Senin, 08 Agu 2016 15:14 WIB

Khawatir Mengecewakan Suami karena Didiagnosis Kanker Payudara

Foto: Thinkstock Foto: Thinkstock
Jakarta - Mbak, saya didiagnosis kanker payudara dan harus diangkat salah satu payudara saya. Tidak hanya itu, karena pemicunya estrogen, saya juga harus menjalani pengangkatan kedua indung telur.

Rasanya seperti jatuh dari gunung yang tinggi. Saya belum menyampaikan hal ini pada suami saya, kebetulan suami bekerja di luar kota dan baru pulang 3 bulan sekali. Kami juga belum punya momongan, meski memang baru dua tahun menikah. Tapi suami saya ingin sekali cepat punya anak. Saya takut mengecewakan dia. Apalagi nantinya fisik saya juga jadi berbeda.

Mira (Wanita, 28 tahun)
mira_goXXXXX@gmail.com
Tinggi 164 cm, berat 67 kg

Jawaban

Dear Mbak Mira,

Naif rasanya kalau saya bilang saya memahami apa yang Anda rasakan, namun, saya bisa mengerti kenapa Anda menggambarkan apa yang Anda rasakan saat ini seperti jatuh dari gunung yang tinggi. Justru karena itulah Anda akan membutuhkan banyak dukungan emosional dari orang-orang terdekat Anda, terutama keluarga.

Pada banyak kasus yang datang ke ruang konseling, klien dengan kanker awalnya memang memilih untuk merahasiakan penyakitnya dari pasangan karena berbagai hal, namun seringkali menjadi kontraproduktif karena ada masalah-masalah lain yang dapat muncul, seperti pasangan merasa dikhianati, merasa tidak cukup dipercaya untuk mendukung atau membantu, dsb. Hal ini membuat menyembunyikan penyakit dari pasangan seringkali menjadi stressor tersendiri yang juga bisa berpengaruh terhadap kesehatan klien.

Anda memiliki harapan terhadap suami, suami memiliki harapan tertentu terhadap Anda, dan itulah perkawinan di mana kedua pihak memiliki ekspektansi tertentu. Adanya kejadian yang membuat pasangan perlu kembali menyesuaikan ekspektansinya tentu bukan hal yang mudah. Sama seperti Anda, suami juga bisa merasa marah, takut, bersalah, bingung, dan merasakan berbagai macam emosi lainnya.

Ada kalanya pasangan seakan menjauh, namun perlu Anda sadari ini terjadi bukan karena Anda bersalah atau Anda mengecewakan suami. Sama seperti Anda, ia juga akan membutuhkan waktu untuk memproses apa yang terjadi, mencari tahu bagaimana ia perlu bersikap. Tidak jarang suami juga kebingungan bagaimana berhadapan dengan pasangan yang sudah didiagnosis kanker, seperti bagaimana ia bisa membantu, bagaimana menjaga kondisi istri agar tidak stres, bagaimana agar sentuhan fisik juga tidak menyakiti, dsb. Sampai akhirnya pasutri bisa menemukan ritmenya untuk saling menyesuaikan diri dengan keadaan yang ada.

Khawatir terhadap bagaimana respons suami dan ketakutan tidak bisa memenuhi harapan tentu saja wajar untuk Anda rasakan. Pertanyaannya, apakah dengan merahasiakan membuat Anda menjadi lebih mungkin untuk tidak mengecewakan suami atau malah akhirnya menjadi stressor tersendiri bagi Anda? Anda yang lebih mengetahui kondisi diri Anda sendiri.

Bagaimanapun, setiap kondisi yang ada di dalam perkawinan, tentu saja akan saling mempengaruhi satu sama lain, terlepas dari Anda memberitahukan kepada suami atau tidak. Beri suami kesempatan dan kepercayaan bahwa ia bisa memroses semua ini, dengan caranya sendiri. Adanya rasa percaya dan komitmen merupakan hal yang penting dan mendasar di dalam perkawinan, kan? Selamat mempercayai pasangan dan membuka diri ya.

Wulan Ayu Ramadhani, M. Psi
Psikolog Perkawinan dan Keluarga di Klinik Rumah Hati
Jl. Muhasyim VII no. 41, Cilandak, Jakarta Selatan
Twitter: @wulanayur dan @twitpranikah
http://pranikah.org/

(hrn/vit)