Skoliosis dengan Lengkungan Lebih dari 40 Derajat Ganggu Fungsi Organ

Inspirasi Gadis Skoliosis

Skoliosis dengan Lengkungan Lebih dari 40 Derajat Ganggu Fungsi Organ

- detikHealth
Senin, 18 Agu 2014 16:03 WIB
Skoliosis dengan Lengkungan Lebih dari 40 Derajat Ganggu Fungsi Organ
Foto rontgen Ardha (Dok: Pribadi)
Jakarta - Dwi Setya Wardhani (26) alias Ardha menderita skoliosis dengan kelengkungan mencapai 144 derajat. Kondisinya dikategorikan ekstrem karena lebih dari 40 derajat sudah bisa mengganggu organ-organ di dalam tubuh.

Gangguan yang dialami gadis asal Mojokerto Jawa Timur ini antara lain kolapsnya paru-paru karena terjepit tulang belakang yang melengkung ke depan hingga menonjol di bagian dada kanan. Lambungnya pun sulit menerima makanan sehingga Ardha mengalami kurang gizi.

"Kebengkokan tulang yang sudah mencapai lebih dari 40 derajat akan mengganggu organ-organ di sekitarnya. Misalnya, jantung yang terjepit tulang bisa membuat pasien berisiko terkena serangan jantung atau paru-paru yang terjepit membuat pasien sulit bernapas," kata Dr dr Rahyussalim, SpOT(K), seorang dokter ortopedi yang berpraktik di RS Cipto Mangunkusumo.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dijelaskan oleh dr Salim, tingkat keparahan skoliosis ditentukan berdasarkan derajat kelengkungan tulang. Di bawah 20 derajat dikategorikan ringan, 20-40 derajat dikategorikan sedang, sedangkan di atas 40 derajat bisa disebut berat. Ardha mengalami kondisi ekstrem, sebab kelengkungannya mencapai 144 derajat.

Bukan dengan pijat asal-asalan, skoliosis hanya bisa diperbaiki dengan penguatan otot atau bahkan operasi. Tindakan medis bisa dilakukan untuk mengoreksi kurva kelengkungan agar derajatnya menjadi lebih kecil sehingga tidak mengganggu organ di sekitarnya.

"Pijat asal-asalan justru akan memperparah kondisi pasien," kata Tri Kurniawati, Wakil Ketua Masyarakat Skoliosis Indonesia (MSI), ditemui di UPT Teknologi Kedokteran Sel Punca, RS Cipto Mangunkusumo, seperti ditulis Senin (28/8/2014).

Koreksi kelengkungan bisa juga dilakukan dengan pemasangan rompi atau brace. Tindakan ini dilakukan untuk menahan progres kebengkokan tulang yang mencapai 10-15 derajat dalam 1 tahun. Hanya saja, pemakaian brace masih kontroversial karena mengorbankan kenyamanan pasien.

Untuk menjalani operasi, keluarga pasien terkadang dibayang-bayangi ketakutan akan risiko kelumpuhan. Beruntung, teknologi kedokteran sudah begitu canggih dan rumah sakit di Indonesia umumnya sudah bisa mengatasi risiko kelumpuhan maupun bahkan kematian.

(up/up)

Berita Terkait