Cuma tetap ada bila diraba tapi tidak sakit, kenapa? Apa yang harus saya lakukan? Sudah periksa ke enam dokter di Mojokerto karena domisili saya di Mojokerto. Obat yang sudah saya minum hampir semua jenis antasida. Terimakasih.
Eijung Yulianto (Pria lajang, 23 tahun)
stefanuslieseXXXXX@yahoo.co.id
Tinggi badan 168 cm, berat badan 50 kg
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
BAB berdarah berwarna merah segar di dalam dunia kedokteran disebut hematokezia. Umumnya berasal dari saluran pencernaan bagian bawah. Beberapa diagnosis yang mungkin dari hematokezia antara lain: penyakit perianal (di sekitar anus) seperti wasir dan fisura ani. Infeksi usus. Inflammatory Bowel Disease (IBD). Divertikulosis kolon dan/atau usus halus. Angiodisplasia. Neoplasia kolon dan/atau usus halus. Kolitis (baik iskemik maupun radiasi).
Penderita usia muda dengan nyeri perut, perdarahan rektum, diare berlendir bisa jadi menderita IBD. BAB berdarah berwarna hitam ter di dalam dunia kedokteran disebut melena. Umumnya berasal dari saluran pencernaan bagian atas, yaitu: jejunum proksimal, duodenum (usus dua belas jari), gaster (lambung), esofagus (kerongkongan). Beberapa diagnosis yang mungkin dari melena antara lain: ruptur varises esofagus, ulkus gaster, gastritis erosif, kanker, esofagitis, gastropati hipertensi portal, polip.
Melena yang disebabkan oleh gastritis erosif atau ruptur varises esofagus memerlukan pemeriksaan lanjutan untuk mengetahui penyebab pastinya. Pemeriksaan yang dilakukan dapat berupa:
- Aspirasi isi lambung dengan pipa nasogastrik untuk mengetahui lokasi perdarahan secara kasar. Hasil dapat negatif palsu apabila perdarahan sudah berhenti atau perdarahan bersumber di duodenum.
- Endoskopi saluran cerna atas, untuk memvisualisasikan lokasi perdarahan. Terutama dilakukan apabila terdapat kecurigaan adanya varises esofagus.
Perlu diperhatikan pula status hemodinamik untuk memerkirakan jumlah darah yang hilang, melalui ada tidaknya takikardi (denyut jantung cepat), hipotensi ortostatik (tekanan darah rendah akibat perubahan posisi), hipotensi, syok hipovolemik.
Pemeriksaan dubur (rektal, rektum) berupa colok dubur (rectal touche), dilakukan untuk membedakan antara hematokezia dan melena. Pemeriksaan endoskopi, colon in loop kontras ganda, rontgen OMD, USG hati dan/atau perut, CT scan perut, foto perut tiga posisi, anoskopi, kolonoskopi, proktosigmoidoskopi juga dapat direkomendasikan dokter sesuai indikasi, untuk menegakkan diagnosis.
Hematemesis melena ini harus segera diterapi, bila tidak dapat terjadi komplikasi berupa: anemia karena perdarahan, shock hipovolemik, gagal ginjal akut, aspirasi pneumonia, sindrom hepatorenal, koma hepatikum.
Bila sudah berkonsultasi ke dokter umum, namun belum membaik, maka dipersilakan untuk meminta rujukan ke dokter spesialis penyakit dalam.
Demikian penjelasan ini, semoga memberikan solusi.
Salam sehat dan sukses selalu.
dr. Dito Anurogo, bekerja di Indonesian Young Health Professionals' Society (IYHPS).
(hrn/vit)










































