Senin, 18 Jul 2016 16:16 WIB

Menghadapi Ibu Mertua yang Sering Membanding-bandingkan dengan Ipar

Foto: Thinkstock
Jakarta - Dear Mbak Wulan, saya menikah dengan satu orang anak dan hidup berdekatan dengan mertua serta kakak ipar saya. Karena saya dan kakak ipar saya sama-sama baru memiliki satu orang anak, mertua saya sering membanding-bandingkan kami. Jika saya salah, dia lalu akan mengatakan bahwa saya seharusnya bisa seperti kakak ipar saya. Jujur saya jadi kesal. Apa yang harus saya lakukan Mbak? Kalau saya cerita ke suami, takutnya dia jadi marah sama saya. Terimakasih.

Kalin (Wanita, 29 tahun)
theminXXXXX@gmail.com
Tinggi 165 cm, berat 55 kg

Jawaban

Dear Kalin,

Yang namanya dibandingkan, rasanya tentu tidak menyenangkan ya, apalagi jika dibandingkan dengan kakak ipar oleh ibu mertua. Saya tidak memahami perbandingan seperti apa yang dilakukan oleh ibu mertua terhadap Kalin, namun, seringkali isu yang muncul dalam kasus seperti ini salah satunya adalah mengenai pola pengasuhan anak.

Pola pengasuhan biasanya diturunkan dari satu generasi ke generasi selanjutnya. Misalnya, ada seseorang yang dulu diasuh dengan cara bahwa anak boleh berbicara terbuka terhadap orang tuanya, tentu saja akan berbeda pola pengasuhannya dengan anak yang terbiasa untuk hanya diam dan mengikuti setiap perkataan orang tuanya. Maka dari itu, setiap keluarga memiliki pola pengasuhan yang bisa berbeda-beda, tergantung pada kesepakatan dan nilai apa yang mau ditanamkan pada keluarga baru mereka.

Jika kakak ipar adalah kakak kandung dari suami, bisa saja ia jadi terlihat lebih baik karena ada kemungkinan pola pengasuhan di dalam keluarganya lebih banyak yang menyerupai pola pengasuhan ibu mertua kepada anak-anak. Atau, bisa jadi sebenarnya kakak ipar mengalami hal yang sama seperti yang Kalin alami, yaitu dibanding-bandingkan dengan Kalin. Semua alternatif bisa terjadi. Intinya adalah lingkungan memang memiliki hak untuk memiliki persepsi dan melakukan tindakan tertentu berdasarkan persepsinya sendiri.

Jika memang Kalin merasa butuh mendiskusikannya dengan suami, sebaiknya diskusikan dulu saja bagaimana pola asuh dan nilai-nilai yang ingin ditanamkan kepada anak-anak. Sehingga komentar dari mertua bisa dijadikan sebagai masukan saja, bukan komentar yang tidak menyenangkan. Selama Kalin dan suami memiliki kesepakatan mengenai hal ini, diskusi Kalin mengenai mertua kepada suami jadinya bukan merupakan keluhan melainkan membahas masukan.

Satu hal yang perlu diingat, ada orang yang terlalu peduli jika dibandingkan dan mengalami hambatan oleh komentar orang lain, ada yang justru bisa menggunakan komentar orang lain untuk evaluasi diri guna berkembang lebih baik. Pilihan ada di tangan Kalin.

Satu hal yang perlu diingat, ada orang yang terlalu peduli jika dibandingkan dan mengalami hambatan oleh komentar orang lain, ada yang justru bisa menggunakan komentar orang lain untuk evaluasi diri guna berkembang lebih baik. Pilihan ada di tangan kita.

Hubungan menantu perempuan dan mertua itu memang unik hubungan antara mertua dengan menantu memang unik. Hubungan ini bisa berjalan penuh pengertian, kasih sayang tetapi juga mudah terjadi gesekan bila tidak berhati-hati. Padahal, di sisi lain, mertua bisa jadi sumber dukungan yang sangat berarti bila diberi kesempatan.

Wulan Ayu Ramadhani, M. Psi
Psikolog Perkawinan dan Keluarga di Klinik Rumah Hati
Jl. Muhasyim VII no. 41, Cilandak, Jakarta Selatan
Twitter: @wulanayur dan @twitpranikah
http://pranikah.org/ (hrn/vit)