Video game dapat digunakan untuk mendeteksi tanda-tanda penyakit Alzheimer. Selain digunakan untuk mendeteksi Alzheimer, game juga digadang dapat digunakan untuk memantau perkembangan penyakit dan efektivitas terapi yang dijalani pasien. Demikian klaim para peneliti sebagaimana dikutip dari Daily Mail, Selasa (14/1/2014).
Seperti apa game yang digunakan oleh para peneliti? Game tersebut merupakan sebuah game mengemudi. Saat memainkan game, pemain harus konsentrasi menyetir sembari menembaki rambu-rambu yang ditemui. Game tersebut dirancang agar pemainnya mampu merencanakan, membuat keputusan, juga menangani distraksi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Akili Interactive Labs mengatakan bahwa ini adalah untuk pertama kalinya perusahaan farmasi menggunakan video game sebagai piranti klinis untuk mendeteksi tanda-tanda dini penyakit saraf yang bersifat degeneratif.
Sebagai bagian dari percobaan, para ahli meneliti 100 lansia. Lansia-lansia tersebut sebagian terindikasi amiloid dan sebagian sisanya tidak terindikasi. Seperti yang telah diketahui, amiloid adalah penyebab utama kerusakan sistem otak yang turut ambil bagian dalam perkembangan Alzheimer. Mereka yang pada otaknya terdapat amiloid berarti berisiko tinggi terkena Alzheimer, sedang yang tidak terdapat amiloid pada otaknya berarti berisiko rendah.
Kemampuan kognitif partisipan pada awal penelitian diuji dengan Project: EVO, video game keluaran Akili Interactive Labs. Demikian pula satu bulan berikutnya selama penelitian berlangsung, mereka akan diuji dengan game yang beroperasi di iPhone dan iPad tersebut.
Seperti telah diketahui, kesulitan dalam memerhatikan, merencanakan, serta membuat keputusan adalah gejala umum dari berbagai penyakit degeneratif seperti Alzheimer, ADHD, autisme, dan depresi. Di sisi lain game besutan Akili Interactive Labs itu didesain untuk mengukur dan mengembangkan kemampuan partisipan dalam mengatasi gangguan dan distraksi. Game itu diharapkan berpengaruh pada kemampuan mereka untuk memerhatikan, merencanakan, dan membuat keputusan.
Peneliti berharap dengan penelitian itu mereka bisa mengetahui apakah game benar-benar dapat digunakan sebagai sarana deteksi dini Alzheimer.
Menanggapi gagasan para ilmuwan, Michael Ehlers, Wakil Pimpian Senior dan Kepala Bidang Sains di Unit Penelitian Neurosains berunjuk suara. Menurutnya game tersebut merupakan terobosan potensial dalam penelitian mengenai Alzheimer.
"Sebuah piranti yang memungkinkan untuk melakukan pemantauan kognitif terhadap pemeriksaan dan pengujian klinis pasien, merupakan hal yang potensial dalam perkembangan penelitian Alzheimer secara lebih luas," ungkap Ehlers.
Alzheimer merupakan tanda umum dari demensia. Gejala umumnya adalah hilangnya ingatan dan hilangnya kemampuan intelektual lain yang berdampak serius pada kehidupan sehari-hari. Pasien bisa melupakan hal-hal penting seperti jalan pulang, di mana mereka berada, bahkan identitas diri. Di Inggris, sekitar 650.000 orang menderita Alzheimer dan kebanyakan berusia lebih dari 65 tahun.
Hingga sebelum ini, belum ada tes yang secara efisien dapat mendiagnosis Alzheimer. Dokter harus mendiagnosis dengan menggunakan penilaian subjektif terhadap gejala yang dialami pasien. Peneliti berharap, hasil penelitian ini dapat memberi jalan baru untuk mendeteksi Alzheimer.
(/)










































