Muncul Benjolan di Kepala Bagian Belakang, Penyakit Apa?

Muncul Benjolan di Kepala Bagian Belakang, Penyakit Apa?

detikHealth
Kamis, 09 Apr 2015 13:44 WIB
Ditulis oleh:
Muncul Benjolan di Kepala Bagian Belakang, Penyakit Apa?
Ilustrasi: Thinkstock
Jakarta - Sore Dok, saya mau bertanya, di kepala bagian belakang adik saya terdapat benjolan, ada yang besar dan kecil. Kadang kalau benjolan itu muncul, adik saya selalu pusing dan lemas, tapi kadang juga hilang benjolan tersebut.

Saya pernah berkonsultasi ke dokter, dokter tersebut menyebut kalau benjolan itu hanya karena alergi pada makanan tertentu sehingga menimbulkan timbunan lemak di bagian tersebut. Saya juga diberi obat antibiotik dan berbagai makanan yang dilarang konsumsi, tapi meskipun itu sudah dilakukan, benjolan tersebut tetap masih muncul, apalagi kalau sedang banyak pikiran.

Yang saya tanyakan itu kira-kira penyakit apa? Dan sebaiknya saya konsultasi ke dokter spesialis apa? Terimakasih.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Syera Ayu (Wanita, 22 tahun)
syeraveiro.crfcXXXXXX@gmail.com
Tinggi 160 cm, berat 52 kg

Jawaban

Mencermati penjelasan singkat di atas ada beberapa kemungkinan, seperti:  pembesaran kelenjar getah bening, kista atheroma, lipoma, higroma kistik, limfadenopati generalisata, kista branchial, aneurisma karotid, metastasis (penyebaran) dari karsinoma nasofaring atau infeksi, tumor, dsb.

Amatlah disayangkan, Anda belum menyebutkan usia adik. Khusus pada anak-anak, maka berbagai faktor kunci penegakan diagnosis benjolan pada leher adalah lokasinya, fisiknya secara alamiah, usia penderita, dan gejala yang sering dirasakan atau dikeluhkan.

Adapun beragam penyebab pembengkakan atau benjolan di kepala dan leher antara lain: kista, massa tiroid, massa vaskuler, massa kelenjar saliva, pembesaran/pembengkakan kelenjar limfe, kondisi infeksi atau peradangan, massa jinak/ganas.

Untuk memastikan diagnosis, dokter akan melakukan anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang. Untuk pemeriksaan penunjang, dilakukan sesuai indikasi, bisa berupa pemeriksaan laboratorium atau pencitraan/radiologi (seperti: CT scan atau MRI).

Kami belum dapat memastikan diagnosisnya mengingat kami belum melakukan ketiga hal tersebut. Saran saya, setelah obat itu habis dan keluhan masih ada, kembalilah ke dokter yang mengobati adik Anda. Bertanyalah tentang perlukah dirujuk ke dokter spesialis atau cukup diterapi dokter umum saja.

Demikian penjelasan ini, semoga memberikan solusi.

Salam sehat dan sukses selalu.

dr. Dito Anurogo, bekerja di Indonesian Young Health Professionals' Society (IYHPS). (hrn/vit)

Berita Terkait