Jumat, 22 Jul 2016 16:12 WIB

Menghadapi Mertua yang Terlalu Ikut Campur Urusan Rumah Tangga

Foto: Thinkstock
Jakarta - Yth Mbak Wulan,

Bagaimana ya cara menghadapi mertua yang terlalu ikut campur urusan pernikahan saya dan suami saya? Saat kami akan memutuskan sesuatu, seringkali mertua saya menolak keputusan tersebut dan memaksa kami untuk mengikuti maunya dia. Saya sudah bilang ke suami kalau saya keberatan dengan kondisi ini, tapi suami juga cenderung takut dengan orang tuanya. Saya jadi merasa diatur. Mohon bantuannya, terimakasih.

Yuliana (Wanita, 25 tahun)
yul_inXXXXXX@yahoo.com
Tinggi 160 cm, berat 52 kg

Jawaban

Dear Yuliana,

Idealnya memang ketika seseorang sudah berumah tangga, pasutri memiliki kemandirian di dalam membuat keputusan. Namun, dengan budaya yang kita miliki saat ini ketika kita menikah dengan pasangan berarti kita juga menikah dengan keluarga, sehingga tidak jarang adanya campur tangan keluarga dalam hubungan pernikahan. Meskipun demikian, setiap pasutri tetap memiliki pilihan untuk membiarkan intervensi tersebut terjadi atau membatasi intervensi agar tetap mandiri dalam membuat keputusan.

Yuliana memang sudah berusaha untuk mengkomunikasikan keberatan Yuliana akan hal ini. Pertanyaannya adalah apakah Yuliana sudah mencari tahu apa yang melatarbelakangi mertua ikut campur dalam membuat keputusan di pernikahan Yuliana? Dalam hal seperti apa biasanya mertua intervensi? Apakah ada hal spesifik tertentu? Atau pada semua hal? Misalnya, suami adalah anak kesayangan mertua sehingga meskipun anaknya sudah menikah, ia masih merasa punya hak untuk ikut serta dalam keputusan-keputusan dalam pernikahan anaknya. Atau mertua adalah orang yang dominan sehingga ia tidak percaya bahwa anaknya mampu membuat keputusan sendiri. Ada banyak sekali alternatif yang mungkin terjadi.

Ketika mertua ikut campur, dengarkan saja dulu meskipun Yuliana tidak suka. Anggap saja itu sebagai masukan dari mertua untuk memecahkan permasalahan yang ada, meskipun caranya belum tentu sesuai. Meskipun Yuliana merasa diatur dan tidak nyaman dengan kondisi tersebut, lihat sejauh mana hal tersebut menyusahkan Yuliana berdua.

Jika Yuliana merasa kecewa karena suami terkesan takut kepada orangtua, coba tanyakan dan kenali karakter suami yang membuat ia terkesan 'ngikut aja'. Bisa jadi suami juga kebingungan karena berada dalam posisi yang seakan-akan ia harus 'memilih' antara mengikuti ibu atau pasangan, dan perasaan tersebut juga tidak menyenangkan, lho.

Salah satu ciri hubungan yang sehat adalah adanya kemandirian, baik itu kemandirian secara finansial maupun dalam membuat keputusan berdasarkan kesepakatan bersama pasangan. Untuk itu, tanyakan juga kepada suami berbagai kemungkinan yang ada, apa yang membuat mertua tampaknya meragukan kemampuan kalian sebagai pasangan untuk membuat keputusan.

Setelah Yuliana mengenali karakter suami dan mertua, dan mendapat 'pencerahan' mengenai alasan mertua ikut campur, diskusikan dengan suami batasan-batasan intervensi seperti apa yang masih bisa ditoleransi dan mana yang tidak. Buat kesepakatan mengenai batasan-batasan tersebut. Misalnya, masalah pengasuhan anak. Yuliana dan pasangan tidak ingin anak mendapatkan yang ia inginkan ketika ia memintanya dengan cara berteriak atau menangis, sementara mertua ingin memanjakan cucunya dan membelikan apapun yang ia mau.

Setelah adanya batasan dan kesepakatan dengan pasangan, Yuliana bisa kok menolak saran dari mertua jika itu tidak sesuai. Itu adalah hak Yuliana dan sebaiknya tidak memendamnya dalam hati karena bisa memperpanjang masalah yang ada. Tetap usahakan untuk bersikap asertif dan ramah juga, karena bagaimanapun mertua sebenarnya adalah orangtua kita juga. Jika mertua memaksakan, sampaikan bahwa kalian sudah punya keputusan sendiri dan sudah siap menjalani resikonya. Tidak jarang mertua akan menekan menantu dan anaknya untuk memaksanya. Tidak apa-apa, mungkin mertua lupa bahwa anaknya kini sudah memiliki rumah tangganya sendiri.

Namun, jika ternyata suami tidak mendukung hal ini dan setelah dilakukan berkali-kali dan dievaluasi tidak ada perubahan maka Yuliana dapat mencari pihak ketiga di dalam keluarga yang dapat menjadi penengah. Cari orang yang masukannya cukup didengar oleh mertua dan suami. Jika segala usaha yang dilakukan mengalami jalan buntu, carilah Profesional seperti Psikolog atau Konsultan Perkawinan yang bisa menjadi pihak netral untuk melihat permasalahan secara komprehensif dan memfasilitasi penyelesaian permasalahan.

Wulan Ayu Ramadhani, M. Psi
Psikolog Perkawinan dan Keluarga di Klinik Rumah Hati
Jl. Muhasyim VII no. 41, Cilandak, Jakarta Selatan
Twitter: @wulanayur dan @twitpranikah
http://pranikah.org/ (hrn/vit)