Operasi Pembesaran Payudara, Otak Ibu Muda Ini Malah Rusak dan Lumpuh

Operasi Pembesaran Payudara, Otak Ibu Muda Ini Malah Rusak dan Lumpuh

- detikHealth
Selasa, 04 Feb 2014 17:30 WIB
Operasi Pembesaran Payudara, Otak Ibu Muda Ini Malah Rusak dan Lumpuh
Linda Perez sebelum dioperasi (Foto: NY Daily News)
Florida - Ibu muda ini hanya ingin tampil menarik ketika memutuskan untuk melakukan operasi pembesaran payudara pada bulan Agustus tahun lalu. Namun satu jam setelah operasi ia malah lumpuh dan mengalami kerusakan otak.

Saat itu tanggal 12 Agustus 2013, Linda Perez memutuskan untuk melakukan operasi di Coral Gables Cosmetic Center, Miami, Florida dengan potongan harga yang cukup fantastis sehingga ia hanya membayar 2.100 dollar AS (sekitar Rp 25,6 juta).

Namun tampaknya harga itu harus dibayar mahal oleh Linda karena satu jam pasca operasi, Linda malah mengalami sejumlah komplikasi yang membuat otak dan jantungnya mengalami kerusakan. Linda juga koma hingga bulan Oktober 2013.

Mengetahui kondisinya yang seperti itu, wanita asal Homestead, Florida itu pun mengalami depresi hebat dan frustrasi. Tubuhnya menjadi kurus kering seperti bukan Linda yang dulu dikenal cantik dan menawan bagi banyak orang.

Sang pengacara, Mark Eiglarsh mengisahkan setelah kliennya terbangun dari koma, fisiknya pun tak bisa kembali ke kondisi semula. "Ia harus dirawat selama 24 jam. Ia tak bisa makan, mandi dan ke kamar kecil seorang diri. Ini belum termasuk tak bisa berbicara atau berjalan, apalagi mengurus putranya yang masih kecil. Ibunya juga mengatakan keadaan putrinya tak ada bedanya dengan bayi yang tak bisa berbuat apa-apa," urainya.

Yang lebih menyedihkan, tak ada yang tahu apa yang membuat Linda lumpuh total seperti ini. Tapi menurut Mark, ini jelas kesalahan klinik yang mengoperasi Linda.

"Seseorang berusia 18 tahun dan sehat seharusnya bisa-bisa saja menjalani prosedur operasi rutin dan tidak berakhir dalam keadaan vegetatif seperti ini," debatnya seperti dilansir NY Daily News, Selasa (4/2/2014).

Tak sependapat, pengacara dari Coral Gables Cosmetic Center, Kubs Lalchandani mengatakan tampaknya ada masalah dengan kesehatan Linda di masa lalu yang mungkin tak diketahui Linda ataupun keluarganya.

Dalam sebuah laporan yang diisi oleh dokter bedah yang menangani Linda, Dr Jacob Freiman tertulis bahwa gangguan kesehatan yang dialami Linda pasca operasi sama persis dengan yang pernah dialaminya ketika melahirkan, dan ia telah memastikannya lewat keterangan yang diperoleh dari salah satu dokter yang pernah menangani wanita berusia 18 tahun itu.

"Mereka memberinya anestesi spinal dan ia butuh diintubasi (saat melahirkan)," tulis Dr Jacob dalam laporan terkait kondisi Linda pasca melahirkan putranya. dr Jacob percaya Linda menyembunyikan informasi ini darinya agar ia tetap dioperasi.

Tentu saja hal ini dibantah oleh Mark yang mengklaim kliennya tak tahu bahwa ia pernah mengalami komplikasi akibat obat bius di masa lalu. "Kami telah memeriksa rekam medisnya saat melahirkan. Saat itu ia mendapatkan epidural tapi tanpa anestesi. Tudingan bahwa klien saya mempunyai reaksi negatif terhadap anestesi hanya dibuat-buat oleh pengacara klinik itu untuk menyalahkan klien kami dan menghindar dari tanggung jawabnya," tegas Mark.

Bagaimana dengan dokter bedahnya? Dr Jacob sendiri telah mengantongi sertifikat dari American Board of Plastic Surgery dan tak punya riwayat malpraktik dari pasien-pasiennya. Namun lain halnya dengan salah satu dokter anestesi yang terlibat dalam operasi Linda.

Belakangan baru diketahui bila di tahun 2006, dokter bernama Dr Mario Alberto Diaz tersebut pernah mendapat hukuman kurungan selama 30 bulan dan dua tahun masa percobaan setelah melakukan praktik penjualan obat online secara ilegal di Iowa.

Diaz juga pernah menjadi tersangka malpraktik yang mengakibatkan kematian seorang wanita berusia 35 tahun pasca operasi pembesaran pantat.

"Meski surat izinnya masih aktif, tapi ia tak lagi bekerja di klinik kami," tutur Lalchandani. Kendati begitu Mark tetap berencana melayangkan gugatan hukum kepada klinik tersebut akibat kerusakan otak dan kelumpuhan yang dialami kliennya.



(lil/vit)

Berita Terkait