Ada Benjolan di Leher Kiri, Berbahaya atau Tidak?

Ada Benjolan di Leher Kiri, Berbahaya atau Tidak?

detikHealth
Senin, 25 Jan 2016 15:17 WIB
Ditulis oleh:
Ada Benjolan di Leher Kiri, Berbahaya atau Tidak?
Ilustrasi: Thinkstock
Jakarta - Saya punya benjolan di leher sebelah kiri dan sudah 2 bulan tidak kunjung kempes. Benjolan itu tidak sakit dan lunak. Apakah itu tanda penyakit berbahaya? Awalnya saya pegal-pegal di leher belakang. Saya takut ada penyakit yang berbahaya Dok, tolong dijawab, terimakasih.

Muhammad (Pria, 18 tahun)
mramadhan742XXXX@gmail.com
Tinggi 176 cm, berat 55 kg

Jawaban

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Secara umum, benjolan di leher itu dapat bersifat:
1. Kongenital (diwariskan/diturunkan)
2. Inflamasi (peradangan)
3. Neoplastik (keganasan)
Gangguan neoplastik lain yang bermanifestasi sebagai benjolan/massa di leher antara lain: lipoma, limfoma, dan paraganglioma.

Massa jaringan lunak di leher dapat mengindikasikan adanya lipoma, neuroma, sarkoma, dan hemangioma. Bantalan lemak (fat pads) mengindikasikan obesitas atau sindrom Cushing (Buffalo hump). Pembesaran tiroid menunjukkan kemungkinan ke arah multinodular goiter, hipertiroidisme, atau tiroiditis.

Sedangkan benjolan di leher sebelah kiri dapat disebabkan oleh berbagai hal, misalnya:
1. Pembengkakan pembuluh limfe (kelenjar getah bening) dapat disebabkan oleh bakteri (penyakit cat scratch, mikobakterium atipikal, tonsilitis, faringitis bakterial, abses peritonsil), virus (campak Jerman, infeksi herpes, penyakit HIV-AIDS, faringitis viral, mononukleosis infeksiosa), penyakit Hodgkin, kanker mulut, leukemia, penyakit-kanker tiroid, alergi (makanan, obat, dsb), atau reaksi alergi.

2. Pembengkakan kelenjar ludah dapat disebabkan oleh gondong (mumps), batu di duktus salivari, infeksi, dan tumor kelenjar ludah.

Untuk memastikan berbahaya atau tidak, benjolan di leher kiri memerlukan evaluasi lebih lanjut. Evaluasi lebih lanjut oleh dokter memerlukan anamnesis komprehensif dan pemeriksaan fisik. Pada kasus anomali kongenital, diperlukan CT dengan kontras, lalu dilanjutkan biopsi eksisi. Pada kondisi infeksi atau inflamasi, maka dokter akan memberikan antibiotik secara empiris. Pada kasus neoplasma, dokter akan menganjurkan CT scan dengan kontras dan biopsi aspirasi jarum halus (fine-needle aspiration biopsy).

Demikian penjelasan ini, semoga memberikan solusi.

Salam sehat dan sukses selalu.

Dito Anurogo, penulis 17 buku, sedang studi di S2 Ilmu Kedokteran Dasar dan Biomedis FK UGM Yogyakarta.

(hrn/vit)

Berita Terkait