Ponsel Memicu Kanker Masih Diragukan

Ponsel Memicu Kanker Masih Diragukan

- detikHealth
Rabu, 16 Sep 2009 11:02 WIB
 Ponsel Memicu Kanker Masih Diragukan
Jakarta - Setelah sebelumnya peneliti membuktikan bahwa ponsel menyebabkan tumor otak dan berbagai penyakit kanker lainnya, kini peneliti lainnya justru mempertanyakan studi tersebut dan menyatakan bahwa kesimpulan akhir belum bisa ditarik dari studi itu. Kontroversi pun terus bergulir.

Dr. John Bucher dari National Toxicology Program at the National Institutes of Health mengakui terdapat hubungan antara radiasi ponsel dan penyakit kanker, namun ia tidak sepenuhnya setuju dengan kesimpulan akhir studi tersebut yang menyatakan bahwa radiasi adalah penyebab kanker.

Rekomendasi yang ditawarkan dalam studi sebelumnya adalah mengurangi pemakaian ponsel, menjauhkannya dari badan dan tidak memberikannya pada anak-anak. "Anak-anak memiliki struktur dan konfigurasi otak yang lebih mudah dan rentan dimasuki radiasi," ujar Bucher seperti dilansir CNN, Rabu (16/9/2009).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurut Dr. Siegal Sadetzki dari Tel Aviv University, kesimpulan akhir pada studi sebelumnya belum tepat. "Apakah dalam studi itu sudah diteliti seberapa sering pemakaian ponsel yang menyebabkan kanker, bagian otak mana yang rusak oleh radiasi, dan bukti adanya tumor di kelenjar ludah? Saya rasa belum ada," ujar Sadetzki.

Namun sampai ada penelitian yang benar-benar membuktikan dosis radiasi yang menyebabkan kanker, Sadetzki mengatakan masyarakat tetap harus waspada terutama anak-anak. "Masalahnya bukan apakah kita harus atau tidak harus memakai ponsel, tapi bagaimana seharusnya menggunakan ponsel dengan aman," jelas Sadetzki.

Mencuatnya kembali isu bahaya ponsel terhadap kesehatan membuat Dr. Devra Davis, direktur Center for Environmental Oncology at the University of Pittsburgh Cancer Institute menantang pemerintah Amerika dan para peneliti lainnya untuk membuktikan hal yang sebenar-benarnya agar masyarakat tidak resah.

Menurut Davis, selama ini penelitian tersebut kurang menjadi perhatian peneliti lainnya karena membutuhkan waktu yang sangat lama, setidaknya dua dekade. Davis pun menuntut adanya standar terbaru untuk dosis radiasi yang aman bagi tubuh dan juga kucuran dana yang lebih untuk penelitian tersebut.

"Saya tidak merasa ketakutan, tapi saya merasa peduli, karena dunia berubah sangat cepat dan kita harus bisa mengimbanginya dengan mengetahui mana yang baik dan mana yang buruk," tutur Davis.

Rekomendasi Obat


(fah/ir)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads