Rabu, 10 Agu 2016 15:24 WIB

Menghadapi Suami Selingkuh dengan Rekan Satu Kantor yang Sudah Menikah

Foto: thinkstock Foto: thinkstock
Jakarta - Saya dan suami menikah setelah lulus SMA karena 'kecelakaan' hingga saat ini usia pernikahan kami sudah 9 tahun, saya mengenal suami sejak masih kecil karena kami tetangga di perumahan kami. Yang saya tahu saya wanita satu-satunya yang pernah menjadi pacar, mantan dan istri. Tapi 1 tahun yang lalu suami selingkuh dengan rekan kerjanya di kantor, padahal selingkuhannya tersebut juga sudah memiliki suami dan anak. Dan mereka mengakui kalau mereka pernah bersetubuh beberapa kali.

Saya sudah menemui selingkuhannya tersebut dengan baik-baik dan meminta untuk menjauhi suami saya. Tapi saya merasa mereka berdua masih ada hubungan karena mereka masih satu kantor hingga saat ini, apa yang harus saya lakukan? Apakah perlu saya memberitahukan kepada suami selingkuhannya tersebut? Saya berusaha untuk tetap bertahan pada pernikahan ini, tapi saya selalu terbayang-bayang dikhianati oleh suami. Saya juga ingin suami untuk resign dari kantornya agar tidak bertemu lagi dengan wanita itu tapi suami belum mendapatkan pekerjaan pengganti.

Apakah ada pengaruhnya suami sering menonton film 'dewasa' sehingga fantasinya ingin bersetubuh dengan wanita lain bisa terwujud? Karena suami juga sering mengatakan bahwa ia ingin bersetubuh dengan wanita lain dan saya secara bersamaan (threesome) tapi saya tidak pernah memenuhi keinginannya tersebut. Mohon dapat dibantu apa yang harus saya lakukan untuk tetap bisa berpikir positif dan bertahan pada pernikahan ini. Sebelumnya saya ucapkan banyak terimakasih.

Nisya (Wanita, 27 tahun)
nisya.nyXXXXXX@gmail.com
Tinggi 158 cm, berat 71 kg

Jawaban

Dear Mbak Nisya,

Perselingkuhan, apapun bentuknya, biasanya memang menimbulkan adanya perasaan ketakutan, kekecewaan, perasaan bersalah dan luka bagi yang mengalaminya. Jika didiamkan terlalu lama tentu saja masalahnya akan semakin berat dan semakin sulit pula untuk Anda tetap berpikiran positif dan mempertahan perkawinan seperti yang Anda harapkan.

Perselingkuhan sendiri seringkali terjadi karena adanya permasalahan di dalam perkawinan, baik masalah tersebut disadari oleh pasutri maupun tidak. Orang ketiga seringkali hanyalah 'pelarian' atau 'pelengkap' untuk harapan-harapan yang tidak terpenuhi di dalam perkawinan.

Karena Anda berdua menikah di usia yang masih sangat muda dan mungkin berada di dalam kondisi 'harus segera menikah', ada kemungkinan Anda dan pasangan belum memiliki cukup keterampilan untuk menjalin relasi yang seperti keterampilan berkomunikasi, mengelola konflik, dsb.

Meskipun Anda berdua sudah saling mengenal sejak kecil, mengenal dia sebagai teman dan sebagai pasangan tentu saja berbeda, karena ada ekpektansi yang juga berbeda. Imbasnya, meskipun menikah, pasangan seringkali belum benar-benar saling mengenal dan mengetahui ekspektansi masing-masing di dalam perkawinan yang berujung pada adanya kekecewaan.

Menegur selingkuhan, meminta suami untuk memutus segala kontak dengan selingkuhan, meminta suami pindah kantor, memberitahukan kepada suami selingkuhan seringkali menjadi kontraproduktif jika tidak dibarengi dengan adanya perbaikan di dalam hubungan perkawinan Anda. Karena hal tersebut tidak menjamin suami tidak akan mengulang perilaku yang sama di tempat lain atau tetap menjalankan hubungan secara diam-diam.

Tidak mudah memang memulihkan diri setelah terjadinya perselingkuhan. Apalagi Anda saat ini sudah mulai menyalahkan diri ini semua terjadi karena diri Anda tidak bisa memenuhi fantasi suami. Padahal, belum tentu juga alasan suami berselingkuh terjadi karena fantasi seksualnya. Selama masih ada pihak-pihak yang saling menyalahkan, baik pihak-pihak di dalam perkawinan maupun di luar perkawinan, proses pemulihan akan sulit untuk dilakukan.

Sadari bahwa perselingkuhan terjadi, terima bahwa perselingkuhan memang sudah terjadi, dan fokuskan energi Anda pada pemulihan diri Anda sendiri dan perkawinan. Jika tahapan itu sudah bisa Anda lalui, pikiran positif atau harapan akan muncul sendiri tanpa perlu Anda paksakan. Tentu saja ini membutuhkan kerjasama dari kedua belah pihak. Libatkan orang yang bisa Anda percaya dan bisa memberikan masukan kepada Anda berdua. Jika dibutuhkan, lakukan konseling perkawinan. Selamat memulihkan diri dan perkawinan ya.

Wulan Ayu Ramadhani, M. Psi
Psikolog Perkawinan dan Keluarga di Klinik Rumah Hati
Jl. Muhasyim VII no. 41, Cilandak, Jakarta Selatan
Twitter: @wulanayur dan @twitpranikah
http://pranikah.org/ (hrn/vit)