Senin, 27 Jun 2016 16:46 WIB

Cara Menghilangkan Sakit Hati pada Suami

Foto: thinkstock
Jakarta - Saya bertengkar dengan suami, dia mengucapkan kata-kata yang sangat menyakitkan dan merendahkan harga diri saya. Bagaimana supaya saya bisa memaafkan walaupun dia tidak minta maaf karena demi anak saya masih bertahan.

Asiyah (Wanita, 35 tahun)
asiyah_XXXXXXX@yahoo.com
Tinggi 160 cm, berat 95 kg

Jawaban

Dear Ibu Asiyah,

Tidak ada cara yang mudah untuk memaafkan ketika kita sudah merasa disakiti dan direndahkan. Langkah untuk memaafkan biasanya adalah memahami, menerima keadaan, baru memaafkan. Setiap orang memiliki prosesnya masing-masing, bergantung kepada kompleksitas masalah, durasi, frekuensi, kepribadian, pola mengelola konflik, dsb. Tentu saja semakin lama durasi dan semakin besar intensitasnya, luka yang dialami juga semakin besar dan membutuhkan proses yang lebih panjang.

Pasangan menyakiti dan merendahkan bisa terjadi karena banyak faktor, seperti ketidakpercayaan diri sehingga perlu merasa hebat dengan merendahkan orang lain, kesulitan dalam mengelola emosi, ketidakmampuan untuk mengkomunikasikan perasaan/permasalahan dalam mengelola konflik, sampai dengan masalah yang berat seperti potensi adanya Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) yang masing-masing memiliki cara penanganan yang berbeda.

Salah satu indikator hubungan perkawinan yang sehat adalah adanya perasaan saling menghargai dan menghormati satu sama lain, meskipun pada saat itu sedang mengalami konflik yang berat dalam hubungan perkawinannya. Tentu saja perasaan saling menghargai dan menghormati disini tidak termasuk mendiamkan begitu saja ketika salah satu pihak ada yang merasa direndahkan atau disakiti.

Dengan memaafkan tetapi tetap membiarkan pasangan tetap membuat ibu merasa direndahkan dan disakiti, lama-kelamaan, tanpa ibu sadari ibu mengijinkan pasangan untuk memperlakukan ibu dengan buruk. Pada banyak kasus, kebanyakan orang lama-lama akan mempercayai bahwa dirinya memang layak untuk diperlakukan dengan buruk dan kehilangan kepercayaan dirinya sendiri. Apalagi jika ini sudah terjadi dalam jangka waktu yang cukup panjang. Apakah menurut ibu hubungan tersebut adalah hubungan yang sehat untuk tetap dibiarkan?

Bertahan demi anak-anak biasa menjadi alasan untuk bertahan dalam hubungan yang tidak sehat. Anak-anak membutuhkan lingkungan yang aman dan sehat untuk bisa berkembang dengan sehat pula. Salah satu bekal anak dalam berinteraksi dengan lingkungannya untuk tumbu dan berkembang adalah relasi di dalam keluarga, baik anatara orangtua dan anak, maupun interaksi antara ayah dan ibu. Menurut ibu, bagaimana dampaknya terhadap anak-anak jika ia tumbuh dan berkembang dalam relasi dimana ayah mereka menyakiti dan merendahkan ibunya?

Jika Ibu ingin bertahan demi anak-anak, hal pertama yang perlu Ibu dan pasangan lakukan adalah memperbaiki cara Ibu dan pasangan dalam mengelola konflik, karena relasi ibu dan pasangan juga dapat berpengaruh terhadap perkembangan anak.

Sebaiknya Ibu bicarakan dulu dengan keluarga pasangan untuk lebih memahami situasi yang ada. Jika memang ternyata masalahnya cukup kompleks, Ibu bisa konsultasikan dengan profesional terdekat untuk membicarakan alternatif-alternatif pilihan yang bisa dilakukan dalam situasi tersebut, serta konsekuensi yang menyertainya.

Wulan Ayu Ramadhani, M. Psi
Psikolog Perkawinan dan Keluarga di Klinik Rumah Hati
Jl. Muhasyim VII no. 41, Cilandak, Jakarta Selatan
Twitter: @wulanayur dan @twitpranikah
http://pranikah.org/ (hrn/vit)