Selasa, 09 Agu 2016 15:10 WIB

Sudah Menikah Tapi 'Dipaksa' Tinggal Bersama Orang Tua, Harus Bagaimana?

Foto: thinkstock Foto: thinkstock
Jakarta - Halo Mbak Wulan, salam kenal. Saya ingin bertanya. Sejak menikah 5 bulan lalu saya masih tinggal bersama orang tua saya. Karena kondisi rumah orang tua saya yang tidak terlalu besar, sehingga kamar kami pun relatif berdempetan. Setiap berhubungan intim dengan suami, jujur saya merasa tidak nyaman karena was-was akan terdengar atau ketahuan orang rumah.

Sedangkan ketika saya memberi tahu ortu bahwa saya mau mengontrak, orang tua tidak mengizinkan karena alasan ia akan kesepian. Padahal di rumah itu masih ada adik saya 2 orang yang memang saat ini sering pulang malam karena sibuk kuliah. Sebagai info, saya memang tidak bekerja dan hanya mengelola usaha kecil-kecilan keluarga Mbak. Terimakasih.

Kara (Wanita, 26 tahun)
Karanina.XXXXX@yahoo.co.id
Tinggi 168 cm, berat 51 Kg

Jawaban

Dear Mbak Kara,

Kalau urusannya sudah orang tua, seringkali memang kita kebingungan ya. Mau memaksakan diri untuk keluar rumah, nanti jadi merasa bersalah karena dianggap mengabaikan orang tua. Mau tetap tinggal, kok rasanya udah nggak pas ya. Jadi, kebingungan yang Anda rasakan itu wajar kok.

Di Indonesia, tidak jarang kasus seperti ini terjadi. Seringkali orang tua 'lupa' bahwa anaknya yang sudah menikah juga perlu untuk belajar mandiri, atau masih ingin ditemani anak atau tidak ingin kehilangan kontrol terhadap anak-anaknya, dsb. Maka dari itu, seringkali mereka juga perlu diingatkan bahwa setelah menikah Anda dan pasangan ingin punya kehidupan mandiri. Selain karena masalah seks, Anda dan pasangan juga perlu belajar untuk berhubungan satu sama lain tanpa adanya intervensi atau pengaruh dari pihak lain.

Yang perlu Anda lakukan sebenarnya berdiskusi terlebih dahulu dengan pasangan. Pastikan bahwa kalian berdua memang sepakat untuk keluar dari rumah. Tidak jarang, orang tua menyalahkan menantunya atas keputusan yang ada, jadi persiapkan juga kemungkinan-kemungkinan ini sehingga Anda berdua tahu bagaimana bersikap jika kemungkinan ini yang terjadi.

Kedua, cari kontrakkan. Jika memungkinkan, yang masih tidak terlalu jauh dari rumah orang tua sehingga Anda juga masih tetap bisa mengurus usaha keluarga. Ketiga, beritahukan hal ini kepada adik-adik Anda. Menjaga perasaan orang tua untuk tidak merasa kesepian bukan hanya tugas Anda, tetapi tugas semua anak-anaknya, kemudian diskusikan caranya. Kalau bisa, cari tahu juga bahasa cinta orangtua Anda. Biasanya selama anak-anak bisa menyatakan perasaan mereka sesuai dengan bahasa cinta yang orang tua harapkan, bisa meminimalisir perasaan kesepiannya kok.

Setelah semua dipersiapkan, baru Anda dan pasangan sampaikan keputusan Anda untuk keluar dari rumah. Sampaikan secara asertif bahwa ini dilakukan bukan karena kalian ingin meninggalkan orang tua, tetapi karena kalian berdua ingin belajar untuk hidup mandiri. Sampaikan juga bahwa kalian masih akan berkunjung, misalnya setiap akhir pekan, atau orang tua juga boleh berkunjung ke kontrakan jika mereka kesepian.

Buka jalur komunikasi dan aksesibilitas Anda dan orang tua untuk bisa tetap berhubungan meskipun rumah kalian sudah terpisah. Respons orang tua bisa bermacam-macam, seperti marah, kecewa, dsb. Sadari, bahwa ini juga sebuah proses yang Anda dan pasangan untuk bisa menjadi lebih mandiri dari sebelumnya. Tetap berbuat baik kepada orang tua dan jalin komunikasi, apapun respon mereka. Selamat hidup mandiri bersama pasangan ya.

Wulan Ayu Ramadhani, M. Psi
Psikolog Perkawinan dan Keluarga di Klinik Rumah Hati
Jl. Muhasyim VII no. 41, Cilandak, Jakarta Selatan
Twitter: @wulanayur dan @twitpranikah
http://pranikah.org/ (hrn/vit)