Takut Kuman, Bagi Wanita Ini Kencan adalah Aktivitas Mengerikan

Takut Kuman, Bagi Wanita Ini Kencan adalah Aktivitas Mengerikan

- detikHealth
Kamis, 13 Mar 2014 11:48 WIB
Takut Kuman, Bagi Wanita Ini Kencan adalah Aktivitas Mengerikan
Foto: Mercury Press & Media
Jakarta - Waspada terhadap serangan kuman dapat membuat seseorang terhindar dari penyakit. Tapi bagaimana jika kewaspadaan itu terlalu ekstrem sampai membuat seseorang enggan keluar rumah atau berinteraksi dengan orang lain?

Ketakutan ekstrem semacam itu dialami oleh Heather Bayliss. Karena takut bersosialisasi dan takut kuman, wanita berusia 39 tahun itu hanya keluar rumah untuk berbelanja atau menemui ibunya saja. Demikian dikutip dari Daily Mail, Kamis (13/3/2014).

Akibatnya hingga kini ia kesulitan mencari pasangan hidup yang tepat. Bagaimana tidak, rasa ngeri terhadap kuman menyebabkan wanita itu juga alergi pada cinta. Ia enggan berpegangan tangan, berpelukan, apalagi berciuman. Baginya, kencan adalah momen yang sangat menakutkan.

"Ketakutan terhadap kuman membuat saya enggan keluar untuk makan di tempat umum. Bahkan, hal sederhana seperti duduk di bangku umum membut saya ketakutan. Ketakutan terbesar saya adalah terkontaminasi kuman dari orang lain. Jadi, tidak boleh ada interaksi fisik, tidak ada pelukan, ciuman, atau sentuhan tangan," tuturnya.

Gangguan yang dialami Bayliss adalah sindrom Asperger, suatu bentuk autisme yang menyebabkan seseorang kesulitan berinteraksi dengan orang lain. Sindrom Asperger membuat Bayliss stres ketika bertemu dengan orang-orang baru, mengalami kontak mata, atau berada di area publik.

Tapi ujar wanita itu, yang paling membuatnya kesulitan menjalani hidup sekaligus mendapat pasangan adalah gangguan obsesif kompulsif atau obsessive compulsive disorder (OCD). OCD menyebabkan wanita itu selalu merasa takut setiap saat.

"OCD seperti bola salju, perlahan-lahan berkembang semakin cepat dan dalam beberapa tahun membuat segalanya semakin memburuk. Semakin tua usia saya, semakin banyak hal yang saya takuti."

Dalam lima tahun terakhir, gangguan yang dialami Bayliss semakin parah. Ia pun memutuskan untuk mencari teman kencan melalui dunia maya. Ia berharap cara itu dapat mempertemukannya dengan pria yang tepat.

Sayangnya ia justru menghadapi kesulitan lain. Ia tidak dapat menentukan kapan saat yang tepat untuk mengutarakn dua gangguan yang ia alami.

Ketika ia mencantumkan sindrom Asperger dan OCD di profilnya, tak ada satu pun pria yang mengiriminya pesan. Ketika ia menyembunyikan gangguan itu, beberapa orang tertarik dan kemudian berbincang-cincang dengannya. Namun ketika Bayliss mengutarakan kondisi yang sebenarnya, pria tersebut menghilang tanpa jejak.

Menanggapi kasus itu, Caroline Hattersley dari Komunitas Autistik Nasional beranggapan bahwa seharusnya penderita sindrom Asperger tidak dijauhi. Mereka seharusnya diberi dukungan agar tidak semakin terasing.

(vit/vit)

Berita Terkait