Nyeri Dada Kiri yang Tak Kunjung Hilang

Nyeri Dada Kiri yang Tak Kunjung Hilang

detikHealth
Kamis, 17 Mar 2016 11:47 WIB
Ditulis oleh:
Nyeri Dada Kiri yang Tak Kunjung Hilang
Ilustrasi: Thinkstock
Jakarta - Maaf saya ingin menanyakan, saya sudah merasa nyeri dada kiri hampir 3 minggu, dan 2 minggu yang lalu saya sudah periksa ke dokter dan EKG, hasilnya jantung saya normal, dan kata dokter tersebut dari maag dan pencernaanya.

Saya sudah sempat minum obatnya Dok, dan memang sudah terasa tidak nyeri lambung, tapi ini terasa tidak enak di dada kiri yang tidak hilang dan kadang muncul, kadang-kadang tidak dan diikuti nyeri punggung yang berpindah-pindah.

Apakah ini masuk angin biasa Dok? Dan bukan gejala jantung koroner kan? Mohon pencerahaannya, terimakasih.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Fawzy (Pria, 23 tahun)
fawzymXXXXXXX@gmail.com
Tinggi 179 cm, berat 80 kg

Jawaban

Beberapa kemungkinan diagnosis dengan keluhan utama nyeri dada:
1. Sindrom koroner akut
2. Angina stabil
3. Emboli paru-paru
4. Pneumonia
5. Pleuritis akibat virus
6. Gastroesophageal reflux disease (GERD)
7. Kostokondritis
8. Kondisi/gangguan psikiatris (cemas, panik)
9. Kondisi/gangguan muskuloskeletal
10. Kondisi/gangguan gastrointestinal (lambung dan saluran pencernaan)
11. Penyakit paru-paru
12. Penyakit arteri koroner stabil

Nyeri dada memang bisa merupakan manifestasi dari gangguan lambung dan/atau saluran pencernaan. Bisa pula akibat gangguan kejiwaan, berupa cemas atau panik.

Yang terpenting, berpola hidup sehat, seimbang, serasi, dan selaras baik jasmani maupun rohani adalah kunci kesehatan yang utama. Tentunya diiringi dengan mindset positif, hati yang penuh cinta kasih, tetap menjaga kebugaran fisik, meluangkan waktu untuk humor, rekreasi, untuk sekadar melepas lelah.

Alangkah bijaksana bila saudara Fawzy segera berkonsultasi, memeriksakan diri ke dokter. Dokter akan melakukan anamnesis (bertanya secara lengkap dan detail), pemeriksaan fisik, pemeriksaan penunjang (laboratorium, EKG, atau pencitraan seperti: rontgen dada sesuai indikasi), diagnosis banding, penegakan diagnosis, pemberian tatalaksana atau terapi, pemberian edukasi dan follow up.

Inilah the art of medicine, yakni seni di dalam mengobati dan 'menyembuhkan' penderita. Jadi memang bukan sekadar saya sakit X obatnya Y. Ada pelbagai pertimbangan dokter sebelum memutuskan untuk memberikan terapi.

Demikian penjelasan ini, semoga memberikan solusi.

Salam sehat dan sukses selalu.

Dito Anurogo, penulis 17 buku, sedang studi di S2 Ilmu Kedokteran Dasar dan Biomedis FK UGM Yogyakarta.

(hrn/up)

Berita Terkait