Kamis, 18 Agu 2011 09:09 WIB

RSV, si Penyebab Infeksi Paru-Paru dan Saluran Pernapasan

- detikHealth
Jakarta - Deskripsi

Respiratory Syncytial Virus (RSV) adalah virus yang menyebabkan infeksi paru-paru dan saluran pernapasan. Merupakan hal yang sangat umum bahwa kebanyakan anak-anak telah terinfeksi virus pada usia 2 tahun. Respiratory syncytial (sin-SISH-ul) virus juga dapat menginfeksi orang dewasa.

Pada orang dewasa, lansia dan anak-anak yang sehat, gejala-gejala virus RSV terlihat ringan dan menyerupai influenza. Langkah-langkah perawatan diri dibutuhkan untuk mengurangi ketidaknyamanan akibat penyakit ini.

Pada beberapa kasus, infeksi virus RSV dapat menjadi parah terutama pada bayi prematur dan bayi dengan kondisi penyakit yang mendasarinya. RSV juga dapat menjadi parah pada lansia, orang dewasa dengan penyakit jantung dan paru-paru, atau siapapun yang memiliki sistem kekebalan sangat lemah (immunocompromised).

Penyebab

Virus pernapasan memasuki tubuh melalui mata, hidung atau mulut. Virus ini menyebar dengan mudah melalui batuk atau bersin yang mengandung sekret infeksius, yang kemudian terhirup oleh orang lain melalui kontak langsung, seperti berjabat tangan.

Virus ini juga dapat hidup selama berjam-jam pada objek seperti meja dan mainan. Menyentuh mulut, hidung atau mata setelah menyentuh benda yang terkontaminasi, cenderung akan menyebabkan terkena virus ini.

Pada beberapa hari pertama setelah terinfeksi merupakan fase paling infeksius, sehingga mudah menularkan virus ini kepada orang lain. Tetapi virus RSV juga masih dapat menyebar sampai beberapa minggu setelah terinfeksi.

Gejala

a. Tanda dan gejala infeksi virus RSV biasanya muncul sekitar 4-6 hari setelah terpapar virus.
Pada orang dewasa dan remaja, virus RSV biasanya menimbulkan gejala, antara lain:

  1. Sesak atau hidung meler
  2. Batuk kering
  3. Demam ringan
  4. Sakit tenggorokan
  5. Sakit kepala ringan

b. Pada kasus yang parah
Virus RSV dapat menyebabkan penyakit saluran pernapasan bawah seperti pneumonia atau bronkiolitis (peradangan pada bagian saluran udara kecil dekat paru-paru). Tanda dan gejalanya, antara lain:

  1. Demam tinggi
  2. Batuk parah
  3. Desah atau bunyi bernada tinggi yang biasanya didengar pada saat menghembuskan napas
  4. Kesulitan bernapas, yang mungkin membuat anak memilih untuk duduk daripada berbaring
  5. Warna kulit berwarna kebiruan akibat kekurangan oksigen (sianosis)

Kebanyakan anak dan orang dewasa pulih dari penyakit ini dalam 1-2 minggu. Namun pada bayi, balita, atau orang dewasa yang memiliki penyakit jantung atau paru-paru kronis, virus ini dapat menyebabkan kondisi yang lebih parah, bahkan kadang-kadang mengancam nyawa. Sehingga pada beberapa kasus infeksi virus RSV memerlukan rawat inap.

Pengobatan

1. Terapi suportif

Dokter mungkin akan merekomendasikan obat yang dijual bebas seperti asetaminofen (Tylenol, dll) atau ibuprofen (Advil, Motrin, dll) untuk mengurangi demam. Dokter mungkin juga akan meresepkan antibiotik jika ada komplikasi bakteri, seperti pneumonia bakteri.

Jika tidak diberikan obat untuk mengurangi demam dan antibiotik, dapat juga dengan menjaga kondisi tubuh senyaman mungkin. Memberikan banyak cairan dan memperhatikan asupan makanan, serta memantau tanda-tanda dehidrasi. Tanda-tanda dehidrasi tersebut seperti mulut kering, jarang buang air kecil, mata cekung, dll.

2. Perawatan rumah sakit

Pada perawatan infeksi virus ARV yang parah, di rumah sakit biasanya diberikan infus intravena dan oksigen. Dalam beberapa kasus yang parah, bronkodilator untuk nebulasi seperti albuterol (Proventil, Ventolin) dapat digunakan untuk melegakan pernapasan.

Dapat dilakukan nebulasi (pemberian obat melalui pernapasan dalam bentuk kabut halus) dengan ribavirin yang merupakan agen antivirus. Dokter juga mungkin akan merekomendasikan suntikan epinephrine atau bentuk lain dari epinephrine yang dapat diinhalasi (dihirup) melalui nebulizer (racemic epinephrine) untuk meredakan gejala infeksi RSV.

Sumber: CNNHealth, MayoClinic

(mer/ir)