Selasa, 28 Jun 2016 16:17 WIB

Terjebak Cinta dengan Pria Beristri

Foto: admin
Jakarta - Saya memiliki hubungan dengan seorang pria beristri, kami berencana akan menikah. Bagaimana sebaiknya karena saya sudah telanjur mencintainya dengan konsekuensi saya yang akan merawat anak-anak dari istri pertama setelah mereka berpisah nanti. Terimakasih.

Angle (Wanita, 22 tahun)
gegazzzXXXXX@yahoo.com
Tinggi 165 cm, berat 54 kg

Jawaban

Dear Angle,

Jatuh cinta memang perasaan yang menyenangkan dan terkadang kita tidak bisa memilih siapa yang ingin kita cintai. Berdasarkan kasus yang pernah saya tangani, pria yang sudah menikah memang terlihat lebih menarik, lebih settle, lebih dewasa dan kualitas lainnya yang membuat perempuan lajang tertarik.

Jika ingin dilanjutkan ke jenjang pernikahan, hubungan seperti ini sepertinya masih belum cukup matang, meskipun Angle sudah merasa berpacaran dan saling mengenal. Hubungan yang saat ini Angle jalani adalah Angle dengan pria beristri, sehingga yang saya bayangkan tidak banyak orang yang mengetahui hubungan kalian, baik itu teman-teman Angle maupun teman pasangan.

Mengenal seseorang saat menjalin hubungan secara terbuka dengan sembunyi-sembunyi bisa jadi berbeda lho. Dengan hubungan yang terbuka, kita bisa mengenal pasangan dari berbagai macam sumber, seperti bagaimana hubungan ia dengan mantan istri dan anak-anaknya, bagaimana dia di tengah teman-teman, dengan keluarga besar. Hal-hal yang bisa menjadi informasi tambahan untuk mengenal pasangan yang bisa jadi kurang terpenuhi jika hubungan dilakukan secara sembunyi-sembunyi.

Hubungan pacaran berbeda dengan hubungan ketika nanti Angle sudah menikah. Apalagi ketika menikah Angle mendapat paket pasangan beserta kedua anaknya. Ketika menikah, kita bukan hanya punya kedekatan lebih, namun memiliki harapan lebih tinggi dan belajar berkomitmen terhadap hubungan.

Harapan yang lebih tinggi membuat kita menjadi mudah untuk kecewa. Pada saat seperti ini, hanya komitmen yang dapat membantu hubungan kita dan pasangan menjadi lebih baik. Dengan hubungan yang dilandasi ketidaksetiaan pasangan terhadap istrinya, sejauh mana Angle yakin akan komitmen pasangan dengan Angle nantinya?

Menikah dengan pria yang sudah memiliki anak membutuhkan persiapan yang jauh lebih matang. Ada baiknya Angle dan pasangan menjaga jarak dulu untuk sementara waktu sampai pasangan menyelesaikan urusan perceraiannya. Jika perceraian memang hal yang ingin dilakukan, pastikan bahwa perceraian merupakan jalan terbaik dalam perkawinan mereka, bukan karena Angle.

Jika ia bercerai karena merasa Angle adalah orang yang lebih baik dibandingkan pasangannya, ada beberapa potensi masalah yang cukup besar nantinya. Beberapa di antaranya adalah bukan tidak mungkin jika dalam hubungannya dengan Angle nanti menghadapi permasalahan, ia akan meninggalkan Angle dengan alasan yang sama ia meninggalkan istrinya saat ini. Kedua, bagaimana persepsi anak-anak jika menganggap bahwa Angle adalah penyebab dari perceraian orang tuanya, sementara Angle diminta untuk menjalankan peran sebagai ibu bagi mereka.

Cobalah menyepi dulu untuk memikirkan dalam-dalam tentang hubungan ini. Apakah memang Angle ingin menikah dengan orang yang seperti dia? Apakah hubungan seperti yang saat ini dijalani adalah yang Angle inginkan? Apakah Angle memang mencintai dia, atau karena Angle merasa kesepian? Apakah Angle bisa menerima, bahwa dengan menjalani hubungan ini, bisa jadi Angle sudah menyakiti hati seorang istri? Apakah komunikasi Angle dengan dia nyambung, bahkan dapat menyelesaikan masalah dengan baik? Apakah Angle siap, jika hubungan Angle memiliki potensi untuk berakhir dengan pola yang sama? Apakah Angle siap sebagai pihak yang disalahkan, oleh keluarga dan keluarga besar, dan bahkan lingkungan, sebagai penghancur rumah tangga (meskipun mungkin rumah tangga sudah bermasalah sebelum Angle ada)? Apakah Angle sudah siap jika orang tua atau keluarga pasangan tidak menerima Angle? Apakah Angle sudah siap untuk langsung memiliki peran sebagai istri dan ibu dari dua orang anak setelah menikah di usia Angle yang masih muda? Apakah Angle yakin dapat menyayangi anak-anak pasangan seperti Angle menyayangi anak-anak Angle sendiri? Seberapa besar Angle yakin akan komitmen pasangan dalam menjalankan hubungan?

Semakin positif jawaban-jawaban Angle untuk pertanyaan-pertanyaan introspeksi itu, pernikahan mungkin merupakan hal yang bisa dilakukan, setelah Angle menjalin hubungan terbuka dan mengenal lebih dalam mengenai pasangan, anak dan keluarga besar. Namun kalau jawaban jujur Angle sebetulnya negatif, jangan memaksakan menikah ya.

Memang tidak mudah meninggalkan orang yang kita sayangi, namun, Angle masih muda dan masih memiliki banyak pilihan lain kalaupun hubungan ini tidak bisa dilanjutkan. Yang perlu disadari setiap pilihan memiliki konsekuensinya masing-masing. Buat pilihan yang membuat Angle menjadi lebih bisa tumbuh dan berkembang dan mencintai diri Angle lebih baik lagi.

Wulan Ayu Ramadhani, M. Psi
Psikolog Perkawinan dan Keluarga di Klinik Rumah Hati
Jl. Muhasyim VII no. 41, Cilandak, Jakarta Selatan
Twitter: @wulanayur dan @twitpranikah
http://pranikah.org/ (hrn/vit)