Jumat, 06 Jan 2017 15:20 WIB

Apakah Penyakit TB Kelenjar Menular Seperti TB Paru?

Foto: thinkstock
Jakarta - Halo Dok, satu bulan yang lalu saya mendapatkan 2 benjolan yang tidak terlihat dan hanya dapat dirasakan bila disetuh di bagian pangkal paha dekat selangkangan, benjol tersebut awal nyeri, setelah 4 hari memutuskan ke klinik terdekat dan diberi obat dan disuruh ke klinik kembali bila dalam waktu 2 minggu benjol masih ada.

Karena selama 2 minggu benjolan masih ada walaupun kondisi tidak membesar dan sudah tidak ada nyeri, saya kembali ke klinik dan dirujuk ke rumah sakit terdekat, di rumah sakit oleh dokter bedah saya didiagnosa tuberkolosis kelenjar getah bening, tapi untuk memastikan saya dibiopsi di bagian benjolan dan di-rontgen di bagian paru untuk hasil rontgen paru saya bersih dan tidak ada indikasi TB.

Tapi untuk hasil biopsi kelenjar getah bening menderita lymphadenitis tuberculosa, dan berikan penanganan untuk meminum obat rifampicin, isoniazid, pyrazinamide, ethambutol hydrochloride dan vitamin b6 selama 6 bulan diminum 1 kali sehari sebelum makan atau saat perut kosong minimal 3 jam setelah makan secara teratur.

Yang mau saya tanyakan :
1. Apakah penyakit yang saya alami ini menular seperti TB paru-paru? Karena menurut beberapa referensi yang saya baca ada yang bilang menular, dan ada yang bilang tidak menular
2. Kenapa benjolan kelenjar getah bening saya yang bekas biopsi kok tambah besar benjolannya dari setelah dibiopsi (sekarang sudah 10 hari pasca biopsi), dan apakah benjolan ini akan pecah dan mengeluar nanah atau kotoran?
3. Apakah penanganan dari dokter bedah yang menangani saya sudah tepat?

Dady (Pria, 25 tahun)

Jawaban

Dear Dady,

Berdasarkan data yang anda berikan, saya coba untuk menjawab beberapa pertanyaan Anda: Penyakit TB kelenjar termasuk penyakit tidak menular, berbeda dengan penyakit TB paru.

Bila benjolan kelenjar bertambah besar, saran saya kontrol ke dokter Anda untuk evaluasi apakah terdapat proses peradangan/infeksi yang perlu penanganan lebih lanjut.

Anda dapat konsultasi ke dokter spesialis penyakit dalam untuk dilakukan pemeriksaan dan penanganan lebih lanjut bila diperlukan.

Salam, semoga bermanfaat.

dr. Indra Wijaya, SpPD, M.Kes
Departemen Penyakit Dalam
Fakultas Kedokteran, Universitas Pelita Harapan
Siloam Karawaci Hospital (hrn/vit)