Kemudian ada satu laki-laki lagi itu disuruh menikah oleh orang tuanya untuk menikah dengan saya. Sama halnya dengan laki-laki yang lain. Saya merasa takut untuk memilih.
Kebetulan riwayat saya, jarang berkomunikasi dengan lawan jenis, karena trauma dengan pacaran yang pernah saya jalani karena diputuskan. Bagaimana sikap yang harus saya lakukan dalam menentukan pilihan tersebut?
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
dawi.icsXXXXXXX@gmail.com
Tinggi 150 cm, berat 51 kg
Jawaban
Halo Mbak Dawi,
Wah, saya membayangkan Mbak Dawi adalah seorang perempuan yang menarik ya sampai ada 4 orang laki-laki melamar. Pantas saja kalau kebingungan.
Memutuskan atau diputuskan merupakan hal yang biasa di dalam sebuah hubungan. Dari cerita Mbak Dawi, saya belum mendapatkan gambaran apa yang membuat hal tersebut menjadi suatu pengalaman traumatis bagi Mbak Dawi. Misalnya nih, karena Mbak Dawi merasa diri Mbak Dawi menarik dan banyak pria yang naksir, kok bisa-bisanya ada pria yang mutusin Mbak Dawi, sehingga yang terluka adalah ego Mbak Dawi. Atau bisa juga ada hal lain yang masih mengganjal mengenai alasan pria tersebut memutuskan Mbak Dawi secara sepihak, sehingga sampai saat ini Mbak Dawi masih ketakutan untuk merasa sakit hati lagi.
Ada banyak sekali kemungkinan yang terjadi yang dapat menimbulkan pemutusan hubungan memiliki efek traumatis. Sebelum Mbak Dawi memikirkan tentang siapa yang Mbak Dawi pilih nantinya, sebaiknya Mbak Dawi melakukan refleksi dan memulihkan terlebih dahulu trauma tersebut, karena hal tersebut bisa berpengaruh terhadap relasi Mbak Dawi dengan siapapun pria yang Mbak Dawi pilih nantinya.
Punya hubungan yang diliputi banyak kecemasan bukan sebuah awal yang baik untuk menjalin hubungan lho, karena kecemasan bisa membuat kita jadi tidak bisa berpikir jernih dan akhirnya membuat keputusan yang mungkin bisa kita sesali nantinya.
Ketakutan menjalin hubungan baru setelah mengalami pengalaman traumatis memang wajar. Namun, tidak ada hubungan yang sempurna dan bebas dari rasa sakit. Yang bisa menyakiti bukan hanya pasangan, tetapi kita juga punya potensi untuk melukai pasangan. Hubungan yang sehat dan bahagia pun, bukan berarti tidak pernah merasakan sakit atau konflik lho.
Tapi, hubungan yang sehat tahu bagaimana mengelola rasa sakit dan konflik tersebut menjadi hal yang membuat hubungan menjadi kuat dan mendewasakan. Tentu saja untuk memiliki hubungan yang sehat dan bahagia, seseorang membutuhkan keberanian untuk menjalani hubungannya dulu. Jadi, selamat mengumpulkan keberanian untuk jatuh cinta lagi ya!
Wulan Ayu Ramadhani, M. Psi
Psikolog Perkawinan dan Keluarga di Klinik Rumah Hati
Jl. Muhasyim VII no. 41, Cilandak, Jakarta Selatan
Twitter: @wulanayur dan @twitpranikah
http://pranikah.org/ (hrn/vit)











































