Kamis, 28 Jul 2016 16:21 WIB

Ragu Bercerai karena Khawatir Ganggu Psikologis Anak

Foto: Thinkstock
Jakarta - Saya sudah menikah dengan satu orang anak berusia 7 tahun. Saya punya masalah dengan suami dan terpaksa kami memilih untuk bercerai. Semua proses sudah dijalani, hanya saja kami masih sama-sama ragu karena memikirkan psikis anak saya. Saya dan suami takut perceraian ini akan mengganggu sekolah dan kehidupan sosialnya. Apa yang harus saya lakukan dan seperti apa saya harus menyikapi perubahan sikap anak (jika memang dia berubah nantinya)? Mohon masukkannya.

Devi (Wanita, 32 tahun)
the_veetXXXXX@yahoo.com

Jawaban

Dear Devi,

Keputusan bercerai memang bukanlah sebuah keputusan yang mudah, terutama ketika seorang anak terlibat di dalamnya. Dari penuturan Devi, saya berasumsi bahwa perceraian ini merupakan hal yang sudah dipikirkan masak-masak dan merupakan keputusan terbaik yang bisa diambil saat ini, meskipun tidak mudah untuk dijalani.

Saya bisa memahami jika Devi dan pasangan masih ragu dan memikirkan kondisi anak dengan adanya perceraian, namun, untuk anak berkembang dengan baik ia juga membutuhkan orangtua yang sama-sama bisa berbahagia dengan dirinya sendiri. Memaksakan bertahan pada kondisi yang sudah tidak bisa dipertahankan, setelah melakukan berbagai upaya untuk mempertahankan, juga akan membuat kondisi keluarga tidak nyaman dan tegang yang berpengaruh kepada perkembangan anak.

Sebenarnya bukan perceraiannya yang dapat membuat anak mengalami pengalaman traumatis, tetapi proses perceraian dan kondisi paska perceraiannya. Misalnya, perebutan hak asuh, orangtua dan keluarga besar yang saling menyalahkan, dsb. Berhubung keputusan bercerai adalah kesepakatan yang sudah dibuat dengan matang bersama pasangan, kemungkinan anak mengalami trauma bisa diminimalisir.

Sama seperti orang dewasa, perceraian bagi anak juga berkaitan dengan adanya kehilangan atau perubahan. Mereka juga membutuhkan waktu untuk melakukan penyesuaian. Beberapa anak usia sekolah dapat beradaptasi dengan mudah, namun, tidak jarang juga anak bisa secara terbuka mengungkapkan perasaannya atau bahkan menyangkal perasaan mereka. Apapun itu, pastikan bahwa anak paham, bahwa tidak akan kehilangan kasih sayang dari kedua orangtuanya. Misalnya dengan menjelaskan bahwa ia akan tinggal bersama ibu dan ayah akan berkunjung di akhir pekan, masih bisa berhubungan melalui telepon di luar waktu kunjungan dsb, tergantung bagaimana kesepakatan Anda dan pasangan nantinya.

Kekhawatiran Anda mengenai anak cukup beralasan, karena anak pada usia 7 tahun sudah bisa dikatakan sebagai anak besar dan mereka sudah bisa mengerti bahwa perceraian berarti perkawinan kedua orang tuanya berpisah. Mereka juga dapat memiliki kecemasan apa yang akan terjadi setelah orangtuanya berpisah, seperti bagaimana dengan sekolahan, dengan siapa nanti ia akan tinggal, dsb. Jadi, pada saat memberitahukan kepada anak, persiapkan diri Anda dengan pasangan untuk menjawab banyak pertanyaan yang mungkin muncul dari anak.

Pemilihan waktu untuk memberitahu anak juga dapat berpengaruh terhadap bagaimana anak memproses informasi yang Anda sampaikan. Meskipun tidak akan pernah ada waktu yang cukup baik untuk mengabarkan berita ini kepada anak, tetapi ada yang namanya waktu buruk. Misalnya, ketika anak hendak berangkat sekolah, ketika anak mau tidur, ketika anak/Anda mau berkegiatan setelahnya. Siapkan waktu di mana setelah Anda dan pasangan memberi kabar kepada anak, Anda berdua memiliki waktu yang cukup panjang untuk menjawab semua pertanyaan anak atau hanya sekadar memeluk dan menenangkan.

Jika Anda masih mengalami kebingungan bagaimana menyampaikan berita ini kepada anak, saya merekomendasikan buku 'Kami Tetap Menyayangimu, Kelinci Kecil' karangan Denia Putri Prameswari, sebagai pengantar cerita dengan ilustrasi yang lebih mudah dimengerti oleh anak. Sedangkan, untuk Anda dan pasangan saya akan mengirimkan beberapa e-book sebagai persiapan Anda dan pasangan untuk menyampaikan berita tersebut.

Semoga jawabannya dapat membantu Anda dan pasangan memiliki gambaran apa yang akan dihadapi dan perlu dipersiapkan ya.

Wulan Ayu Ramadhani, M. Psi
Psikolog Perkawinan dan Keluarga di Klinik Rumah Hati
Jl. Muhasyim VII no. 41, Cilandak, Jakarta Selatan
Twitter: @wulanayur dan @twitpranikah
http://pranikah.org/

(hrn/vit)