Ditemui dalam konferensi pers International Workshop on Modern Clinical Radiotherapy (IWMCR) 2014 yang diselenggarakan di RSCM, Kamis (28/7/2014), dr Soehartati Gondhowiardjo, MD, PhD, membenarkan bahwa radioterapi yang baik tak sekadar bermutu, tapi juga aman.
"Pertama, penyakitnya tentu tidak sembuh. Kedua, misalnya terjadi di payudara maka payudara yang tidak perlu diangkat, bisa jadi diangkat. Radiation accident ini tidak boleh terjadi," tutur Kepala Departemen Onkologi Radiologi RSCM ini.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut dr David Djajaputra, dari American Association of Physicist in Medicine (AAPM), ada beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh dokter dan tim medis terkait agar tindakan radioterapi berlangsung sukses, apa saja?
"Pertama, tembak ke tempat yang betul, diperhatikan sinarnya sesuai target. Kedua, porsi radiasinya juga harus pas, kalau kurang ya tumornya nggak mati. Kalau terlalu banyak, tumor mati, jaringan sekitarnya juga mati," tutur dr David.
Yang pasti, dr Soehartati menegaskan bahwa radioterapi diberikan pada pasien bergantung pada organ, penyakit dan lokasinya. "Ada yang cuma sekali, ada juga yang berkali-kali," tutupnya.
(ajg/rdn)











































