Pertanyaan:
Dok, izin bertanya. Saya wanita berusia 30 tahun. Setelah bercerai, saya selalu overthinking.
Itu karena mantan suami saya menceraikan saya dengan cara memberikan silent treatment, dan saya tidak dikembalikan secara layak kepada orang tua. Bagaimana cara saya memulihkan diri agar berhenti overthinking?
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sebab, saya tidak punya tempat untuk benar-benar menceritakan apa yang saya alami. Saya sulit sekali menceritakan apa yang saya rasakan sekarang kepada lingkungan saya.
WR (wanita, 30 tahun)
Jawaban:
Seseorang yang overthinking biasanya memikirkan sesuatu yang telah terjadi dan akan terjadi. Hal tersebut bisa saja disebabkan oleh adanya perasaan sakit hati, perasaan tidak aman (insecure), bersalah, malu, marah, hingga cemas terhadap hal yang akan datang.
Overthinking sangat mengganggu aktivitas sehari-hari karena membuat seseorang merasa cemas secara berlebihan. Itu juga bisa mengganggu kualitas tidur, sulit fokus, terlalu sering memikirkan perkataan orang lain, takut untuk memulai suatu hal karena takut gagal, hingga kesulitan dalam menyelesaikan masalah.
Jika merasakan hal-hal tersebut, sebaiknya Ibu membawa diri ke kondisi saat ini, kini, dan sekarang. Berikut merupakan beberapa cara yang dapat dilakukan agar dapat berhenti overthinking, sehingga mampu berdamai dengan diri sendiri, melepas masa lalu, dan fokus di masa kini:
Sadari diri dan terima emosi yang hadir
Penting untuk mengakui dan menerima emosi yang dialami setelah perceraian, termasuk sakit hati, kesedihan, marah, atau kekecewaan. Jangan menekan atau menyembunyikan emosi ini karena hanya akan memperkuat overthinking.
Temukan makna atau carilah nilai positif yang bisa diambil
Setiap pengalaman tidak menyenangkan dalam hidup dapat dijadikan pelajaran berharga. Ini bisa dilakukan dengan memandangnya sebagai tahap untuk menjadikan diri pribadi yang lebih baik.
Berdoa
Berdoa dapat membantu hati Ibu menjadi damai dan lebih tenang, serta mendapatkan kekuatan lahir batin.
Fokus kepada hal yang dapat dikendalikan
Memikirkan hal-hal yang tidak dapat dikendalikan, seperti kritik dari orang lain yang tidak membangun, apa yang akan terjadi di masa depan, serta hasil dari usaha yang telah dilakukan sebenarnya tidak akan memberi pengaruh apapun terhadap situasi yang terjadi.
Oleh karena itu, daripada memikirkan sesuatu yang tidak berdampak apapun, lebih baik fokus pada apa yang dapat dikendalikan, seperti pikiran dan perilaku diri. Lakukan atau pikirkan hal-hal yang dapat membangun atau membantu Ibu menjadi versi terbaik dari diri sendiri.
Temukan dukungan
Dukungan bisa datang dari teman, orang tua, kerabat, atau seseorang yang dapat dipercaya dan dapat mendengarkan tanpa menghakimi. Ini juga bisa membantu meringankan beban pikiran.
Menulis jurnal
Menulis jurnal merupakan cara yang baik untuk mengekspresikan perasaan dan pikiran yang sulit diungkapkan kepada orang lain. Tuangkan pikiran, emosi, dan pengalaman ke dalam tulisan. Beri tahu diri sendiri bahwa Ibu bangga dan berterima kasih pada diri sendiri karena telah meluangkan waktu untuk memproses dan merelakan beban.
Temukan aktivitas yang mendukung kesehatan mental
Berbagai aktivitas seperti yoga, meditasi, olahraga, atau seni dapat membantu mengalihkan pikiran dan mengurangi stres. Cari kegiatan yang disukai dan membuat Ibu merasa bahagia dan lega. Lakukan kegiatan tersebut secara teratur sebagai bentuk kepedulian terhadap diri sendiri.
Manajemen waktu
Atur waktu untuk bekerja, beristirahat, bersosialisasi, dan mengejar hobi yang membuat Ibu bahagia. Hindari memberikan terlalu banyak perhatian pada pikiran negatif atau masa lalu yang tidak bisa diubah.
Refleksi positif
Sebelum tidur atau saat bangun, luangkan waktu untuk berterima kasih dan merenung tentang hal-hal positif dalam hidup. Sadari kebaikan yang ada dalam diri dan berbagai hal baik yang terjadi dalam hidup.
Kegiatan ini membantu meredakan kecenderungan overthinking dan meningkatkan apresiasi terhadap momen yang sedang terjadi.
Dapatkan bantuan profesional
Jika Ibu merasa kesulitan mengatasi overthinking dan pemulihan setelah perceraian, maka ada baiknya mempertimbangkan untuk mencari bantuan dari seorang psikolog.
Psikolog dapat membantu memahami dan mengatasi pikiran-pikiran yang berlebihan, serta memberikan strategi untuk mengembangkan keterampilan dalam pemulihan diri.
Perlu diingat bahwa pemulihan setelah perceraian merupakan proses individu. Jika Ibu terus-menerus merasakan emosi, berpikiran negatif, atau merasa semakin buruk, jangan ragu untuk segera mencari bantuan profesional.
Meriyati, MPsi, Psikolog
Psikolog
RS Pondok Indah - Puri Indah
Tentang Konsultasi Kesehatan
Pembaca detikcom yang memiliki pertanyaan seputar kesehatan, dapat mengirimkan pertanyaan disertai keterangan nama, usia, dan jenis kelamin melalui form Konsultasi detikHealth, KLIK DI SINI.
Identitas penanya bisa ditulis terang atau disamarkan, disesuaikan dengan keinginan pembaca. Kerahasiaan identitas dijamin.
Mau tahu kondisi mental health kamu? Coba ikutan tes psikologi DI SINI.
(sao/kna)











































