Kamis, 29 Sep 2016 17:14 WIB

Suami yang Diam-diam Selingkuh dan Melakukan Kekerasan pada Istri

Foto: thinkstock Foto: thinkstock
Jakarta - Selamat sore Bu Wulan. Saya sudah menikah 2 tahun, tetapi 6 bulan ini suami selalu cari masalah agar dia tidak menafkahi saya dan anak kami, selain itu suami sering main tangan dan menghina saya dengan kata-kata kasar.

Beberapa sumber menyebutkan suami punya selingkuhan di kantor dan di kampung halamannya. Suami juga sudah tidak menghormati orang tua saya lagi. Mohon solusi untuk masalah saya. Apakah suami saya mengidap penyakit jiwa, karena dia tidak pernah merasa bersalah tiap kali menyakiti hati saya dan mertuanya?

R (Wanita, 25 tahun)

Jawaban

Dear Mbak R,

Pasangan menyakiti dan merendahkan bisa terjadi karena banyak faktor, seperti ketidakpercayaan diri sehingga perlu merasa hebat dengan merendahkan orang lain, kesulitan dalam mengelola emosi, ketidakmampuan untuk mengomunikasikan perasaan/permasalahan dalam mengelola konflik, masalah kejiwaan, sampai dengan masalah yang berat seperti potensi adanya Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) yang hanya dapat disimpulkan dengan data yang komprehensif.

Yang dapat Anda lakukan saat ini adalah melihat apakah kondisi saat ini memiliki potensi untuk berkembang lebih besar lagi, terlepas dari benar atau tidaknya kabar bahwa suami sudah menikah lagi atau memiliki selingkuhan. Beberapa hal yang perlu diperhatikan adalah:

1. Apakah perilaku kasar suami memiliki pola yang sama? Misal, sedang kelelahan, ada permasalahan dsb. Atau bisa muncul tanpa diduga atau tanpa alasan yang jelas?
2. Apakah frekuensi suami untuk melakukan kekerasan semakin lama semakin tinggi intensitasnya (awalnya hanya melakukan kekerasan verbal yang semakin lama berubah menjadi kekerasan fisik) dengan jarak waktu yang lebih singkat?
3. Bagaimana respons pasangan ketika Anda melawan? Bagaimana respons pasangan ketika Anda diam saja?
4. Bagaimana sikap pasangan terhadap Anda setelah melakukan kekerasan? Beberapa pasangan meminta maaf dengan alasan khilaf dan tetap mengulangi perbuatannya, beberapa tidak meminta maaf karena merasa ia berhak untuk memukul karena pasangan bersalah, dsb.
5. Bagaimana respon Anda ketika pasangan merendahkan Anda? Bagaimana reaksi Anda ketika pasangan melakukan kekerasan secara fisik pada Anda? Seberapa percaya Anda, bahwa Anda memang bersalah dan layak diperlakukan seperti itu?
6. Bagaimana reaksi anak-anak melihat kekerasan yang terjadi di rumah tangga Anda? Apakah anak-anak juga sudah mulai mengalami kekerasan yang sama dari ayahnya?

Semakin negatif jawaban pertanyaan di atas, ada kemungkinan telah terjadi Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) dalam rumah tangga Anda yang memiliki potensi intensitasnya semakin meningkat dengan frekunsi kemunculan yang lebih sering.

Tidak mudah bagi orang yang berada di dalam siklus kekerasan untuk menyadari situasi ini dan keluar dari siklus tersebut. Biasanya banyak sekali hal-hal yang dipergunakan untuk membuat apa yang terjadi menjadi masuk akal, misalnya pasangan sedang khilaf, ia sedang memiliki permasalahan, ia memiliki masalah kejiwaan, dsb.

Jika ternyata KDRT ini yang terjadi dan saat ini Anda belum dapat keluar dari siklus kekerasan, dua pertanyaan awal dapat Anda gunakan untuk mencari pola pasangan dalam melakukan kekerasan sehingga Anda bisa tetap bertahan dalam situasi tersebut. Misalnya, ada pasangan yang 'mundur' ketika Anda berani melawan, ada juga yang menjadi semakin marah dan membahayakan ketika Anda berani melawan. Pertimbangkan faktor risiko yang ada dengan tetap mempertimbangkan keselamatan jiwa Anda dan anak-anak Anda.

Salah satu hal pasti adalah Anda perlu menyadari bahwa adanya masalah tidak membuat seseorang dalam rumah tangga menjadi layak untuk direndahkan atau disakiti oleh pasangan. Pada kasus ekstrem, kekerasan sudah dapat membahayakan jiwa, baik Anda maupun anak dan orang-orang di sekitar Anda. Pastikan Anda memiliki nomor telepon darurat, seperti kepolisian, yayasan yang menyediakan bantuan untuk kasus KDRT (seperti Yayasan Pulih, dsb) atau keluarga yang Anda percaya.

Jika Anda sudah menyadari hal ini dan tidak mengetahui apa yang sebaiknya Anda lakukan, diskusikan keadaan ini dengan keluarga besar mengetahui langkah-langkah apa yang diperlukan. Jika karena satu dan lain hal, keluarga tidak bisa membantu dan Anda memilih untuk bertahan dalam rumah tangga Anda, konsultasikan dengan profesional seperti psikolog untuk melihat permasalahan Anda dan pasangan secara komprehensif.

Semoga jawabannya dapat membantu untuk menyadari situasi yang sedang terjadi saat ini ya, Bu.

Wulan Ayu Ramadhani, M. Psi
Psikolog Perkawinan dan Keluarga di Klinik Rumah Hati
Jl. Muhasyim VII no. 41, Cilandak, Jakarta Selatan
Twitter: @wulanayur dan @twitpranikah
http://pranikah.org/ (hrn/vit)