Ialah Jean Claude Nkusi, lelaki asal Kigali, Rwanda, yang memiliki 24 orang anak. Ia tidak menikah dini, istrinya tidak melahirkan banyak anak kembar, dan ia tidak menyumbangkan spermanya kepada beberapa pasangan lain. Lantas, mengapa pria semuda itu bisa memiliki banyak anak?
Keluarga Nkusi berbeda dengan keluarga lain, mereka memiliki sejarah panjang nan kelam. Dari 24 orang anak, tidak ada satu pun yang mewarisi DNA Nkusi. Satu-satunya hal yang membentuk hubungan kekerabatan itu adalah karena mereka merupakan survivor pembunuhan massal yang terjadi pada tahun 1994, yang menewaskan 800.000 warga Rwanda.
UNICEFF memperkirakan 95.000 anak menjadi yatim piatu akibat peristiwa itu. Mayoritas mereka pernah menyaksikan pembunuhan, mengalami luka, menjadi korban kekerasan, atau pemerkosaan. Masalah itu terus berlanjut, dan pada tahun 2001, sebanyak 264.000 anak Rwanda kehilangan salah satu atau kedua orangtua mereka akibat AIDS. Penyakit itu menyebar melalui pemerkosaan yang marak terjadi selama genosida.
Kini, banyak dari mereka yang menderita kemiskinan, menjadi tunawisma, mengalami trauma, terlibat masalah hukum, dan dirampas haknya. Juga banyak dari mereka yang masih mengemban luka fisik maupun mental dari masa lalu, sehingga mengalami kesulitan belajar, sukar menjaga hubungan, atau terjerat oleh narkoba dan alkohol.
Itulah alasan mengapa para korban genosida di Rwanda membutuhkan keluarga. Sebab dengan memiliki sebuah keluarga, meski hanya buatan, akan meringankan beban mereka. Keluarga buatan itu digagas oleh Association for Student Genocide Survivors (AERG), sebuah organisasi yang diprakarsai oleh 12 mahasiswa Universitas Rwanda pada tahun 1996.
"Kami, orang Rwanda, dulu memiliki keluarga yang besar. Tetapi selama masa genosida, banyak orang yang terbunuh," ujar Daniel Tuyizere, wakil koordinator di Universitas Rwanda.
"Untuk mengatasi itu, kami harus membentuk keluarga buatan sehingga kami bisa kembali seperti semula. Itulah mengapa Anda bisa menemukan ayah dengan 25 anak. Itulah kenapa, itu dibentuk oleh sejarah," tambahnya.
AERG menciptakan keluarga berdasarkan sekolah atau universitas. Konsepnya ialah agar para survivor genosida memiliki seseorang yang peduli, yang bersedia membantu, dan ada untuk berbagi kebahagiaan.
Keluarga baru itu kemudian akan berkumpul untuk memilih ayah dan ibu. Meski tidak seluruh anggota keluarga hidup bersama, mereka saling bahu membahu. Di Fakultas Pendidikan Universitas Rwanda sendiri terdapat 21 keluarga bentukan, termasuk keluarga Nkusi. Ratusan keluarga bentukan lain tersebar di seluruh negeri.
Meski lebih muda dari beberapa anaknya, Nkusi berusaha memenuhi tanggung jawab yang harus ia emban. Ia menamai keluarganya, Urumuri, yang berarti mencerahkan.
"Anda harus tahu kondisi setiap anak Anda, apakah mereka bisa belajar tanpa kesulitan, apakah mendapat cukup makan, semua aspek kehidupan sehari-hari. Jika salah satu dari mereka ada yang sakit, saya harus menjadi orang pertama yang mengetahuinya," tutur Nkusi seperti dilansir CNN dan ditulis pada Jumat (25/4/2014).
(vit/vit)











































