Ancaman penularan infeksi nosokomial yang terjadi di rumah sakit kini menjadi perhatian serius banyak negara. Data Badan Kesehatan Dunia (WHO) mencatat kejadian infeksi di institusi pelayanan kesehatan berkisar 3-21 persen.
Bakteri ini berkembang di lingkungan rumah sakit yang berasal dari air, udara, lantai, makanan serta alat-alat medis maupun non medis. Sumber penularan bisa melalui tangan petugas kesehatan, jarum injeksi, kateter, kasa pembalut atau perban, bisa juga karena penanganan yang keliru dalam menangani luka.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Infeksi yang terjadi ini bisa melalui penularan dari pasien kepada petugas kesehatan, dari pasien ke pasien lain, dari pasien kepada pengunjung dan keluarga atau petugas kepada pasien.
Strategi yang sudah terbukti bisa mengendalikan infeksi nosokomial adalah melalui peningkatan kemampuan petugas kesehatan dalam metode kewaspadaan standar yang diterapkan pada semua orang, baik itu pasien, petugas atau pengunjung yang datang ke fasilitas kesehatan.
"Infeksi nosokomial ini biasanya mengalami peningkatan 2 sampai 10 kali lipat di beberapa negara berkembang," ujar Prof. Didier Pittet, perwakilan dari WHO Jenewa sekaligus ketua program WHO First Global Patient Safety Challenge, dalam acara seminar Nasional 'Global patients safety challenges: Clean care is safer care' di Hotel Shangri-la, Minggu, (8/11/2009).
Infeksi bakteri yang paling tinggi adalah akibat bakteri pseudomonas dan MRSA (Methicillin-resistant Staphylococcus aureus). Diperkirakan sekitar 40 persen pasien sakit karena terinfeksi kuman ini dan 50 persen dari jumlah tersebut mengalami kematian. Kejadian ini biasanya terjadi di ruang ICU dan termasuk memiliki angka kematian yang tinggi.
Cara yang paling efektif dan mudah dalam pencegahan infeksi nosokomial adalah dengan menjaga kebersihan tangan (hand hygiene) melalui cuci tangan. Berbagai penelitian telah membuktikan bahwa kegagalan dalam melakukan kebersihan tangan yang baik dianggap sebagai penyebab utama infeksi nosokomial dan penyebaran mikroorganisme multi resisten di fasilitas kesehatan.
Namun, pelaksanaan hand hygiene ini sendiri belum mendapat respons yang maksimal. Seperti program cuci tangan di RSCM yang sudah ada sejak tahun 2008, tapi sampai saat ini data kepatuhan untuk melakukan cuci tangan hanya sekitar 20 sampai 40 persen saja. Hal ini bisa menjadi tantangan yang cukup besar bagi tim pengendalian infeksi rumah sakit untuk mempromosikan program cuci tangan ini.
Program pencegahan dan pengendalian infeksi nosokomial akan berhasil bila dijalankan oleh petugas yang berdedikasi dan mempunyai komitmen kuat. Selain itu juga diberi kewenangan penuh dan didukung oleh manajemen yang baik dalam hal fasilitas maupun anggaran.
"Setiap rumah sakit memang sebaiknya harus memiliki komite IPC (Infection Prevention Control) yang langsung di bawah direktur atau berada pada secondline structure," ujar Dr K Mohammad Akib, Sp.Rad, MARS, Direktur Bina Pelayanan Medik Spesialistik Depkes.
Akib menuturkan pengendalian dan pencegahan ini harus dilakukan mulai dari pimpinan tertinggi atau direktur hingga staf paling bawah sekalipun seperti cleaning service. Diakui untuk bisa mencapai hasil yang maksimal dibutuhkan biaya, keterampilan dan perubahan perilaku dari siapapun.
"Pencegahan dan pengendalian infeksi ini merupakan salah satu bagian dari penilaian akreditasi dari suatu rumah sakit. Tapi sampai saat ini hanya sekitar 40 persen saja rumah sakit di seluruh Indonesia yang sudah memiliki IPC," tambahnya.
Untuk menghindari infeksi nosokomial di berbagai fasilitas kesehatan, tidak ada salahnya mulai saat ini membiasakan cuci tangan sebelum dan sesudah kontak dengan pasien.
(ver/ir)











































