Sekali-sekali Egois Boleh Kok

Sekali-sekali Egois Boleh Kok

Rahma Lillahi Sativa - detikHealth
Senin, 15 Okt 2012 08:57 WIB
Sekali-sekali Egois Boleh Kok
Ilustrasi (dok: Thinkstock)
Jakarta - Egois atau kecenderungan untuk selalu mementingkan diri sendiri telah lama dikatakan sebagai salah satu kunci ketidakbahagiaan. Tapi sebaliknya sebuah studi dari AS mengungkapkan bahwa egois mendorong seseorang menjadi lebih bahagia karena saat egois orang akan cenderung fokus pada peningkatan kualitas kebahagiaan dirinya.

Masalahnya terletak pada interaksi dengan orang lain yang terkadang memunculkan perasaan bersalah.

Berman dan rekannya, Deborah Small dari University of Pennsylvania menduga bahwa 'memaksa' seseorang menjadi egois akan membuatnya merasa bebas. Dengan begitu mereka berkesempatan untuk menikmati apa yang mereka sukai tanpa perlu bersikap egois terlebih dulu.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Untuk memperoleh kesimpulan itu, Berman dan Small menggelar tiga studi terpisah yang melibatkan sekitar 130-250 partisipan.

Pada studi pertama partisipan diberi 3 dollar AS. Satu kelompok diperbolehkan untuk memilih antara menghabiskannya sendiri atau mendonasikannya pada United Nations Children's Fund sedangkan kelompok lainnya diberi 3 dollar AS untuk dihabiskan sendiri. Tapi sepertiga kelompok lain 'dipaksa' mendonasikannya sehingga partisipan hanya diberi bukti donasi oleh peneliti.

40 persen partisipan memilih untuk mendonasikannya namun tak ada perbedaan tingkat kebahagiaan antara partisipan yang mengamalkan uang itu dan mereka yang tidak melakukannya.

Hanya saja partisipan yang diberi 3 dollar AS untuk dihabiskan sendiri terlihat lebih bahagia ketimbang partisipan yang disuruh memilih dan lebih bahagia daripada partisipan yang dipaksa mengamalkan uangnya.

"Orang-orang suka menerima sesuatu. Mereka menyukainya karena tak punya pilihan lain," kata Berman.

Pada studi kedua, Berman dan Small meminta tiga kelompok partisipan untuk membuat pilihan. Satu kelompok harus memilih diantara dua kartu hadiah yang akan diberikan kepada mereka, kelompok kedua harus memilih dua kartu hadiah yang akan diberikan untuk amal sedangkan kelompok ketiga harus memilih apakah salah satu kartu akan dipakai mereka sendiri atau didonasikan.

Hasilnya, lagi-lagi 40 persen partisipan memilih memberikannya untuk amal tapi tak ada partisipan yang merasakan kepuasan lebih. Meski begitu kelompok pertama atau partisipan yang disuruh memilih dua kartu hadiah untuk mereka sendiri terlihat lebih bahagia.

Terakhir, peneliti menanyai partisipan apakah mereka lebih suka mendonasikan uang mereka atau menyimpannya sendiri. Lalu partisipan diberitahu bahwa komputer akan memberitahukan apa yang akan terjadi dengan pilihan itu.

Sekali lagi 40 persen partisipan memilih mendonasikan uangnya untuk amal. Tapi diantara partisipan yang memilih menyimpan uangnya sendiri, partisipan yang percaya bahwa komputer telah memutuskan sesuatu untuk mereka terlihat lebih puas dengan pilihannya.

Lalu apa yang ditunjukkan oleh ketiga studi tersebut? "Orang-orang meraih kebahagiaan dengan melakukan apa yang mereka sukai atau sesuai kepentingan mereka. Dari situ kami menduga alasan di balik mengapa orang bisa merasa tak bahagia dengan perilaku yang egois seperti ini. Hal ini karena terkadang untuk mencapai kebahagiaan itu mereka harus mengorbankan kepentingan orang lain dan banyak individu yang seringkali merasa tak enak hati dengan kondisi semacam ini," terang Berman seperti dilansir dari CNN, Senin(15/10/2012).

Studi ini telah dipublikasikan dalam jurnal Psychological Science.

(ir/ir)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads