Kamis, 23 Jun 2016 15:09 WIB

Lelah Jadi 'Single Parent' karena Tinggal Berjauhan dengan Suami

Foto: Thinkstock
Jakarta - Selamat sore Mbak Wulan, suami saya sedang studi ke luar negeri selama dua tahun. Sudah empat bulan berjalan saya ditinggal sendiri mengurus dua anak kami yang masih balita. Banyak pertimbangan saya untuk memutuskan untuk tidak ikut bersama suami saya, salah satunya lingkungan di sana kurang kondusif untuk perkembangan anak-anak kami.

Seiring waktu berjalan saya merasa anak-anak saya jadi tidak dekat dengan ayahnya walaupun hampir tiap hari kami berkomunikasi. Di sisi lain, saya juga merasa sendirian mengurus anak dan rumah tangga. Saya kadang ragu apa keputusan saya benar untuk tetap di sini, apa saya bisa untuk menangani semuanya tanpa suami saya. Karib kerabat saya tinggal jauh di luar kota tempat kami tinggal, sehingga saya sulit meminta bantuan. Mohon saran dan nasihatnya Mbak. Terimakasih.

Asrini (Wanita, 30 tahun)
asrini_j_XXXXXX@yahoo.com
Tinggi 158 cm, berat 55 kg

Jawaban

Dear Mbak Asrini,

Saya apresiasi atas keputusan dan keberanian Mbak Asrini yang sudah menjalani peran ini selama 4 (empat) bulan, karena tidak semua orang berani mengambil keputusan tersebut. Sebagaimana layaknya pilihan, tentu saja ada konsekuensi dari pilihannya, salah satunya adalah Mbak Asrini dan suami menjalani long distance marriage (LDM).

Saya kurang paham dengan 'lingkungan kurang kondusif untuk perkembangan anak', sehingga saya tidak akan memberikan pertimbangan dari sisi anak, karena saya yakin apapun keputusan yang waktu itu sudah dibuat, merupakan keputusan terbaik yang Mbak Asrini dan pasangan buat untuk perkembangan anak-anak.

Beradaptasi menjadi 'ibu tunggal' memang tidak mudah, dan ada masanya Mbak Asrini merasa lelah dan tidak sanggup untuk menjalaninya. Namun, jika Mbak Asrini bertanya kepada ibu-ibu lainnya dengan 2 anak balita, perasaan tersebut merupakan hal yang wajar untuk dirasakan, meskipun mereka memiliki suami yang tinggal di dalam satu rumah.

Saya bisa memahami kekhawatiran Mbak Asrini mengenai hubungan ayah dan anak-anak yang 'seakan' menjadi tidak dekat dengan ayahnya. Pertanyaan saya, bagaimana dengan hubungan Mbak Asrini dengan ayahnya anak-anak? Ada perasaan serupa yang munculkah? Karena relasi anak-anak dengan orang tua, bisa jadi merupakan cerminan relasi antara ayah dan ibu.

Perasaan kelelahan, tidak sanggup, jauh dari keluarga juga bisa dirasakan oleh suami Mbak Asrini, lho. Sehingga, suami juga tentunya membutuhkan dukungan emosional, sama seperti Mbak Asrini membutuhkannya. Saat berkomunikasi, ingat bahwa selain seorang ayah ia juga adalah seorang suami, sebagaimana Mbak Asrini selain seorang ibu juga adalah seorang istri.

Jadi, selain berbicara dan membicarakan tentang anak-anak, diskusikan juga hal-hal apa saja yang bisa dilakukan untuk saling mendukung secara emosional yang dapat meningkatkan kualitas hubungan sebagai suami istri. Bahkan, jika memungkinkan, phone sex juga bisa jadi salah satu alternatif hal yang bisa dilakukan lho.

Wulan Ayu Ramadhani, M. Psi
Psikolog Perkawinan dan Keluarga di Klinik Rumah Hati
Jl. Muhasyim VII no. 41, Cilandak, Jakarta Selatan
Twitter: @wulanayur dan @twitpranikah
http://pranikah.org/ (hrn/vit)