Jumat, 15 Jul 2016 15:20 WIB

Istri yang Minta Cerai karena Tak Ingin Dimadu

Foto: Thinkstock
Jakarta - Salam Mbak Wulan, saya ibu dua anak usia 17 dan 11 tahun. Saya sudah menikah selama kurang lebih 20 tahun. Tapi, kini saya tahu suami saya memiliki istri muda. Saya ingin minta cerai, tapi suami tidak mau. Padahal, saya tidak mau dimadu Mbak. Saya juga memikirkan anak-anak sih Mbak, tapi kalau dipaksakan tidak kuat rasanya diri ini. Apa yang harus saya lakukan Mbak? Trims.

Asiyah (Wanita, 40 tahun)
nur.asiyahXXXXX@gmail.com
Tinggi 165 cm, berat 50 kg

Jawaban

Dear Ibu Asiyah,

Saya tidak bisa membayangkan apa yang Ibu rasakan saat ini. Perasaan kaget, kecewa, sedih, dikhianati semua mungkin sudah bercampur aduk ya. Wajar saja kalau Ibu bingung apa yang harus dilakukan, karena apapun pilihannya tidak ada yang mudah untuk dijalankan.

Hal pertama yang Ibu perlukan adalah mencari orang yang dapat memberikan dukungan emosional. Dukungan dari keluarga terdekat ataupun teman biasanya dapat membantu untuk memberikan kekuatan untuk tetap bertahan dalam situasi yang sulit, apapun keputusan Ibu nantinya.

Ibu menyebutkan Ibu memikirkan anak-anak. Kekhawatiran apa yang Ibu rasakan bagi anak-anak? Bagaimana anak melihat ayahnyakah? Bagaimana nasib anak-anak jika Ibu bercerai? Sadari dan kenali kekhawatiran Ibu. Apakah ini murni kekhawatiran anak-anak, atau Ibu meragukan diri Ibu sendiri untuk bisa hidup tanpa suami? Solusi yang bisa dibahas tentu saja akan berbeda. Apapun keputusan Ibu, sebaiknya Ibu dan suami tidak meminta anak-anak untuk memilih antara ayah ataupun ibunya.

Bagaimanapun, setiap anak berhak untuk merasakan memiliki seorang ayah dan ibu. Jika di dalam proses suami mengeluarkan ancaman, misalnya Ibu tidak boleh bertemu dengan anak-anak jika bercerai, mengancam akan menyakiti, dll, sebaiknya Ibu tidak ragu untuk menghubungi pihak berwajib atau berkonsultasi dengan konsultan hukum.

Keputusan yang diambil biasanya berkaitan erat dengan sistem nilai yang Ibu miliki. Beberapa alternatif yang bisa dilakukan adalah Ibu dapat memutuskan untuk bercerai dan hidup tanpa suami, jika Ibu percaya dengan kemampuan diri Ibu untuk menjalani hidup tanpa suami dengan segala konsekuensinya, misalnya hal yang paling mendasar adalah mandiri secara finansial.

Alternatif kedua, bila dengan segala upaya yang telah dilakukan atau dengan pertimbangan tertentu tidak memungkinkan perceraian untuk dilakukan saat ini, Ibu dapat membuat pilihan untuk tetap bersama suami. Namun, menjalani poligami bukanlah sesuatu yang mudah, sehingga perlu ada kesepakatan di antara Ibu berdua dengan suami.

Misalnya, pisah ranjang namun suami tetap memenuhi kewajiban untuk menafkahi dan mencukupi kebutuhan belanja Ibu dan anak-anak, istri muda tidak tinggal di dalam satu rumah, dsb. Sambil menjalani ini, sebaiknya Ibu juga mencari kegiatan lain yang dapat membuat Ibu perlahan-lahan juga bisa mandiri, baik secara finansial maupun emosional dan mengevaluasi kembali hubungan secara berkala dan menanyakan apakah hubungan seperti ini yang Ibu inginkan dan rasakan.

Jika masalah ini sudah mulai mempengaruhi Ibu secara fisik, seperti jam tidur yang tidak menentu (bisa lebih lama ataupun susah tidur), kehilangan aktivitas sosial, kehilangan nafsu makan, emosi yang tidak terkendali (mudah menangis atau mudah marah), sebaiknya Ibu segera melakukan konsultasi langsung dengan profesional.

Wulan Ayu Ramadhani, M. Psi
Psikolog Perkawinan dan Keluarga di Klinik Rumah Hati
Jl. Muhasyim VII no. 41, Cilandak, Jakarta Selatan
Twitter: @wulanayur dan @twitpranikah
http://pranikah.org/ (hrn/vit)