Doyan Beli Obat Online yang Murah, Nyawa Bisa Jadi Taruhannya

Doyan Beli Obat Online yang Murah, Nyawa Bisa Jadi Taruhannya

Tsalis Annisa - detikHealth
Selasa, 27 Agu 2013 17:04 WIB
Doyan Beli Obat Online yang Murah, Nyawa Bisa Jadi Taruhannya
ilustrasi (Foto: Getty Images)
Jakarta -

Teknologi yang semakin meningkat dan penggunaan smartphone yang semakin menawarkan kemudahan untuk mendapatkan segala macam barang yang kita inginkan ternyata tidak lepas dari dampak negatif. Hal ini ditandai dengan semakin banyaknya obat yang dijual di internet, dengan segudang janji palsu yang ternyata bisa mematikan.

Meningkatnya obat palsu terjadi karena meningkatnya penjualan melalui internet. Masalah ini sudah mencapai tingkat internasional, karena di Eropa dan Amerika pun hal ini juga terjadi.

"Kami juga berusaha meningkatkan awareness masyarakat untuk tidak ikut-ikutan beli obat online," jelas Deputi Bidang Pengawasan Produk Terapetik dan NAPZA, Antonia Retno Tyas Utami. Hal ini disampaikan di acara talkshow yang diadakan BPOM, di Aula Gedung Mandiri Club, Jakarta Selatan. Pada Selasa, 27/8/2013).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Jangan tergiur oleh harga murah. Karena hanya pemalsu yang bisa bikin harga murah. Selain itu toko obat dilarang menjual obat keras. Jadi kalau ada obat keras yang dijual di toko obat, itu palsu," kata Retno.

Hal yang perlu diperhatikan juga adalah kandungan dari obat palsu tersebut karena bisa jadi obat itu tidak hanya mengandung setengah dosis dari yang seharusnya, bahkan bisa saja berisi zat lain yang berbahaya.

"Kandungan dalam obat palsu itu gimana kita kan tidak tahu, yang pernah diuji oleh BPOM, isi sama tapi banyak pengotornya. Selain itu ada juga yang dosisnya hanya setengah atau bahkan berisi zat lain yang berbahaya," ujar Retno.

Hal yang lebih mencengangkan lagi, peredaran obat palsu juga semakin meningkat lebih dari 20% pada tahun ini. Jenis obat yang paling sering diedarkan adalah obat-obat untuk lifestyle, seperti obat langsing, obat penambah stamina, lalu untuk disfungsi ereksi. Selain itu, tidak menutup kemungkinan obat-obat keras atau obat-obat penyakit kronis yang banyak ditakuti orang, juga ikut dipalsukan.

Sementara itu Retno juga menyampaikan mengapa obat generik bisa lebih murah. Hal ini dikarenakan adanya biaya-biaya yang tidak dikeluarkan seperti biaya kemasan dan promosi.

"Pada generik, harga dikendalikan pemerintah. Kalau bahan, mutu sama dengan yang bermerek. Tidak ada promosi, dan kemasan dibuat sama. Sehingga biaya yang dihilangkan itu yang buat obat ini murah," jelas Retno.

Tidak hanya obat dalam yang diminum, ternyata obat suntik juga tidak luput dari para pemalsu. Sudah sejak lama, banyak kios-kios obat yang menjual obat suntik, khususnya obat suntik untuk kecantikan. Seperti vitamin C ataupun placenta.

Ternyata obat suntik pada BPOM termasuk obat keras. Di mana seharusnya pada kemasan obat suntik tersebut tercantum red dot (tanda bulat merah), dan tidak dijual bebas.

"Di badan POM, obat suntik selalu obat keras. Nah, kalau tidak ada red dot, kemungkinan palsu. Red dot bisa di copy. Jadi bisa dilihat dari nomor batch yang di-print di embos berbeda dengan tulisan kemasan. Meskipun murah, jangan tergiur dengan melakukan suntik cantik di salon atau memanggil suster. Karena tetap bisa bahaya," tutup Retno.

(mer/mer)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads