Setelah terbongkar suami saya sadar dan ingin memperbaiki hubungan rumah tangga kita, tapi saya terlanjur kecewa dan sakit hati karena selama kita berumah tangga saya tumpahkan segalanya hanya untuk rumah tangga.
Perlu diketahui pada awal kita kenal sampai saya melahirkan putra pertama saya juga bekerja, setelah punya anak suami saya melarang saya bekerja karena dia menginginkan saya fokus ke anak-anak dan rumah tangga.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ditha (Wanita, 46 tahun)
Jawaban
Dear Ibu Ditha,
Saya memang belum memahami sejauh mana perselingkuhan yang terjadi membuat Anda terluka, tetapi dari yang Anda sampaikan saya menangkap bahwa Anda merasa tidak berdaya, kecewa, marah, karena usaha, tenaga, waktu dan apapun Anda curahkan selama 25 tahun untuk menjaga rumah tangga seakan-akan tidak berarti bagi pasangan sampai ia berselingkuh untuk seseorang yang bahkan tidak mencintai dia.
Saya memahami jika dalam kondisi seperti ini Anda ingin mengakhiri perkawinan. Sebuah respon wajar yang pertama kali muncul setelah mengetahui perselingkuhan pasangan. Di sisi lain, Anda sudah memiliki 25 tahun kebersamaan yang saya yakin tidak semuanya berisi duka, Anda tentu juga punya banyak 'tabungan kebahagiaan' yang membuat Anda bisa mempertahankan 25 tahun perkawinan. Hanya saja saat ini Anda masih belum bisa melihat kembali hal-hal penuh suka cita yang sudah dilalui bersama karena saat ini Anda sedang terluka.
Memulihkan luka akibat perselingkuhan memang sulit, tetapi bukan berarti tidak bisa dipulihkan. Semakin dalam dan semakin besar lukanya, tentu semakin lama pula pemulihannya dan menjadi semakin penting untuk dipulihkan. Jika saat ini Anda masih malas berhubungan dengan suami, tidak apa-apa. Berilah waktu bagi diri Anda dan perkawinan agar dapat pulih kembali. Sampaikan pada pasangan bahwa Anda meminta waktu untuk memulihkan diri.
Perceraian tidak selalu menjadi jalan keluar, karena tidak jarang luka perselingkuhan terbawa juga ke hubungan selanjutnya dan bisa terbawa ke dalam relasi Anda dan anak-anak. Namun, saya juga bisa memahami jika mempercayai kembali juga tentu saja tidak mudah.
Pada beberapa kasus seperti ini, ada pasangan yang meminta waktu untuk berlibur dan melakukan hal yang selama ini tidak bisa ia lakukan karena terfokus pada mengurus rumah tangga, ada yang meminta pasangan untuk menjauh dulu sementara waktu, dsb. Dari proses ini, masing-masing memiliki waktu untuk berinteraksi dengan diri sendiri, melakukan eksplorasi dan introspeksi mengenai apa yang bisa dilakukan ke depannya.
Tidak jarang dari kasus yang datang ke ruang konseling dan diawali dengan kasus perselingkuhan, justru membuka masalah-masalah yang sebenarnya sudah lama terjadi jauh sebelum perselingkuhan, yang bisa jadi tidak disadari sebelumnya. Dengan terbukanya perselingkuhan, masing-masing pihak bisa lebih terbuka dan saling memperbaiki diri satu sama lain. Tentu saja langkah utamanya adalah menerima bahwa perselingkuhan sudah terjadi, berhenti untuk saling menyalahkan dan memulihkan luka.
Hubungi keluarga, saudara, atau sahabat jika Anda membutuhkan dukungan emosional. Saya merekomendasikan buku 'Pelangi di akhir badai' karangan Adriana Ginanjar yang bisa Anda baca agar Anda mengetahui bahwa apa yang Anda rasakan saat ini adalah normal pada situasi yang Anda alami, dan hal apa saja yang bisa Anda lakukan untuk memulihkan luka sebelum Anda memutuskan untuk ke profesional. Jika memang Anda merasa membutuhkan pihak netral yang dapat membantu, Anda dapat menghubungi Psikolog atau Konselor Perkawinan untuk melakukan konseling Pasangan.
Wulan Ayu Ramadhani, M. Psi
Psikolog Perkawinan dan Keluarga di Klinik Rumah Hati
Jl. Muhasyim VII no. 41, Cilandak, Jakarta Selatan
Twitter: @wulanayur dan @twitpranikah
http://pranikah.org/ (hrn/up)











































