganjal benda asing. Sakit untuk menelan (odinophagia). Sulit untuk menelan (dysphagia). Batuk atau batuk kering. Suara serak atau parau. Sesak nafas seperti asma.
Bila sudah disertai nafas pendek dan nyeri di lengan, segeralah pergi ke dokter atau RS terdekat, sebab ini merupakan gejala dini serangan jantung (heart attack) yang dapat menyebabkan kematian. Untuk lebih jelasnya, silakan berkonsultasi ke dokter keluarga terdekat.
Dokter akan melakukan anamnesis, pemeriksaan fisik, pemeriksaan penunjang (seperti: electrocardiography/EKG, rontgen dada sesuai indikasi), menegakkan diagnosis, memberikan penatalaksanaan yang sesuai, dan memberikan follow up atau edukasi.
Demikian penjelasan ini, semoga memberikan solusi.
Salam sehat dan sukses selalu.
dr. Dito Anurogo, medical doctor at Indonesian Young Health Professionals' Society (IYHPS).
(hrn/up)











































