Keputusan untuk menjadi donor organ adalah sebuah keputusan yang membutuhkan keberanian. Apalagi masalah norma, etika dan budaya masih sangat kental di Indonesia.
Jika Anda berniat mendonorkan organ tubuh setelah meninggal dunia atau masih hidup, pastikan hal itu didukung sepenuhnya oleh keluarga. Meskipun sudah membuat surat penyataaan mendonor tapi jika tidak disetujui keluarga, dokter tidak akan bisa mengambil organ Anda.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Meskipun seseorang sudah bikin testimoni untuk mendonor, belum tentu keluarganya mengizinkan. Masalah norma masih menjadi hambatan di kita," ujar Dr Dante Saksono H SpPD, PhD saat dihubungi detikHealth, Selasa (16/2/2010).
Langkah-langkah menjadi seorang pendonor organ sebenarnya sangat sederhana, yang dibutuhkan hanya keyakinan yang kuat dan izin dari keluarga. Seperti dikutip dari Streetdirectory, Selasa (16/2/2010), berikut langkah-langkahnya :
Langkah 1: Pastikan Anda benar-benar mau menjadi pendonor organ
Pendonor organ harus benar-benar yakin apakah ia mau mendonorkan organnya atau tidak, tidak boleh ada pengaruh orang lain. Untuk menjadi pendonor, usia bukanlah halangan. Ada seorang pria berusia 90 tahun yang masih bisa mendonorkan liver (hati) dan seorang berusia 102 tahun yang mendonorkan kornea matanya karena organnya masih bagus.
Langkah 2: Daftarkan diri sebagai pendonor
Di Kanada dan negara-negara maju, prosedur pendaftaran untuk donor organ atau jaringan berbeda-beda tiap daerah. Beberapa daerah ada yang menggunakan kartu donor, kartu kesehatan atau lisensi menyetir. Beberapa lainnya ada yang sudah terkomputerisasi.
Jika ingin mendonorkan mata bisa melalui Persatuan Dokter Spesialis Mata Indonesia (PERDAMI). Hingga saat ini belum ada sebuah organisasi atau yayasan yang khusus memfasilitasi donor organ karena takut disalahgunakan.
Cara mendaftar sangat mudah dan tidak membutuhkan waktu lama. "Jika ingin mendonorkan kornea mata misalnya, pertama-tama kornea mata akan diperiksa oleh dokter mata. Lalu pendonor harus mengisi formulir khusus yang berisi syarat-syarat tertentu dengan didampingi saksi," tutur dokter yang juga anggota Persatuan Dokter Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI). Setelah itu baru dicarikan resipien (penerima) organ yang kira-kira cocok.
Langkah 3: Katakan keinginan pada keluarga
Setelah benar-benar yakin, katakan pada keluarga mengapa Anda ingin menjadi pendonor organ atau jika Anda ingin mendonorkan organ orang yang Anda cintai, diskusikan terlebih dahulu dengan pasangan atau orang terdekat Anda.
Langkah 4: Minta dukungan keluarga
Jika Anda tiba-tiba meninggal dunia karena kecelakaan atau penyakit, keluargalah yang akan mengurus keperluan donor organ. Dokter tidak akan mengambil organ atau jaringan tanpa izin dari keluarga pendonor meskipun Anda sudah mendaftar menjadi seorang pendonor. Itulah mengapa diskusi dengan keluarga bagian penting dalam proses donor organ.
Mendonorkan organ akan membuat Anda atau keluarga dikenang terus selamanya. Anda juga akan memiliki kepuasan karena telah membuat seseuatu yang berarti untuk hidup orang lain yang tidak Anda kenal sebelumnya, sebuah hadiah yang benar-benar tulus tanpa imbalan. (gst/ir)











































