Z (Laki-laki, 27 tahun)
Jawaban
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pada saat lebaran, acara maaf memaafkan memang akhirnya menjadi tradisi tahunan. Apakah meminta maaf dan memaafkan secara sungguh-sungguh, semua kembali ke pribadi masing-masing.
Permintaan maaf normalnya dilakukan ketika memang kita menyadari adanya kesalahan yang dibuat, yang entah disengaja atau tidak, telah menyakiti orang lain. Permintaan maaf sendiri sebaiknya dilanjutkan dengan adanya memperbaiki kesalahan. Hal ini yang membuat permintaan maaf juga biasanya disertai dengan pernyataan kesalahan yang telah diperbuat. Orang yang dilukai juga memberi kesempatan untuk orang yang melakukan kesalahan.
Perbedaan pendapat dan pertengkaran di dalam keluarga sebenarnya merupakan hal yang biasa terjadi. Saat kita berinteraksi dengan orang lain, persepsi rentan sekali untuk mengambil peran di dalamnya. Misalnya, dalam pertengkaran Anda merasa bahwa Anda adalah pihak yang tersakiti dan orang lain adalah pihak yang bersalah, sehingga orang lain yang seharusnya meminta maaf. Sementara orang lain tersebut berpikir bahwa seharusnya Anda yang meminta maaf. Siklus benar-salah, menang-kalah, terkadang membuat seseorang merasa enggan untuk meminta maaf terlebih dahulu.
Jika masalah perbedaan dan pertengkaran yang terjadi hanya mengulang-ulang topik yang sama barangkali prosesnya memang belum sampai ke memaafkan, karena setiap pihak masih mementingkan pendapatnya masing-masing ketimbang mencari alternatif pemecahan masalah lain.
Semoga jawabannya membantu ya, pak Z.
Wulan Ayu Ramadhani, M. Psi
Psikolog Perkawinan dan Keluarga di Klinik Rumah Hati
Jl. Muhasyim VII no. 41, Cilandak, Jakarta Selatan
Twitter: @wulanayur dan @twitpranikah
http://pranikah.org/ (hrn/up)











































