Tercium Bau Telur Busuk dari Rongga Hidung, Ada Apa?

Tercium Bau Telur Busuk dari Rongga Hidung, Ada Apa?

detikHealth
Selasa, 13 Sep 2016 14:15 WIB
Ditulis oleh:
Tercium Bau Telur Busuk dari Rongga Hidung, Ada Apa?
Foto: thinkstock
Jakarta - Dok mau tanya, kenapa di dalam rongga hidung saya terasa seperti selalu ada lendir dan dari dalam hidung saya tercium seperti bau telur busuk. Hal ini sudah terjadi sekitar sebulan terakhir, saya belum berobat, lendirnya berwarna jernih, kadang menyebabkan hidung saya tersumbat.

Rilo (Pria, 23 tahun)

Jawaban

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Terimakasih atas kepercayaannya kepada saya.

Petunjuk kunci 'dari dalam hidung tercium seperti bau telur busuk' berarti ada gangguan indra penciuman. Penyebabnya bisa karena adanya defek konduktif atau defek sensorineural/sentral.

Pelbagai proses inflamasi (peradangan) dan infeksi berkontribusi terhadap defek-defek sentral pada transmisi dan pembauan. Hal ini termasuk infeksi virus (yang dapat merusak neuroepitelium), sarkoidosis (mempengaruhi struktur persarafan), multiple sklerosis, dan granulomatosis Wegener. Dapat terjadi defek konduktif melalui edem mukosa dan pembentukan polip, menyebabkan rinosinusitis kronis juga muncul untuk mengganggu neuroepitelium dengan hilangnya reseptor-resptor indra penciuman yang irreversible melalui proses 'up-regulated apoptosis'.

Proses peradangan menyebabkan defek penciuman. Ini termasuk rinitis berbagai tipe, seperti rinitis alergika, rinitis akut, atau rinitis toksik (misalnya: penyalahgunaan kokain). Rinosinusitis kronis menyebabkan penyakit mukosa progresif dan seringkali memicu penurunan fungsi penghidu, termasuk intervensi pembedahan, medis, dan alergi yang agresif.

Perlu diketahui, indra penghidu menurun sensitivitasnya sesuai usia, dan terbukti bahwa sejumlah fiber di bulbus olfaktorius hidung menurun di kehidupan seseorang. Suatu riset menunjukkan, rerata kehilangan sel-sel mitral manusia adalah 520 sel-sel per tahun dengan reduksi volume bulbus sekitar 0,19 mm3. Hilangnya bulbus olfaktorius ini bersifat sekunder terhadap hilangnya sel sensori di mukosa olfaktorius dan/atau penurunan secara umum di dalam proses regeneratif dari sel-sel punca di zona subventricular.

Gangguan endokrin, seperti: hipotiroidisme, hipoadrenalisme, kencing manis, dapat mempengaruhi fungsi indra penghidu.

Toksisitas obat-obat inhalasi atau sistemik (seperti: aminoglikosida, formaldehid) dapat berkontribusi terhadap disfungsi olfaktorius (gangguan penghidu). Obat-obatan lainnya juga dapat mengubah sensitivitas bau, seperti: alkohol, nikotin, pelarut-pelarut organik, dan garam zinc.

Hal-hal lain yang terkait dengan gangguan penciuman, seperti: merokok, menderita Skizofrenia, proses degeneratif sistem saraf pusat (Parkinson, Alzhiemer, dsb) dan penyakit neurologis lainnya (Huntington, multipel sklerosis, motor neuron disease, dsb).

Solusi
Gangguan penciuman memerlukan tatalaksana sesuai penyebab yang mendasarinya, secara spesifik, sesuai, uji diagnostik, riwayat penyakit, serta pemeriksaan fisik yang dilakukan oleh dokter.

Kondisi terkait sinus dan/atau hidung sebaiknya secara optimal diobati dokter dengan pemberian
saline lavage, dekongestan, antihistamin, antibiotik, dan/atau stroeid sistemik, bila memungkinkan. Dokter boleh saja memberikan nasihat untuk melakukan olfactory training, untuk pasien dengan hilang penghidu (olfactory loss) sebagai akibat dari banyak penyebab.

Bila sudah memeriksakan diri ke dokter keluarga atau dokter umum dan belum ada perbaikan, maka mintalah nasihat dokter tentang perlu tidaknya dirujuk ke spesialis THT, untuk pemeriksaan dan penatalaksanaan lanjutan.

Demikian saran ini, semoga memberikan solusi.

Salam sehat dan sukses selalu.

Dokter Dito Anurogo, penulis 17 buku, sedang studi di S2 Ilmu Kedokteran Dasar dan Biomedis FK UGM Yogyakarta. (hrn/vit)

Berita Terkait