Yenny Yunita (Wanita lajang, 21 tahun)
yunita_XXXXX@ymail.com
Tinggi badan 155 cm, berat badan 45 kg
Jawaban
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Perlu diketahui, seorang dokter di dalam menegakkan diagnosis akan melakukan beberapa prosedur, yaitu: anamnesis (bertanya secara mendalam dan terstruktur, salah satunya adalah riwayat atau perjalanan penyakit penderita, dsb), pemeriksaan fisik, pemeriksaan penunjang (bila perlu dan sesuai indikasi), membuat diagnosis banding, menegakkan diagnosis, memberikan terapi dan edukasi, melakukan follow up (berupa pemantauan atau monitoring efektivitas terapi). Berikut ini kami jelaskan beberapa di antaranya secara singkat.
Di dalam literatur atau referensi kedokteran, terminologi “migrainous vertigo” atau disebut juga “migraine-associated vertigo” seringkali memiliki beragam nama di dalam jurnal-publikasi ilmiah, seperti: benign recurrent vertigo, migraine-associated dizziness, migraine-related vertigo, migraine-related vestibulopathy, atau vestibular migraine. Sayangnya definisi pastinya masih belum disepakati secara resmi oleh para ahli.
Tinjauan Neurosains
Hubungan antara vestibular nuclei, sistim saraf trigeminal, dan pusat-pusat pemrosesan thalamocortical menyediakan dasar/landasan pokok untuk perkembangan model patofisiologis dari migraine-related vertigo.
Suatu studi tentang motion sickness dan allodynia pada penderita migrain mendukung pentingnya mekanisme sentral dari sensitisasi untuk kasus migraine-related vestibular symptoms.
Saat sensasi berputar (dizziness) tidak berkaitan erat dengan sakit kepala, maka dizziness sebagai hasil dari pembebasan neuropeptida (yaitu: neuropeptide substance P, neurokinin A, calcitonin gene–related peptide [CGRP]). Pembebasan neuropeptide memiliki suatu efek excitatory pada baseline firing rate dari jaringan epitel sensoris telingan bagian dalam (inner ear), seperti halnya pada vestibular nuclei di bagian otak yang disebut pons.
CGRP dan neuropeptida lainnya dapat memproduksi efek mirip hormon yang memanjang (prolonged, hormonelike effect) seperti peptida-peptida ini menyebar (diffuse) menuju ke cairan ekstraseluler. Hal ini menjelaskan mengapa gejala-gejala dapat memanjang pada beberapa penderita migraine-associated vertigo, sebagaimana halnya kasus typical progression dari persistent spontaneous vertigo, yang diikuti oleh benign positional vertigo dan kemudian sensitivitas pergerakan.
Epidemiologi
Vertigo episodik dialami oleh sekitar 25-35% penderita migrain. Sekitar 3-3,5% orang Amerika Serikat menderita vertigo episodik dan migrain.
Referensi lain menyebutkan bahwa vertigo dijumpai tiga kali lebih sering pada penderita migrain dibandingkan bukan penderita. Prevalensi migrain sekitar 30-50% dijumpai pada penderita vertigo. Angka ini tentunya masih memerlukan riset lanjutan (misalnya: controlled study) sebagai konfirmasi.
Riwayat (Perjalanan) Penyakit
Sebelum menegakkan diagnosis, maka dokter akan bertanya tentang 'sejarah' atau riwayat medis terdahulu, terutama yang berkaitan dengan:
1. penyakit sistim persarafan (neurologis), 2. patologi otologis (penyakit THT), 3. patologi servikal (penyakit cedera leher) yang serius, 4. trauma (cedera, benturan) kepala signifikan, 5. penyakit gondongan (mumps, parotitis epidemika), 6. sifilis (raja singa), 7. paparan ototoksik (seperti: bising, sering mendengar suara gaduh, memakai walkman atau earphone, sering tidaknya memakai obat/tetes telinga, dsb), 8. permasalahan medis umum, seperti: hipotensi, hipertensi, gangguan koagulasi (pembekuan, pengentalan darah), sindrom hiperviskositas, gangguan yang berkenaan dengan sistim endokrin, autoimun (sistim kekebalan tubuh), dan kardiovaskuler (jantung pembuluh darah).
Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan fisik medis dilakukan secara komprehensif, termasuk: pemeriksaan neuro-otologis pergerakan mata, manuver posisional Hallpike, investigasi audiovestivuler, DC elektrookulografi, tes kalori bitermal Fitzgerald-Hallpike, penilaian elektro-okulografis, otoskopi. Dilakukan respon batang otak auditori bila ada indikasi yang mengarah ke patologi retrokoklear.
Tes vestibuler seperti computerized dynamic posturography (CDP) dapat memberikan hasil positif untuk ketidakstabilan postur, terutama bila digunakan sebagai kombinasi dengan gerakan kepala untuk tugas/kerja ganda.
Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan/tes darah dilakukan sesuai indikasi dan rekomendasi dokter, misalnya: skrining hematologi, laju endap darah, tes fungsi hati, elektrolit, glukosa, lipid, serologi lues, tes fungsi tiroid, kalsium, alkalin fosfatase, studi autoimun, lupus antikoagulan dan skrining koagulasi (faktor pembekuan darah). Pemeriksaan pencitraan berupa elektrofisiologi dan neuroimaging dilakukan untuk menegakkan diagnosis bila diperlukan.
Potret Klinis
Diagnosis pasti migrainous vertigo ditegakkan dokter berdasarkan kriteria berikut ini:
1. gejala vestibuler episodik setidaknya dengan tingkat keparahan sedang (vertigo rotasional, gangguan ilusi atau pergerakan objek, vertigo posisional, intoleransi gerakan kepala yaitu: sensasi ketidakseimbangan ("illusory self") atau gerakan (atau bergeraknya) objek yang dipicu oleh gerakan kepala.
2. migrain berdasarkan kriteria IHS (The International Headache Society)
3. setidaknya satu dari gejala-gejala migrain berikut ini yang muncul selama sekurangnya dua serangan vertigo: sakit kepala migrain, fotofobia, fonofobia, aura visual atau lainnya.
4. penyebab-penyebab lainnya yang disingkirkan oleh investigasi yang sesuai.
Gejala-gejala keseimbangan (vestibular symptoms) didefinisikan sebagai “ringan” jika tidak mengganggu aktivitas-rutinitas harian, “sedang” jika agak mengganggu namun tidak menghalangi aktivitas harian, dan “berat” jika penderita tidak dapat melanjutkan beraktivitas. Pusing yang bukan karena gangguan keseimbangan (nonvestibular dizziness), seperti: orthostatic hypotension, yang seringkali terjadi selama serangan migrain, tidak termasuk.
Orthostatic hypotension (disebut juga postural hypotension) adalah penurunan tekanan darah sistolik 20 mmHg atau penurunan tekanan darah diastolik 10 mmHg dalam waktu tiga menit saat berdiri dibandingkan dengan tekanan darah saat posisi duduk atau telentang (terbaring).
Di dalam praktik atau kehidupan sehari-hari, umumnya penderita migrainous vertigo mengalami hal-hal seperti di bawah ini:
1. vertigo yang umumnya berdurasi 5-60 menit (33%). Meskipun beberapa penderita hanya mengalami vertigo selama beberapa detik hingga 5 menit (18), satu jam hingga satu hari (21%), atau lebih dari satu hari (27%).
2. gejala migrain selama vertigo, misalnya:
a. sakit kepala migrain (94%) yang meliputi selalu (45%) dan terkadang (48%), b. tidak ada sakit kepala (6%), c. fotofobia yaitu sensitif terhadap cahaya (70%), d. fonofobia yaitu sensitif terhadap bunyi/suara (64%), e. aura visual atau lainnya (36%)
Diagnosis 'migrainous vertigo' dapat menjadi sensasi dan tantangan tersendiri bagi dokter ketika sakit kepala bukanlah suatu penyerta yang teratur dari serangan vertigo.
Terapi dan Pencegahan
Obat hanya boleh direkomendasikan oleh dokter.
Penderita migrainous vertigo direkomendasikan untuk mengurangi atau meminimalkan (lebih baik berhenti sementara selama sakit) konsumsi: minuman beralkohol, makanan yang mengandung monosodium glutamate (MSG), keju-coklat (serta produk olahan atau variannya), dan aspartame. Terapi rehabilitasi vestibular direkomendasikan ketika dijumpai disekuilibrium terkait pergerakan. Terapi medis pencegahan (prophylactic pharmacotherapy) dapat direkomendasikan dokter bila migrainous vertigo atau migraine-associated vertigo terjadi beberapa kali dalam sebulan, berlanjut selama lebih dari beberapa minggu atau beberapa bulan (berbulan-bulan), atau sangat mempengaruhi gaya hidup, kegiatan, dan rutinitas penderita sehari-harinya.
Demikian penjelasan kami, semoga bermanfaat.
Salam sehat dan sukses selalu.
Dokter Dito Anurogo
Dokter online (dokter digital), konsultan detik.com, penulis 13 buku, salah satunya “5 Menit Memahami 55 Problematika Kesehatan”. Juara pertama kompetisi “2013 World Young Doctors’ Organization (WYDO) Indonesia Essay Contest Award”. Delegasi konggres kedua Diaspora Indonesia 2013. Saat ini mengabdi dan berkarya di Neuroscience Department, Brain Circulation Institute of Indonesia, Surya University (BCII SU), Indonesia.
(hrn/up)











































