Rabu, 24 Agu 2016 18:08 WIB

Selalu Merasa Disalahkan Mertua, Harus Bagaimana?

Foto: admin Foto: admin
Jakarta - Saya menantu pertama bagi mertua saya. Kebetulan suami saya anak pertama dari empat bersaudara. Kami memang tidak satu rumah dan bahkan beda kota, tapi kalau terjadi sesuatu di rumah saya, misalnya anak saya jatuh dan cedera cukup parah, maka ibu mertua saya cepat sekali menyalahkan saya tanpa bertanya-tanya terlebih dahulu. Gampang sekali ya menghakimi tanpa mendengar terlebih dahulu. Saya jadi sedih, Mbak.

Kalau kami liburan ke rumah mertua, ibu mertua juga banyak komentar. Ngajarin saya masak tapi seolah-olah saya bego banget soal masak. Mungkin karena kebiasaan memasak kami yang berbeda, tapi nggak gitu juga kali. Kalau saya sampaikan hal ini ke suami, suami cuma minta saya maklum. Harus gimana ya Mbak?

Alifah (Wanita, 24 tahun)
alifah.XXXXXX@gmail.com
Tinggi 164 cm, berat 59 kg

Jawaban

Dear Mbak Alifah,

Merasa disalahkan terus menerus, wajar saja Anda merasa sedih. Perasaan sedih ini lama kelamaan dapat berkembang menjadi rasa kecewa, merasa tidak dimengerti yang akhirnya bisa berpengaruh terhadap relasi Anda dengan pasangan di dalam perkawinan. Dan Justru karena itulah Anda perlu menemukan cara untuk memilah-milah mana perkataan atau perbuatan mertua yang perlu Anda pikirkan lebih lanjut atau hanya didengarkan saja.

Terkait perasaan Anda merasa disalahkan atau merasa 'bego banget', Anda pernah mendengar pepatah 'kita tidak bisa kehilangan sesuatu yang tidak kita miliki?', begitu juga dengan kata-kata yang ditujukan kepada kita, baik dikatakan secara langsung maupun tidak. Kita tidak bisa merasakan sesuatu yang tidak kita yakini sebagai suatu kebenaran.

Misalnya, ekstremnya kita disebut 'bego' oleh orang lain. Pertanyaan yang perlu kita tanyakan kepada diri sendiri adalah 'apa iya saya bego?', kalau jawaban Anda adalah tidak, maka anggap saja bahwa orang tersebut sedang membicarakan orang lain, bukan Anda.

Begitu pula dengan kata-kata mertua kepada Anda. Setiap perkataan mertua yang disampaikan seperti menyalahkan Anda, tanyakan kepada diri Anda sendiri 'apakah iya Anda sepenuhnya bersalah? Apakah ada hal-hal yang sudah Anda lakukan untuk mencegah itu terjadi? Apakah Anda sudah melakukan langkah-langkah yang dibutuhkan, ketika akhirnya sesuatu terjadi di luar kuasa Anda? Jika jawabannya iya, maka Anda sendiri tahu bahwa Anda sudah melakukan hal terbaik yang Anda bisa. Kalaupun masih kurang, itu akan Anda anggap sebagai pembelajaran.

Bila Anda sudah terbiasa melakukan evaluasi dan introspeksi terhadap perkataan orang terhadap Anda, Anda akan terbiasa untuk memilah milah mana perkataan yang bisa diabaikan, mana yang dijadikan introspeksi, dan mana yang perlu disampaikan kepada orang yang bersangkutan.

Sambil belajar melakukan hal di atas, ada satu hal yang bisa Anda pahami karena Anda juga sudah menjadi orang tua, yaitu orang tua selalu ingin yang terbaik untuk anaknya, terlepas dari caranya kita sukai atau tidak. Biasanya, setelah menikah, orang tua masih suka 'lupa' bahwa anaknya sudah memiliki keluarga sendiri, punya aturan dan nilai sendiri dalam membuat keputusan dalam rumah tangganya. Yang ia ketahui adalah ia memiliki 'tambahan' anak, yang perlu ia ajari untuk melakukan segala hal sesuai dengan cara yang sudah ia ketahui selama hidupnya. Sama seperti ketika Anda sedang mengajarkan anak Anda saat ini, dengan cara yang Anda ketahui.

Tetap jaga hubungan baik dengan mertua dengan cara mengenali mertua, apa yang ia sukai maupun tidak sukai. Cobalah memenuhi apa yang ia harapkan yang masih sesuai dengan nilai Anda atau masih dalam batas toleransi. Misalnya, setiap liburan, masak dengan cara yang biasa mertua lakukan atau sesekali justru Anda yang minta untuk diajarkan. Meskipun namanya mertua, tetap saja ia orang tua yang senang ketika anaknya bertanya. Anggap saja jumlah hari yang Anda lakukan untuk memasak dengan cara mertua lebih sedikit dibandingkan jumlah hari memasak Anda dengan cara Anda.

Memang menjalin hubungan dengan mertua bukan sesuatu yang mudah, karena kadang-kadang bertentangan dengan apa yang kita inginkan atau harapkan. Namun, selama Anda memahami diri Anda sendiri, memiliki kesepakatan dengan pasangan mengenai aturan di dalam perkawinan dan pengasuhan, dsb, Anda bisa memilih bagaimana berespons terhadap situasi yang tidak menyenangkan seperti ini. Bagaimanapun, Anda yang akan menjalani.

Wulan Ayu Ramadhani, M. Psi
Psikolog Perkawinan dan Keluarga di Klinik Rumah Hati
Jl. Muhasyim VII no. 41, Cilandak, Jakarta Selatan
Twitter: @wulanayur dan @twitpranikah
http://pranikah.org/ (hrn/vit)