24 Tahun Hidup Normal, Susunan Otak Wanita Ini Ternyata Tak Sempurna

24 Tahun Hidup Normal, Susunan Otak Wanita Ini Ternyata Tak Sempurna

- detikHealth
Sabtu, 13 Sep 2014 14:05 WIB
24 Tahun Hidup Normal, Susunan Otak Wanita Ini Ternyata Tak Sempurna
Hasil scan wanita asal Tiongkok (Foto: Livescience)
Jakarta - Seumur hidupnya, wanita muda ini mengaku tak punya masalah kesehatan yang berarti. Namun siapa sangka ternyata ia tak memiliki salah satu bagian otak terpenting manusia, yakni cerebellum.

Kondisi aneh ini baru ditemukan setelah wanita yang dirahasiakan identitasnya ini mendatangi seorang dokter dengan keluhan mual dan muntah-muntah lebih dari sebulan lamanya. Ia juga mengaku terus merasakan pening.

Di masa kecil, wanita ini juga mengisahkan ia baru bisa berjalan di usia empat tahun. Bahkan sampai detik ini, ia pun tak pernah bisa berjalan dengan stabil.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Seperti dikutip dari Livescience, Sabtu (13/9/2014), tim dokter akhirnya melakukan scanning pada otak wanita berusia 24 tahun ini. Secara mengejutkan, di dalam otaknya tak diketemukan salah satu bagian otak terpenting, yaitu cerebellum atau lebih dikenal dengan otak kecil.

Bagian otak inilah yang berperan penting dalam mengkoordinir tubuh manusia agar dapat melakukan berbagai gerakan motorik sehingga mereka bisa berjalan dan berbicara dengan stabil.

"Dari hasil CT scan dan MRI-nya terlihat tidak ada satupun tanda-tanda adanya jaringan cerebellum. Di dalam cairan serebralnya hanya ada lubang menganga besar," tulis salah satu dokter yang menangani kasus ini dalam laporan yang dipublikasikan jurnal Brain baru-baru ini.

Tak hanya itu. Secara umum, orang yang cerebellumnya rusak biasanya mengalami gangguan motorik yang luar biasa. Namun anehnya pada wanita ini, gangguan motorik yang ditemukan tampak ringan hingga sedang dan bicaranya pun hanya sedikit cadel.

Namun ternyata ini bukan kasus pertama di mana seseorang kehilangan cerebellumnya. Selain wanita Tiongkok tadi, ada 8 kasus serupa yang pernah dilaporkan sebelumnya. Hanya saja kasus wanita ini dianggap spesial karena kebanyakan kasusnya terjadi pada bayi atau anak-anak. Itupun biasanya mereka tidak bertahan hidup dalam waktu lama.

"Kasus ini menunjukkan betapa otak orang yang masih muda cenderung jauh lebih fleksibel atau mudah beradaptasi dengan kecacatan. Jadi ketika mereka lahir dalam keadaan kehilangan salah satu bagian penting dalam otak, maka bagian otaknya lainnya akan saling terkoneksi dan mencoba mengimbangi kekurangan tersebut," terang Dr Raj Narayan, seorang profesor di bidang bedah saraf dari North Shore University Hospital, New York. Dr Narayan tidak terlibat dalam studi tentang wanita Tiongkok tersebut.

Akan tetapi Dr Narayan menambahkan, kemampuan tersebut akan berkurang seiring dengan berjalannya waktu. Bila usianya sudah mulai menua, maka otaknya takkan bisa lagi mentolerir kerusakan tersebut.



(lil/vit)

Berita Terkait