Alami Pelecehan Seks Saat Kecil, Bagaimana Kondisi Selaput Dara?

Alami Pelecehan Seks Saat Kecil, Bagaimana Kondisi Selaput Dara?

detikHealth
Kamis, 01 Okt 2015 18:15 WIB
Dr. Andri Wanananda MS
Ditulis oleh:
Dr. Andri Wanananda MS
Anggota Ikatan Dokter Indonesia (IDI) dan Asosiasi Seksologi Indonesia (ASI) serta pengajar di Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara Jakarta.
Alami Pelecehan Seks Saat Kecil, Bagaimana Kondisi Selaput Dara?
Ilustrasi: Thinkstock
Jakarta - Saya mau bertanya, sewaktu saya umur 7 tahun saya pernah jadi korban pelecehan seksual oleh kakak tingkat saya yang jarak usianya 6 tahun di atas saya. Ini terjadi sampai usia saya 8 tahun. Waktu itu saya tak mengerti apa-apa Dok. Pertanyaan saya, apakah saya sudah dikatakan tidak perawan lagi Dok? Apakah hymen saya tidak kembali lagi ke bentuk semula setelah usia saya menginjak 24 tahun Dok? Terimakasih Dok.

L (Wanita, 23 tahun)
la.XXXXX@gmail.com
Tinggi 156 cm, berat 48 kg

Jawaban

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Diharapkan Anda tetap berpikir positif, kendatipun pelecehan seksual yang Anda alami pada usia 7 tahun. Pada komunitas modern, masalah keperawanan (virginity) sudah tidak jadi syarat utama pernikahan. Karena, terkoyaknya selaput dara (hymen) bisa terjadi karena kecelakaan di jalan (traffic accident), pada penunggang kuda, gerakan akrobatik, dan sebagainya.

Robeknya selaput dara ditandai oleh darah yang keluar sesudah hubungan intim. Tapi, bisa juga tidak ada darah yang keluar, bila selaput daranya kenyal.

Dengan penjelasan ini, Anda harus melenyapkan efek traumatis pelecehan seksual yang sudah lama berlalu ('let it go'). Bila Anda menganut paham tradisional, yang menganggap keperawanan adalah amat penting, Anda dapat memeriksakan kondisi selaput dara Anda di klinik kebidanan.

Kemungkinan selaput dara tetap utuh kerena hal itu terjadi pada usia 7 tahun. Di mana proses regenerasi (tumbuh kembali) jaringan tubuh yang terkoyak masih baik hingga hymen Anda tetap utuh.

Dr. Andri Wanananda MS
Anggota Ikatan Dokter Indonesia (IDI) dan Asosiasi Seksologi Indonesia (ASI) serta pengajar di Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanegara Jakarta

(hrn/vit)

Berita Terkait