Pengantin Baru Jarang Bercinta, Apakah Wajar?

Pengantin Baru Jarang Bercinta, Apakah Wajar?

detikHealth
Jumat, 15 Jan 2016 18:15 WIB
Dr. Andri Wanananda MS
Ditulis oleh:
Dr. Andri Wanananda MS
Anggota Ikatan Dokter Indonesia (IDI) dan Asosiasi Seksologi Indonesia (ASI) serta pengajar di Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara Jakarta.
Pengantin Baru Jarang Bercinta, Apakah Wajar?
Ilustrasi: Thinkstock
Jakarta - Salam kenal Dok. Saya baru nikah 4 bulan, tapi untuk masalah ML dengan istri tidak seperti kebanyakan pengantin baru Dok, yang ingin sering ML terus bahkan ada yang ML sehari bisa 4 kali. Tetapi kalau saya untuk ML paling seminggu 1 kali saja Dok itu pun tidak rutin. Apakah itu wajar Dok?

Sampai sekarang setiap ML dengan istri saya belum bisa penetrasi sampai ke dalam vagina, hanya bisa di luar vagina, namun begitu saja sudah keluar.

Penis saya tidak terlalu keras dan mungkin faktor ini juga yang menyebabkan saya sulit masuk lebih dalam ke vagina istri, apakah saya punya masalah dengan seks saya Dok? Terimakasih. Wassalam.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Agung (Pria, 32 tahun)
agung_XXXXX@yahoo.com
Tinggi 168 cm, berat 73 kg

Jawaban

Keluhan yang Anda kemukakan adalah hal yang biasa dialami oleh pasangan pengantin yang baru menikah. Anda baru menikah 4 bulan, relatif masih baru, hingga butuh 'latihan' dan adaptasi dengan proses hubungan seksual, yang diawali dengan foreplay. Yaitu, sentuhan, rabaan pada zona-zona erotik tubuh istri Anda secara manual atau oral. Hal ini akan merangsang lubrikasi (pelendiran) dan merekahnya vagina istri Anda. Barulah kemudian lakukan penetrasi penis Anda ke dalam vagina yang tidak lagi akan mengalami hambatan.

Kerasnya penis relatif, kelak bila Anda sudah terbiasa, adaptasi dengan proses ML dan handal dalam 'seni ML', penis akan keras dan tegang, serta Anda tidak tergesa-gesa melakukan penetrasi sebelum lubrikasi vagina istri optimal. Dengan menguasai cara foreplay, bisa pula diatasi ejakulasi dini (ED).

Dr. Andri Wanananda MS
Anggota Ikatan Dokter Indonesia (IDI) dan Asosiasi Seksologi Indonesia (ASI) serta pengajar di Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanegara Jakarta

(hrn/vit)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads