Rabu, 29 Jun 2016 16:10 WIB

Istri Jadi Stres karena Suami Kurang Bergairah

Foto: Thinkstock
Jakarta - Mbak, saya seorang istri (36 tahun) sudah menikah 10 tahun 5 bulan. 4 Tahun ini kehidupan seks saya dengan suami bisa dikatakan kurang normal. Suami saya usianya 8 bulan lebih muda dari saya. Namun semakin ke sini gairahnya makin menurun. Sedangkan saya makin hari makin tidak bisa membendung keinginan melakukan seks. Komunikasi aktif saya lakukan dengannya, namun tetap tidak mengarah pada solusi. Bukan tidak melakukan sama sekali, bisa dikatakan sebulan sekali sudah bagus, kadang bahkan 1,5 bulan baru sekali dapat 'jatah'.

Sampai-sampai setiap gairah sedang tak terbendung saya selalu menangis dan beberapa bulan ini saya terpaksa membeli sex toys untuk membantu saya menurunkan sedikit keinginan tersebut. Kami sudah memiliki 1 putri 9 tahun dan putra 7 tahun. Sebagai tambahan, suami saya ini tergolong pecinta olahraga. Energinya tak pernah habis untuk olahraga, bahkan seharian full bisa dia habiskan buat olahraga.

Pagi jogging bersama saya, belum setengah jam istirahat lanjut bulutangkis sampai lewat tengah hari. Besok malamnya pun bisa kembali ke lapangan bulutangkis atau futsal. Saya sudah sering menggodanya dengan menggunakan pakaian minim di rumah saat hanya bersamanya, menggunakan lingerie pun seperti tidak menggugah keinginannya.

Mbak, 2 tahun ini hormonal saya jadi kacau (seperti kembali pada masa remaja saya sebelum menikah). Menstruasi bisa mencapai 12 hingga 14 hari. Sudah terlihat bersih di hari ke-7 namun (contoh) tiba-tiba keluar darah segar di sore hari (hari ke-8), hari ke-9 pagi-mandi sore bersih malam hari tengah malam kembali keluar atau pagi hari keluar lagi.

Pertanyaan saya, apakah ada hubungan antara seks rutin dengan siklus hormonal menstruasi saya? Karena yang seperti ini jadi berat. Mohon informasi, apakah saya perlu konsultasi tentang kelebihan gairah yang terjadi pada saya dan bagaimana menggugah gairah suami. Terimakasih.

Purwaning (Wanita, 37 tahun)
purwaning_XXXXXXX@yahoo.co.id
Tinggi 151 cm, berat 49 kg

Jawaban

Dear Ibu Purwaning,

Saya merasakan ada nada frustrasi dan perasaan tidak berdaya dalam email Ibu. Sebuah perasaan yang sangat wajar ketika Ibu sudah merasa melakukan berbagai usaha dan mengomunikasikan kebutuhan Ibu, namun tidak kunjung membuahkan hasil.

Menjalani perkawinan dengan usia perkawinan di atas 7 tahun memang tidaklah mudah. Pada masa-masa itu, banyak pasangan yang mulai terjebak di dalam rutinitas masing-masing yang membawa konsekuensi dalam hubungan perkawinan. Salah satu akibatnya adalah kurangnya keintiman dan melihat hubungan intim hanya dilihat sebagai hal rutin untuk memenuhi kebutuhan biologis, bukan lagi sebagai ekspresi kemesraan dan kasih sayang.

Saya membaca Ibu sudah berusaha untuk melakukan komunikasi aktif dan menarik perhatian dengan menggunakan pakaian yang menggoda. Saya berharap Ibu tidak menyalahkan diri Ibu sendiri atas respon suami yang bisa dipersepsikan sebagai sebuah penolakan terhadap diri Ibu. Tekanan psikologis karena kejadian ini juga bisa menjadi salah satu penyebab adanya ketidakstabilan hormon yang berpengaruh juga terhadap siklus menstruasi.

Saya tidak memahami apakah gairah seksual yang besar ini terjadi karena memang pada dasarnya Ibu sejak dulu memiliki libido seksual yang tinggi atau terjadi secara tiba-tiba. Jika gairah yang semakin lama meningkat tersebut terjadi secara tiba-tiba dibarengi dengan siklus menstruasi yang berubah, berarti ada ketidakseimbangan hormon yang terjadi. Ada baiknya Ibu berkonsultasi dengan dokter untuk memastikan tidak adanya masalah pada kesehatan fisik Ibu.

Namun, jika memang dari dulu Ibu sudah memiliki libido yang besar, sebaiknya Ibu dan pasangan melakukan konsultasi kepada seksolog untuk mencari alternatif pilihan lain yang bisa dilakukan untuk memfasilitasi kebutuhan Ibu dan suami. Jika Ibu merasa sudah mencoba segala cara, saya harap konsultasi secara langsung dengan profesional yang dapat memahami permasalahan lebih komprehensif memunculkan adanya alternatif-alternatif baru untuk mencari pola keintiman yang bisa diterapkan sesuai dengan usia perkawinan.

Tetap semangat ya, Ibu. Setelah berkonsultasi pun, tidak pasti semua akan berubah seperti pengantin baru. Namun, paling tidak Ibu dan pasangan sama-sama memiliki keinginan untuk berkomitmen dan memperbarui kemesraan.

Wulan Ayu Ramadhani, M. Psi
Psikolog Perkawinan dan Keluarga di Klinik Rumah Hati
Jl. Muhasyim VII no. 41, Cilandak, Jakarta Selatan
Twitter: @wulanayur dan @twitpranikah
http://pranikah.org/ (hrn/vit)