Selasa, 19 Jul 2016 15:12 WIB

Belum Bisa Jadi Suami yang Baik karena Masih Ingin Bersenang-senang

Foto: Thinkstock
Jakarta - Mbak Wulan, saya sudah menikah kurang lebih 1 tahun. Namun, saya merasa belum bisa menjadi suami yang baik untuk istri saya, sebab saya masih senang bermain/keluar rumah dengan teman-teman saya.

Sebenarnya, istri sih tidak protes, dia begitu sabar menghadapi saya, apakah sikap saya sudah kelewat batas atau masih wajar? Kalau sudah kelewat batas, bagaimana mengendalikannya? Terus terang saya masih ingin senang-senang. Terimakasih.

Rizky (Pria, 25 tahun)
rizkyXXXXXX@gmail.com
Tinggi 171 cm, berat 67 kg

Jawaban

Dear Rizky,

Masih ingin bersenang-senang setelah menikah tentu saja diperbolehkan, malah sebenarnya dianjurkan untuk masing-masing individu di dalam pernikahan memiliki 'me time'. Salah satu ciri hubungan yang sehat adalah memberi kesempatan pasangan untuk mengembangkan diri sendiri juga. Dengan mengembangkan diri sendiri, kepercayaan diri meningkat yang akan terbawa dalam hubungannya juga sehingga tidak mudah cemas dan takut. Lebih jauhnya lagi, anak yang percaya diri juga tumbuh dari orang tua yang percaya diri dalam mengasuh anak.

Masalah yang muncul adalah ketika waktu 'saya' jadi lebih banyak ketimbang waktu 'kita'-nya. Yang perlu diingat adalah peran 'kita' dalam suatu hubungan sama pentingnya dengan 'saya' dan 'kamu'. Karena itu, secara umum, aturan main dalam me time ­adalah memastikan bahwa pasangan sama-sama menyadari pentingnya 'me time' sebagai salah satu cara untuk tingkatkan kualitas 'we time', waktu untuk diri sendiri tidak dipergunakan sebagai pelarian dari masalah tetapi sebagai cara untuk lebih mengenal dan mengembangkan diri sendiri. Aturan terakhir adalah adanya keterbukaan dan kejujuran untuk menghindari perasaan bersalah dan memang kegiatan yang dilakukan akhirnya meningkatkan kualitas hubungan.

Karena itu, untuk mengetahui batas kewajarannya, tentu saja Rizky perlu berdiskusi langsung dengan istri, karena setiap pasangan memiliki batasannya masing-masing tergantung pada karakter, tahapan perkawinan, waktu yang dibutuhkan untuk me time, kegiatan yang dilakukan, dsb. Kondisi ini juga bisa berubah seiring berjalannya tahapan di dalam perkawinan.

Misalnya, saat ini istri memang tidak keberatan Rizky sering menghabiskan waktu bersama teman-teman karena menyadari bahwa Rizky memang tipe ekstrovert yang mendapatkan energi ketika berkumpul bersama teman-teman, sementara istri lebih senang untuk menghabiskan waktu di rumah. Bisa saja kondisi ini berubah ketika Rizky dan istri sudah memiliki seorang anak, di mana peran Rizky di dalam keluarga juga bertambah dan istri juga memiliki ekspektansi yang berbeda dari Rizky.

Diskusi dan keterbukaan ini perlu dilakukan sehingga ketika Rizky pergi bersama teman-teman tidak terbebani rasa bersalah, istri pun benar-benar tidak bermasalah untuk Rizky menghabiskan waktu bersama teman-teman, begitu pula sebaliknya dengan istri ketika membutuhkan 'me-time'-nya. Jika diskusi di awal ini berjalan dengan baik, akan lebih mudah lagi untuk melakukan kompromi di tahapan perkawinan selanjutnya. Selamat berdiskusi ya.

Wulan Ayu Ramadhani, M. Psi
Psikolog Perkawinan dan Keluarga di Klinik Rumah Hati
Jl. Muhasyim VII no. 41, Cilandak, Jakarta Selatan
Twitter: @wulanayur dan @twitpranikah
http://pranikah.org/ (hrn/vit)