Selasa, 11 Okt 2016 14:12 WIB

Menyikapi Suami yang Tidak Perhatian Sejak Dekat dengan Perempuan Lain

Foto: thinkstock
Jakarta - Suami saya sedang kuliah di luar negeri berangkat 1 bulan yang lalu. Saya dan anak (10 bulan) rencananya akan menyusul tahun depan. Suami saya disana ikut tinggal di rumah orang Indonesia. Yang suami saya ceritakan sebelum berangkat ke sana, dia akan tinggal bersama ibu dan bapak pemilik rumah saja. Tapi ternyata suami saya di sana juga tinggal bersama satu saudara perempuan si pemilik rumah dan belum menikah.

Suami saya dengan perempuan itu satu kampus dan satu jurusan juga. Mereka di sana sering sekali bersama. Suami saya meminta saya untuk percaya padanya, tetapi saya tetap terganggu dengan kehadiran wanita itu karena perubahan sifat suami menjadi tidak perhatian, kasar dan kadang menutupi kebersamaanya dengan wanita itu.

Bagaimana semestinya sikap saya sebagai istri? Apakah saya overprotektif karena tidak nyaman dengan kehadiran wanita tersebut? Terimakasih.

Astri (Wanita, 26 tahun)

Jawaban

Dear Mbak Astri,

Pernikahan jarak jauh memang tidak selalu mudah untuk dijalankan. Sayangnya, modal utama untuk mempertahankan hubungan seperti ini adalah rasa percaya terhadap pasangan. Sesuatu yang mudah diucapkan tetapi sulit dijalankan, apalagi ketika Anda sendiri merasa tidak nyaman dengan keberadaan perempuan lain di sekitar suami Anda.

Dalam komunikasi, bagaimana suami dan istri berkomunikasi seringkali saling mempengaruhi satu sama lain. Saya tidak memahami apa yang Anda sebut sebagai overprotektif. Asumsikan bahwa overprotektif yang dimaksud adalah Anda menjadi sering mempertanyakan pasangan, lebih sering mengecek, marah ketika pasangan tidak memberikan kabar, menanyakan baik secara langsung ataupun tidak langsung yang mengimplikasikan adanya perselingkuhan dan sejenisnya.

Hal ini bisa membuat pasangan menjadi tidak nyaman, sehingga menimbulkan reaksi kasar karena kesal Anda tidak mempercayai dia, lebih baik menutupi ketika pergi bersama dengan perempuan tersebut daripada harus mendengarkan kemarahan Anda. Namun, kita juga bisa bicara yang terjadi adalah kebalikannya. Misalnya, justru karena suami kasar, tidak perhatian dan menyembunyikan, maka Anda menjadi tidak nyaman dan bersikap overprotektif. Kalau ini yang terjadi, bisa jadi sebenarnya masalahnya adalah bagaimana mengkomunikasikan pikiran atau perasaan antara pasangan, terlepas dari atau tidaknya orang ketiga.

Saya bisa memahami Anda terganggu dengan kehadiran perempuan lain di dekat suami Anda. Namun, karena saat ini kita hanya bisa berasumsi mengenai apa yang terjadi antara Anda dan perempuan tersebut, sebaiknya fokuskan energi kekhawatiran Anda kepada perilaku yang bisa mempertahankan hubungan Anda berdua.

Sadari bahwa pasangan di sana jauh dari Anda, anak, keluarga dan teman-temannya. Ia membutuhkan peran Anda sebagai istri dan ibu yang memberikan dukungan untuk kelancaran studi-nya di sana. Sama seperti Anda yang juga membutuhkan ia berperan sebagai suami dan ayah meskipun berjauhan. Tetap jalin komunikasi dengan suami. Pada saat berkomunikasi, kurangi frekuensi Anda untuk mempertanyakan perempuan tersebut.

Misalnya, lebih banyak cari tahu tentang kegiatan-kegiatan pasangan selama di sana agar Anda juga mendapatkan gambaran kesibukan pasangan yang bisa membuat ia tidak bisa atau lupa memberi kabar, tanyakan tentang teman-temannya (yang lain, selain perempuan tersebut), aktivitas apa saja yang ia lakukan ketika ia sedang tidak kuliah, update suami tentang kegiatan yang Anda lakukan, update tentang anak, dsb. Jika selama beberapa hari suami tidak menyinggung tentang perempuan tersebut, Anda boleh bertanya dengan pertanyaan "si A apa kabar, mas?". Di awal, suami mungkin masih tidak nyaman membicarakan hal tersebut, yang bisa jadi karena kekhawatirannya akan membuat masalah dengan Anda. Masalah ini memang menguji kedewasaan Anda berdua dalam menyikapi suatu masalah. Akan lebih asertif atau reaktif atau menghindar.

Pada banyak kasus, ketika salah satu pasangan mengubah caranya berkomunikasi, maka akan ada perubahan juga pada pasangan lainnya, karena komunikasi erat sekali hubungannya dengan umpan balik. Kali ini Anda sedang 'diuji' untuk bisa bersikap asertif saat nama perempuan tersebut disebut atau ketika suami melakukan aktivitas bersama dengannya.

Anda masih boleh menyatakan keberatan Anda dengan menggunakan 'i-message'. Misalnya kalimat "kamu kok sering banget barengan sama dia?", bisa diganti dengan menggunakan kalimat "saya merasa tidak nyaman ketika kamu sering pergi bersama dia, tapi saya juga nggak nyaman kalau kamu jadi nggak cerita karena takut ini jadi masalah"; atau "saya tidak nyaman ketika kamu sering pergi dengan dia, mungkin karena saya iri dengan waktu yang kamu habiskan bersama dia sementara saya tidak bisa menghabiskan waktu bersama kamu", dst. Disesuaikan dengan kondisi seperti yang Anda rasakan.

Selama berjauhan, gunakan waktu yang ada untuk melakukan 'me time' ya. Lakukan sesuatu yang Anda sukai dan membuat Anda rileks dan senang. Ini juga bisa sebagai bagian dari mengelola stres dan tidak memikirkan masalah yang sama terus menerus, yang kita sama-sama tahu untuk kasus ini semua masih berdasarkan asumsi.

Jika pola overprotektif muncul sebagai pola dalam hidup Anda dan muncul tidak hanya ketika berjauhan, evaluasi diri Anda sendiri apakah pernah ada kejadian yang membuat Anda luka dan sulit untuk percaya, takut kehilangan, dsb. Bisa jadi ada luka di masa lalu yang belum selesai dan terbawa ke dalam hubungan saat ini. Jika ini yang terjadi dan Anda membutuhkan pandangan lain, konsultasikan ke profesional ya.

Wulan Ayu Ramadhani, M. Psi
Psikolog Perkawinan dan Keluarga di Klinik Rumah Hati
Jl. Muhasyim VII no. 41, Cilandak, Jakarta Selatan
Twitter: @wulanayur dan @twitpranikah
http://pranikah.org/ (hrn/vit)